Creationz
IndoForum Junior E
- No. Urut
- 6396
- Sejak
- 10 Sep 2006
- Pesan
- 1.516
- Nilai reaksi
- 261
- Poin
- 83
NEW YORK, RABU - Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Sudjadnan Parnohadiningrat pada Selasa sore (Rabu pagi WIB) mendatangi tempat terjadinya penembakan di kampus Universitas Virginia Tech, AS, yang menewaskan 33 orang termasuk mahasiswa program Ph.D asal Indonesia, Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan.
Selain meninjau tempat penembakan yang terjadi pada Senin (16/4) di kampus Virginia Tech, Blacksburg, negara bagian Virginia, Sudjadnan juga mendatangi Rumah Sakit Medical Examination Office di Roanoke -- kota sekitar 51 kilometer dari Blacksburg, tempat para jenazah menjalani pemeriksaan forensik. "Saya ke Medical Examination Office sekaligus untuk meminta agar jenazah Partahi dapat segera dibawa pulang," kata Sudjadnan.
Menurut Sudjadnan, hingga Selasa petang jenazah Partahi belum dapat dijenguk karena adanya prosedur yang lebih rumit dari biasanya. "Mereka (pihak berwenang-Red) menganggap ini sebagai kejadian yang luar biasa dan sifatnya crime. Jadi harus ada pemeriksaan forensik dan ada 32 jenazah yang harus diperiksa," ungkapnya.
Pihak berwenang kemungkinan besar baru membolehkan jenazah-jenazah dijenguk setelah proses pemeriksaan forensik terhadap semua jenazah selesai. "Tapi kami akan berusaha untuk meminta agar kasus almarhum (Partahi-Red) bisa diberi pengecualian, karena kan jenazahnya harus segera dibawa ke Jakarta," kata Sudjadnan.
Permintaan agar jenazah Partahi segera dipulangkan ke Jakarta, menurut Sudjadnan, juga disampaikan keluarga almarhum ketika dirinya menelepon ayah Partahi, Tohom Lumbantoruan, pada Selasa pagi (Selasa malam WIB), untuk mengabarkan kematian Partohi. "Pihak keluarga meminta agar jenazah segera kembali," ungkap Sudjadnan.
Selain meninjau tempat penembakan yang terjadi pada Senin (16/4) di kampus Virginia Tech, Blacksburg, negara bagian Virginia, Sudjadnan juga mendatangi Rumah Sakit Medical Examination Office di Roanoke -- kota sekitar 51 kilometer dari Blacksburg, tempat para jenazah menjalani pemeriksaan forensik. "Saya ke Medical Examination Office sekaligus untuk meminta agar jenazah Partahi dapat segera dibawa pulang," kata Sudjadnan.
Menurut Sudjadnan, hingga Selasa petang jenazah Partahi belum dapat dijenguk karena adanya prosedur yang lebih rumit dari biasanya. "Mereka (pihak berwenang-Red) menganggap ini sebagai kejadian yang luar biasa dan sifatnya crime. Jadi harus ada pemeriksaan forensik dan ada 32 jenazah yang harus diperiksa," ungkapnya.
Pihak berwenang kemungkinan besar baru membolehkan jenazah-jenazah dijenguk setelah proses pemeriksaan forensik terhadap semua jenazah selesai. "Tapi kami akan berusaha untuk meminta agar kasus almarhum (Partahi-Red) bisa diberi pengecualian, karena kan jenazahnya harus segera dibawa ke Jakarta," kata Sudjadnan.
Permintaan agar jenazah Partahi segera dipulangkan ke Jakarta, menurut Sudjadnan, juga disampaikan keluarga almarhum ketika dirinya menelepon ayah Partahi, Tohom Lumbantoruan, pada Selasa pagi (Selasa malam WIB), untuk mengabarkan kematian Partohi. "Pihak keluarga meminta agar jenazah segera kembali," ungkap Sudjadnan.