Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Suami teman saya pernah jadi korban musibah yg cukup terkenal, karena jadi bahan berita berhari-hari di media nasional. Tidak perlu saya sebutkanlah ya, musibahnya apa. Saya yakin suatu hari nanti teman saya pasti membacanya, cepat atau lambat. Jadi, daripada mengorek luka lama, mendingan ga usah disebut.
Sebetulnya yg jadi teman satu kelas itu adalah istri dari korban. Tapi saya pernah kenal juga dengan suaminya, karena mereka pacaran cukup lama.
Yang tidak mengenakkan, beberapa tahun setelah musibah itu, TKP tempat itu disebut berhantu oleh sebuah tulisan.
Saya bengong setelah membacanya. Bengong membayangkan perasaan teman saya. Alih-alih merasa takut dengan tempat berhantu itu, saya malah merasa marah dengan penulisnya.
Andai saya ini orang kaya, mungkin saya akan bounty-hunting.
Saya yg cuma jadi temannya aja udah emosional, gimana dengan keluarga korban sendiri. Ah, entahlah.
Tidak Ada Arwah Gentayangan
Menurut pak ustadz ya memang begitu. Kalau pun memang ada yg bergentayangan, itu hanyalah jin yg menyerupai saja.
Kalo itu jin, ya udah lah cuekin aja. Jin kan pembohong. Mediumisasi atau apa pun istilahnya, kalau memang benar nyata ada, untuk mengorek keterangan dari si jin itu pun perbuatan sia-sia. Pembohong kok diwawancara. Sungguh wawancara yg tidak menarik sama sekali. Mungkin cuma menarik bagi orang-orang tertentu aja. Saya aja yg IQ-nya cetek merasa ga tertarik, kok, menyimak ocehan pembohong.
Apa pentingnya memberitakan ada hantu bergentayangan di tempat tertentu? Apa manfaatnya? Ini perlu dikorek apa motivasinya.
Tapi yg jelas, orang kayak gini namanya oportunis. Demi kepentingan pribadi dia tega mengerjakan hal-hal yg dapat aja merugikan orang lain.
Tak Perlu Sampai Jadi Kerabat Korban Untuk Mengerti
Yah, semestinya sih begitu. Apa iya harus jadi kerabat korban dulu untuk dapat punya empati?
Soal empati ini, saya ternyata juga harus belajar berempati pada orang yg merasa dapat melihat hantu. Kalau memang dia sanggup melihat hantu, tentu aja orang ini menderita sekali.
Semoga kerabatnya peduli untuk menolong dia, bukannya malah memanfaatkan orang ini demi uang.
Sebetulnya yg jadi teman satu kelas itu adalah istri dari korban. Tapi saya pernah kenal juga dengan suaminya, karena mereka pacaran cukup lama.
Yang tidak mengenakkan, beberapa tahun setelah musibah itu, TKP tempat itu disebut berhantu oleh sebuah tulisan.
Saya bengong setelah membacanya. Bengong membayangkan perasaan teman saya. Alih-alih merasa takut dengan tempat berhantu itu, saya malah merasa marah dengan penulisnya.
Andai saya ini orang kaya, mungkin saya akan bounty-hunting.
Saya yg cuma jadi temannya aja udah emosional, gimana dengan keluarga korban sendiri. Ah, entahlah.
Tidak Ada Arwah Gentayangan
Menurut pak ustadz ya memang begitu. Kalau pun memang ada yg bergentayangan, itu hanyalah jin yg menyerupai saja.
Kalo itu jin, ya udah lah cuekin aja. Jin kan pembohong. Mediumisasi atau apa pun istilahnya, kalau memang benar nyata ada, untuk mengorek keterangan dari si jin itu pun perbuatan sia-sia. Pembohong kok diwawancara. Sungguh wawancara yg tidak menarik sama sekali. Mungkin cuma menarik bagi orang-orang tertentu aja. Saya aja yg IQ-nya cetek merasa ga tertarik, kok, menyimak ocehan pembohong.
Apa pentingnya memberitakan ada hantu bergentayangan di tempat tertentu? Apa manfaatnya? Ini perlu dikorek apa motivasinya.
Tapi yg jelas, orang kayak gini namanya oportunis. Demi kepentingan pribadi dia tega mengerjakan hal-hal yg dapat aja merugikan orang lain.
Tak Perlu Sampai Jadi Kerabat Korban Untuk Mengerti
Yah, semestinya sih begitu. Apa iya harus jadi kerabat korban dulu untuk dapat punya empati?
Soal empati ini, saya ternyata juga harus belajar berempati pada orang yg merasa dapat melihat hantu. Kalau memang dia sanggup melihat hantu, tentu aja orang ini menderita sekali.
Semoga kerabatnya peduli untuk menolong dia, bukannya malah memanfaatkan orang ini demi uang.