BERJUDI
Brett tinggal di Connecticut Pusat Bagian dan mulai berjudi ketika seorang temannya di sekolah "berkata bahwa dia mengenal seseorang yang selalu menang dalam perjudian." Itu terjadi tiga tahun yang lalu, ketika ia masih berumur lima belas tahun. Brett berkata ia bertaruh $25 hingga $50 hampir setiap hari dalam pertandingan bola basket dan setiap hari Minggu dalam pertandingan futbol hingga dia mengalami hutang kekalahan sebesar $700. Ayah Brett bersedia untuk membayar si bandar asalkan Brett mau menerima bantuan. Tetapi kecanduan itu masih mnecengkeram dirinya. "Aku berkata kepada diri sendiri bahwa ini semua sudah cukup," kata Brett,yang sekarang berumur delapan belas tahun. "Tetapi lima menit kemudian, aku sudah berada di depan telepon, memasang taruhan lain. Pada awalnya, Anda memang lebih banyak menang daripada kalah. Akan tetapi kemudian Anda mulai kehilangan uang lebih banyak daripada yang telah Anda menangkan."
Di Negara Bagian yang sama, suatu lingkup pertaruhan terselubung di Daniel Hand High School terungkap setelah salah seorang muridnya mengatakan pada polisi bahwa dia telah mengalami kekalahan sebanyak $20.000 dari si bandar yang adalah seorang murid berumur tujuh belas tahun. Terkadang orangtua turut menjadi bagian dari masalah. Seringkali hasrat orangtua untuk berjudi menurun pada anak-anak mereka, seperti dialami Sara yang berumur tiga puluh satu tahun. Dia menemani orangtuanya ke kasino-kasino di Atlantic City dimana akhirnya dia menjadi kecanduan. Kini dia mengikuti Gamblers Anonymous, yakni kelompok terapi bagi pecandu judi, akibat hutang-hutangnya sebesar enam deret angka.
Berjudi sudah ada masa Alkitab. "Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN" (Amsal 16:33). Para prajurit Roma melakukan undian atas jubah Yesus pada saat penyaliban-Nya, "Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatkannya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu." (Yohanes 19:24). Dalam kedua contoh Alkitab ini, tidak dijelaskan siapa yang memenangkan pengundian itu. Dalam manusia, saynagnya, tidak tahu. Ketika orang berjudi, hasilnya selalu bertumpuk dihadapan mereka dalam wujud eksponensial.
Berjudi di kalangan para remaja biasanya bermula secara relatif tidak berbahaya, dari permainan untung-untungan atau penarikan hadiah di pasar-pasar malam (tentunya dengan membeli tiket terleboh dulu, untuk setiap peluang) hingga permainan lotere. Pada wujud yang ekstrim adalah mereka yang sudah pada akhirnya menjalani kehidupan yang secara diam-diam menjadi pecandu judi dan melangkah ke ukuran ekstrim (misalkan terlibat jumlah yang sangat besar) semata-mata hanya untuk mengganti satu hutang judi dengan hutang judi lainnnya. Satu-staunya motivasi dari berjudi adalah untuk memenangkan uang dan bagi mereka yang sudah memenangkan uang (maupun barang atau hal lainnya), kemenangan adalah hal yang sangat memuaskan dan bersifat adiktif.
Secara sosial perjudian telah diterima luas dalam budaya kita. Keith White, direktur pelaksana dari badan bernama the National Council on Problem Gambling (Lembaga Nasional untuk Penanganan Masalah Perjudian), melaporkan bahwa lebih dari 80 persen orang Amerika dewasa kini berjudi setidaknya sesekali waktu. Dengan beberapa alasan yang aneh, permainan poker menjadi jam tayang utama di berbagai saluran televisi mulai dari Travel Channel hingga Fox Television. Perjudian tengah berusaha menjadi salah satu cabang olahraga-jika Anda berpikir seseorang yang memegang kartu mempunyai kegigihan seorang atlet sama seperti seorang atlet yang berdisiplin tinggi.Pertaruhan olahraga secara dramatis meningkatkan kepentingan budaya terhadap olehraga-mulai dari pertaruhan permainan billiard (bola sodok) hingga racun kuda dan pertadingan final futbol Super Bowl.Pemerintahan Negara Bagian bahkan baru-baru ini mengenakan sanksi terhadap permainan lotere yang ditujukan untuk mengumpulkan uang bagi danang kesejahteraan sosial dan berbagai program bidang pendidikan. Sebagian orang menjuluki perjudian jenis ini sebagai "pajaknya dosa"
Salah satu bidang yang telah menangkap perhatian para remaja adalah biasanya orang harus berusia delapan belas sampai dua puluh satu tahun untuk diizinkan berjudi atau masuk ke suatu kasino. Namun pembatasan usia tidak dapat menghentikan remaja dati perilaku yang mengganggu ini. layanin khusus dan tanpa nama pelanggan yang dengan mudah diperoleh, mempermudah mereka untuk berjudi. Dengan perangkat komputer dan nomor kartu kredit (yang tidak selalu milik mereka), para remaja sudah dapat "beraksi". Dalam kurun waktu hanya enam tahun saja, situs-situs perjudian internet meningkat dari satu menjadi 1.400 situs. Seiring dengan perjudian di bawah umur, muncul pula penyalahgunaan dan pemakaian secara ilegal dari minuman beralkohol, ganja, kokain, dan tembakau oleh pemakai di bawah umur. Ketika perjudian di kalangan remaja terus berlanjut, pelecehan berkaitan dengan perjudian turut meningkat, mendorong ke arah compulsive gambling atau perjudian dengan pemaksaan.Para pelaku perjudian jenis ini mempunyai tingkatan peluang paling tinggi untuk bunuh diri, sebab bunuh diri sepertinya merupakan jalan keluar yang paling mudah untuk keluar dari keadaan yang memalukan, rasa malu, serta hutang yang menumpuk akibat berjudi. Kadang-kadang pilihan bagi para compulsive gambler hanyalah penjar, sakit jiwa, atau kematian.
Para penjudi dewasa akhirnya melihat berbagai akibat yang kemungkinan hancurnya pernikahan, pekerjaan ,atau gaya hidup mereka. Pada saat itu, terang akan datang dan mereka pun mencari bantuan. Berbeda dengan para penjudi remaja, yakni mereka yang masih tinggal di rumah, dan orangtua tidak akan "memasukkan"mereka. Sekalipun remaja amencuri uang milik orangtuanya, orangtua mereka tetap menyembunyikan perilaku tidak baik ini.
Para orangtua dan orang dewasa yang peduli harus waspada terhadap hal ini dan mencatat beberapa tanda-tanda salam perilaku remaja yang terlibat dalam perjudian yang serius:
Permasalah di sekolah (yaitu, nilai makin rendah, membolos, perilaku buruk)
Permasalah dalam keluarga (yaitu, menutup diri dan perilaku buruk)
Permasalah hubungan dengan tokoh panutan
Permasalah hukum dan keuangan
Kejahatan (termasuk mencuri dari anggota keluarga atau upaya pencurian lainnya)
Depresi
Pemikiran atau usaha bunuh diri
Menghindari orang lain
Menyaksikan siaran olahraga di televisi secar aberlebihan
Marah berlebihan terhadap nilai permainan sejumlah regu yang sebelumnya tidak mereka favoritkan atau sukai
Terlinat dalam perilaku beresiko tinggi lainnya seperti mengkomsumsi narkoba atau minuman beralkohol
Beberapa faktor yang beresiko menjerumuskan remaja pada perjudian antara lain adalah latar belakang keluarga yang kecanduan alkohol dan berjudi, diperkenalkan dengan aktivitas berjudi pada usia yang terlalu muda, suatu keluarga yang sangat mengagungkan uang dan menekankan gaya hidup mewah (meski kondisi mereka tidak demikian), rendahnya rasa percaya dan puas diri, serta depresi.
Beberap atindakan pencegahan dapat dilakukan sejak usia remaja. Dukungan dari keluarga, sekolah, dan kaum muda gereja dapat menghindarkan remaja jauh-jauh haris ebelum mereka terjerumus dalam perjudian. Pembangunan rasa percaya diri dan puas diri para remaja akan memperkecil pengaruh janji-janji untuk dapat "cepat mendapat hasil" dari perjudian. Orang dewasa yang peduli perlu menjelaskan secara lisan mengenai batasan-batasan dan harapan-harapan sehingga remaja mengetahui dimana posisi mereka ketika mereka menghadapi berbagai godaan perjudian. Keluarga dan kelompok muda mudi perlu mendiskusikan masalah ini dengan tindak menghakimi dan menekankan pembahasan diskusi tersebut pada nilai-nilai yang mereka yakini. Sekolah-sekolah perlu meninjau kembali kegiatan-kegiatan di kampus-kampus berkaian dengan aktivitas pengumpulan danang seperti apa yang sedang berlangsung disana. Apakah mereka memberikan pesan-pesan yang salah pada siswa-siswa mereka? Seklah-sekolah juga dapat mnediskusikan segala resiko dan tampak dampak dari perjudian.
Dengan diterimanya perjudian sebagaia salah satu perilaku masyarakat kita, para remaja akan berhadapan dengan hal ini dalam berbagai bidang. Suatu karakter yang dibangun berdasrkan suatu etika yang teguh dan moral yang terpusat akan membantu menghapuskan godaan ingin cepat kaya melalui perjudian. Sebaliknya, para remaja yang teguh pasti dapat mengenali bahwa setiap resiko dari perjudian nyata-nyata terlalu besar dan berat. Mereka pasti mengetahui bahwa untuk meningkatkan keuangan, mereka harus bekerja dengan keras dan jujur. Mazmur 128:2 berkata, "Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!" Amsal 12:24 berkata, "Tangan orang rajin memegang kekuasaanm tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa."