kesakesa
IndoForum Beginner B
- No. Urut
- 14027
- Sejak
- 12 Apr 2007
- Pesan
- 1.025
- Nilai reaksi
- 127
- Poin
- 63
Saat sapaan itu terucap,
jiwaku bagai sungai yang telah letih mengalir bersua samudra raya.
Hatiku bagai lautan yang telah lelah bergejolak bersua sepoinya napas ibu persada.
Saat sapaan itu mengalun,
hanya damai yang menyelimutiku erat
dan hawa rumah-Mu yang kuhirup lekat.
Sang Purnama menunduk anggun di tahtanya,
dan bintang-bintang pun bertekuk lutut dalam pendarnya
manakala nama-Mu menghiasi langit-langit duniaku.
Selalu seteduh ini,
saat mengetahui Engkau mengizinkan aku
menutup satu lembaran hariku lagi dengan menyebut nama kudus-Mu,
nama yang harusnya tak layak terucap oleh bibir tubuh penuh cela ini,
karena diriku adalah hari-hari yang lebih sering terbelenggu oleh malam-malamnya sendiri.
Namun selalu seteduh ini, karena aku tahu Engkaulah pelita harapan saat rembulan asaku meredup,
dan fajar cinta kasih saat malam ketakberdayaan mendekapku.
Maka izinkan aku pula panjatkan baris-baris pintaku bersama kepak sayap peri malam
dan senandung yang masih terjaga.
Dengarlah nyanyianku yang mengalun bersama gemuruh awan-awan,
dengkuran bumi pijakanku dan harapan yang tengah merajut mimpi.
Biarlah firman-Mu jadi selimut penghangatku,
biarlah sentuhan-Mu jadi tilam pelepas lelahku dan jemari-Mu jadi benteng penjagaku.
Karena di dalam tangan-Mu ada jiwaku, ada hatiku, ada budiku dan ada ragaku.
Biarlah jubah-Mu menjadi kemah perlindungan anak-anak-Mu dari ancaman
sang kelam yang tak lelah mengintai.
Semoga semua milikku masih dalam tangan-Mu di semua hari esokku,
dan semoga esok hari dunia lebih indah dibanding penghujung malam ini.
Saat sapaan ini terucap,
duniaku pun ada dalam buaian-Mu.
Good Night My Lord....
jiwaku bagai sungai yang telah letih mengalir bersua samudra raya.
Hatiku bagai lautan yang telah lelah bergejolak bersua sepoinya napas ibu persada.
Saat sapaan itu mengalun,
hanya damai yang menyelimutiku erat
dan hawa rumah-Mu yang kuhirup lekat.
Sang Purnama menunduk anggun di tahtanya,
dan bintang-bintang pun bertekuk lutut dalam pendarnya
manakala nama-Mu menghiasi langit-langit duniaku.
Selalu seteduh ini,
saat mengetahui Engkau mengizinkan aku
menutup satu lembaran hariku lagi dengan menyebut nama kudus-Mu,
nama yang harusnya tak layak terucap oleh bibir tubuh penuh cela ini,
karena diriku adalah hari-hari yang lebih sering terbelenggu oleh malam-malamnya sendiri.
Namun selalu seteduh ini, karena aku tahu Engkaulah pelita harapan saat rembulan asaku meredup,
dan fajar cinta kasih saat malam ketakberdayaan mendekapku.
Maka izinkan aku pula panjatkan baris-baris pintaku bersama kepak sayap peri malam
dan senandung yang masih terjaga.
Dengarlah nyanyianku yang mengalun bersama gemuruh awan-awan,
dengkuran bumi pijakanku dan harapan yang tengah merajut mimpi.
Biarlah firman-Mu jadi selimut penghangatku,
biarlah sentuhan-Mu jadi tilam pelepas lelahku dan jemari-Mu jadi benteng penjagaku.
Karena di dalam tangan-Mu ada jiwaku, ada hatiku, ada budiku dan ada ragaku.
Biarlah jubah-Mu menjadi kemah perlindungan anak-anak-Mu dari ancaman
sang kelam yang tak lelah mengintai.
Semoga semua milikku masih dalam tangan-Mu di semua hari esokku,
dan semoga esok hari dunia lebih indah dibanding penghujung malam ini.
Saat sapaan ini terucap,
duniaku pun ada dalam buaian-Mu.
Good Night My Lord....