Legendary_master
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 20080
- Sejak
- 7 Agt 2007
- Pesan
- 6.934
- Nilai reaksi
- 180
- Poin
- 63
Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannnya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepukan kepadanya.
Suatu hari, kotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri, yang telah banyak melahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut. Dia menghampiri sang pakar dan bertanya "Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya." "Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit", jawab sang pakar.
Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar, pulang kerumah dengan menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Dia ambil sepatu tarinya, dia lemparkan ke gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak akan pernah menari lagi.
Tahun demi tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak yang harus berjuang menghidupi keluarga sepeninggal suaminya. Dia bekerja menjadi pelayan toko. Suatu hari dia mendengar akan ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Si ibu muda dengan tiga anaknya datang ke pagelaran tari tersebut. Nampak di sana sang pakar berada di antara para penari muda di belakang panggung. Seusai acara, ibu ini mendatangi sang pakar tersebut, beliau masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab. Si ibu bertanya, "Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda beberapa tahun silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?"
"Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari dunia tari." jawab sang pakar. Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Tapi sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!"
Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak .... Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya kembali. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa anda mestinya tetap fokus pada impian anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya. Pujian? Anda mengharapkan pujian? Ah, waktu itu anda sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasi, bisa pula melemahkan. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkan anda, agar hal itu bisa melecut anda bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak pantas anda meminta pujian dari orang lain."
"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia.�lanjut sang pakar. 밠ungkin anda sakit hati pada waku itu, tapi sakit hati anda akan cepat hilang begitu anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan anda hari ini tidak akan pernah bisa hilang selama-lamanya.�
Credit 4 Bpk Lurah_Katrok
Suatu hari, kotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri, yang telah banyak melahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut. Dia menghampiri sang pakar dan bertanya "Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya." "Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit", jawab sang pakar.
Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar, pulang kerumah dengan menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Dia ambil sepatu tarinya, dia lemparkan ke gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak akan pernah menari lagi.
Tahun demi tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak yang harus berjuang menghidupi keluarga sepeninggal suaminya. Dia bekerja menjadi pelayan toko. Suatu hari dia mendengar akan ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Si ibu muda dengan tiga anaknya datang ke pagelaran tari tersebut. Nampak di sana sang pakar berada di antara para penari muda di belakang panggung. Seusai acara, ibu ini mendatangi sang pakar tersebut, beliau masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab. Si ibu bertanya, "Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda beberapa tahun silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?"
"Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari dunia tari." jawab sang pakar. Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Tapi sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!"
Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak .... Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya kembali. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa anda mestinya tetap fokus pada impian anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya. Pujian? Anda mengharapkan pujian? Ah, waktu itu anda sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasi, bisa pula melemahkan. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkan anda, agar hal itu bisa melecut anda bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak pantas anda meminta pujian dari orang lain."
"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia.�lanjut sang pakar. 밠ungkin anda sakit hati pada waku itu, tapi sakit hati anda akan cepat hilang begitu anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan anda hari ini tidak akan pernah bisa hilang selama-lamanya.�
cerita ini tampaknya benar.
tapi di satu sisi, si pakar tari itu juga salah.
jika ia benar2 peduli dengan penari berbakat itu,
ia akan mencari penari berbakat itu.
dan lagi,
apa susahnya memotivasi penari berbakat?
motivasi tentu berbeda dengan pujian.
sebagai pakar tari yang sudah menangani banyak penari berbakat,
pasti dia tau apa itu motivasi.
bukan malah mencari alasan logis
sebagai pembenaran atas tindakannya yang salah itu.
reaksi penari itu sangat wajar
karena ia belum berpengalaman.
2 hal yang bisa kita pelajari:
dari sisi penari: tetep fokus pada cita cita.
dari sisi pakar tari: jangan lupa untuk memotivasi orang lain.
Credit 4 Bpk Lurah_Katrok
