baehaqi
IndoForum Senior E
- No. Urut
- 13414
- Sejak
- 29 Mar 2007
- Pesan
- 4.073
- Nilai reaksi
- 306
- Poin
- 83
Gambir, Warta Kota
Pemerintah Kota Jakarta Pusat (Jakpus) pada awal November mendatang, akan mensterilkan kawasan Monas dari delman. Selanjutnya seluruh delman yang berjumlah kurang lebih 50 an unit ini akan direlokasi ke kawasan Taman Margasatwa Ragunan (TMR) Jakarta Selatan.
Wakil Walikota Jakarta Pusat, Rospen Sitinjak, mengatakan, selama ini para kusir delman meminta agar mereka segera diberikan tempat penampungan, jika harus hengkang dari kawasan Monas.
Oleh karena itu, Pemkot Jakarta Pusat langsung berkoordinasi dengan pengelola TMR Ragunan dan Sudin pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Selatan. Hasilnya, tempat penampungan akan disediakan di kawasan TMR.
"Selama ini, mereka minta diberi tempat penampungan, sekarang kami sediakan. Jadi mereka harus pindah," ujar Rospen Sitindjak, Jumat (23/10), seperti dilansir Beritajakarta.com.
Pemindahan delman dari kawasan Monas ke TMR dinilai sudah tepat, sebab selain mendapatkan kontrol kesehatan hewan dari pengelola, waktu operasional TMR pun dibuka selama sepekan penuh mulai Senin-Minggu.
Sedangkan di Monas, waktu operasional mereka dibatasi yakni hanya Sabtu dan Minggu. "Kalau di TMR kan mereka dapat beroperasi setiap hari," ujar Sitinjak.
Upaya pemindahan delman dari Monas ke TMR ini menyusul banyaknya keluhan dari para pengunjung Monas, terutama para pecinta olahraga. Alasannya, sejak Monas dibanjiri delman, aktivitas mereka jadi terganggu saat olahraga. Gangguan berasal dari bau tak sedap yang ditimbulkan dari kotoran kuda.
Menanggapi rencana tersebut, Iswadi, Sekjen Persatuan Perjuangan Delman Betawi (PPDB) mengatakan, pihaknya baru menerima surat keputusan untuk relokasi delman dari Monas ke TMR pada Kamis (22/10) kemarin.
Menurutnya, relokasi yang dilakukan tidak hanya menyangkut aspek budaya saja melainkan juga berdampak kepada pekerjaan para kusir delman. "Yang kita sesalkan, mengapa sebelumnya Pemkot Jakpus tidak melakukan sosialisasi kepada kami," ujar Iswadi.
Kendati begitu, jika kebijakan tersebut merupakan yang terbaik maka pihaknya bisa menerima asalkan fair dan terbuka. Ia juga meminta jika memang relokasi jadi dilaksanakan maka mereka meminta agar ada jaminan aman dan nyaman di tempat yang baru. Minimal tidak timbul permasalahan baru, mengingat saat ini di TMR juga terdapat sekitar 26 delman.
"Di TMR sendiri saat ini ada sekitar 26 kusir delman yang setiap hari beroperasi dan akan bertambah dengan kusir delman asal Monas yang jumlahnya mencapai 50-an," jelasnya.
Selanjutnya ia berharap, Pemkot Jakpus tetap mengizinkan delman beroperasi di kawasan Monas. Alasannya, Monas merupakan tempat kebanggaan masyarakat Jakarta dimana di dalamnya harus ada delman sebagai ciri khas angkutan Jakarta tempo dulu.
"Kami berharap tidak semua direlokasi, tapi biarkanlah 10 sampai 20 delman tetap beroperasi di Monas pada Sabtu dan Minggu saja," harapnya. (luc)
Jakarta (ANTARA News) – Persatuan Perjuangan Delman Betawi (PPDB) mengatakan relokasi delman yang beroperasi di Monumen Nasional (Monas) ke tempat wisata lain seperti Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Ragunan hingga sekarang belum jelas.
Humas PPDB, Nanang, di sela-sela menggelar aksi demo para kusir delman di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu, mengatakan, relokasi itu dilakukan menyusul adanya pelarangan terhadap delman beroperasi di Monas.
“Hingga sekarang, keputusan untuk relokasi itu belum jelas kendati pelarangan beroperasi di Monas telah berlangsung dua tahun berdasarkan SK Nomor 911/1.754 tahun 2007,” katanya.
Ia mengatakan, para kusir delman yang tergabung dalam PPDB yang berjumlah sebanyak 240 orang menyatakan setuju untuk direlokasi.
Namun katanya, harus ada keputusan dari pemerintah daerah setempat tentang relokasi yang dijanjikan tersebut.
Ia mengatakan, pendapatan kusir delman sejak diberlakukan SK Walikota Jakarta Pusat tersebut turun hingga 50 persen karena para kusir delman tidak diperbolehkan lagi beroperasi di dalam Monas.
Saat beroperasi di Monas rata-rata penghasilan kusir delman selama dua hari (sabtu-minggu) Rp150 ribu. Sekarang hanya dapat beroperasi di luar Monas yang berimbas penghasilannya menurun.
“Penghasilan kusir delman pada sabtu-minggu hanya Rp75 ribu,” katanya.
Sementara pada aksi demo PPDB tersebut mereka menuntut Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo untuk mencabut Surat Keputusan (SK) Nomor 911/1.754 Tahun 2007 tentang Pelarangan Beroperasi Kuda (delman, red) di Monas.
Aksi demo itu diikuti sekitar 50 andong yang berjejer di Jalan Medan Merdeka Selatan depan Balai Kota DKI Jakarta.
__________________
cuma saat ini aja gubernurnya, dulu2 ga ada tuh aturan macam ini...
ckckckckc...
mnurut gw pribadi ga stuju dngn aturan ini
walaupun di relokasi, tapi dengan adanya delman...itu jadi ciri khasnya dari Monas, Jakarta
sayang skali...
kasian nasip mreka yg cari nafkah dari jadi kusir delman...yang udah puluhan tahun...
Pemerintah Kota Jakarta Pusat (Jakpus) pada awal November mendatang, akan mensterilkan kawasan Monas dari delman. Selanjutnya seluruh delman yang berjumlah kurang lebih 50 an unit ini akan direlokasi ke kawasan Taman Margasatwa Ragunan (TMR) Jakarta Selatan.
Wakil Walikota Jakarta Pusat, Rospen Sitinjak, mengatakan, selama ini para kusir delman meminta agar mereka segera diberikan tempat penampungan, jika harus hengkang dari kawasan Monas.
Oleh karena itu, Pemkot Jakarta Pusat langsung berkoordinasi dengan pengelola TMR Ragunan dan Sudin pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Selatan. Hasilnya, tempat penampungan akan disediakan di kawasan TMR.
"Selama ini, mereka minta diberi tempat penampungan, sekarang kami sediakan. Jadi mereka harus pindah," ujar Rospen Sitindjak, Jumat (23/10), seperti dilansir Beritajakarta.com.
Pemindahan delman dari kawasan Monas ke TMR dinilai sudah tepat, sebab selain mendapatkan kontrol kesehatan hewan dari pengelola, waktu operasional TMR pun dibuka selama sepekan penuh mulai Senin-Minggu.
Sedangkan di Monas, waktu operasional mereka dibatasi yakni hanya Sabtu dan Minggu. "Kalau di TMR kan mereka dapat beroperasi setiap hari," ujar Sitinjak.
Upaya pemindahan delman dari Monas ke TMR ini menyusul banyaknya keluhan dari para pengunjung Monas, terutama para pecinta olahraga. Alasannya, sejak Monas dibanjiri delman, aktivitas mereka jadi terganggu saat olahraga. Gangguan berasal dari bau tak sedap yang ditimbulkan dari kotoran kuda.
Menanggapi rencana tersebut, Iswadi, Sekjen Persatuan Perjuangan Delman Betawi (PPDB) mengatakan, pihaknya baru menerima surat keputusan untuk relokasi delman dari Monas ke TMR pada Kamis (22/10) kemarin.
Menurutnya, relokasi yang dilakukan tidak hanya menyangkut aspek budaya saja melainkan juga berdampak kepada pekerjaan para kusir delman. "Yang kita sesalkan, mengapa sebelumnya Pemkot Jakpus tidak melakukan sosialisasi kepada kami," ujar Iswadi.
Kendati begitu, jika kebijakan tersebut merupakan yang terbaik maka pihaknya bisa menerima asalkan fair dan terbuka. Ia juga meminta jika memang relokasi jadi dilaksanakan maka mereka meminta agar ada jaminan aman dan nyaman di tempat yang baru. Minimal tidak timbul permasalahan baru, mengingat saat ini di TMR juga terdapat sekitar 26 delman.
"Di TMR sendiri saat ini ada sekitar 26 kusir delman yang setiap hari beroperasi dan akan bertambah dengan kusir delman asal Monas yang jumlahnya mencapai 50-an," jelasnya.
Selanjutnya ia berharap, Pemkot Jakpus tetap mengizinkan delman beroperasi di kawasan Monas. Alasannya, Monas merupakan tempat kebanggaan masyarakat Jakarta dimana di dalamnya harus ada delman sebagai ciri khas angkutan Jakarta tempo dulu.
"Kami berharap tidak semua direlokasi, tapi biarkanlah 10 sampai 20 delman tetap beroperasi di Monas pada Sabtu dan Minggu saja," harapnya. (luc)
Jakarta (ANTARA News) – Persatuan Perjuangan Delman Betawi (PPDB) mengatakan relokasi delman yang beroperasi di Monumen Nasional (Monas) ke tempat wisata lain seperti Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Ragunan hingga sekarang belum jelas.
Humas PPDB, Nanang, di sela-sela menggelar aksi demo para kusir delman di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu, mengatakan, relokasi itu dilakukan menyusul adanya pelarangan terhadap delman beroperasi di Monas.
“Hingga sekarang, keputusan untuk relokasi itu belum jelas kendati pelarangan beroperasi di Monas telah berlangsung dua tahun berdasarkan SK Nomor 911/1.754 tahun 2007,” katanya.
Ia mengatakan, para kusir delman yang tergabung dalam PPDB yang berjumlah sebanyak 240 orang menyatakan setuju untuk direlokasi.
Namun katanya, harus ada keputusan dari pemerintah daerah setempat tentang relokasi yang dijanjikan tersebut.
Ia mengatakan, pendapatan kusir delman sejak diberlakukan SK Walikota Jakarta Pusat tersebut turun hingga 50 persen karena para kusir delman tidak diperbolehkan lagi beroperasi di dalam Monas.
Saat beroperasi di Monas rata-rata penghasilan kusir delman selama dua hari (sabtu-minggu) Rp150 ribu. Sekarang hanya dapat beroperasi di luar Monas yang berimbas penghasilannya menurun.
“Penghasilan kusir delman pada sabtu-minggu hanya Rp75 ribu,” katanya.
Sementara pada aksi demo PPDB tersebut mereka menuntut Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo untuk mencabut Surat Keputusan (SK) Nomor 911/1.754 Tahun 2007 tentang Pelarangan Beroperasi Kuda (delman, red) di Monas.
Aksi demo itu diikuti sekitar 50 andong yang berjejer di Jalan Medan Merdeka Selatan depan Balai Kota DKI Jakarta.
__________________
cuma saat ini aja gubernurnya, dulu2 ga ada tuh aturan macam ini...
ckckckckc...
mnurut gw pribadi ga stuju dngn aturan ini
walaupun di relokasi, tapi dengan adanya delman...itu jadi ciri khasnya dari Monas, Jakarta
sayang skali...
kasian nasip mreka yg cari nafkah dari jadi kusir delman...yang udah puluhan tahun...