• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Catatan Dewi Lestari

pinnacullata

IndoForum Activist C
No. Urut
24506
Sejak
24 Okt 2007
Pesan
13.034
Nilai reaksi
224
Poin
63
Catatan Dewi Lestari

Sebuah catatan dari D tentang perpisahan dia dengan Marcel. Menarik !

Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari
manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan
kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin.
Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama
jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu
berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film "Earth" di
mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya
hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau,
menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan
yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita
mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap
kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari,
manusia dengan segala macam cara juga
menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih
ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup.
Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk
bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana
kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak
kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa
merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap
terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan
berhenti.

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita
anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya
percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami:
memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama.
Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak
pernah ganti pacar dari pacar
pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh,
karena bosan, karena ketemu orang lain yang
lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya
satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan
menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya
bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu
dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan
ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus
berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di
baliknya.

Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai
penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak
dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang
terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk
sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit
yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat
virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi
seringkali kita tertukar memilah mana efek dan
mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan.
Alasan sesederhana "memang sudah waktunya" dirasa
abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.

September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami
merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa.
Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami
sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat
itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi,
masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi
efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan
yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya
membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan
ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam
cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa
saling melepaskan dengan lapang dada, dengan
baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya.
Segala penyebab mengapa sebuah kondisi
tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak
mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama
halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell,
menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny,
menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan.
Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya
keputusan berpisah ada "di tangan kita", tapi ada sesuatu kekuatan yang
tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Namun seringkali konsep "memaafkan" yang kita kehendaki adalah
kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum
ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk
berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami
untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa
diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam
hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, "memaafkan" tidaklah
identik dengan "pengembalian situasi ke
kondisi semula". Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di
sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika
kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami
menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang
dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah
pernikahan.

Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada
ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga
tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain
meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang
suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang
paling tepat untuk menopang dinamika mereka.
Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka
akan meneruskan persahabatan dalam cangkang
pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi.
Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan
sebagai wadah yang "pas". Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi
sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami,
melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya.
Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat,
membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.

Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami
perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa
membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu,
saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh
memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti,
dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya:
kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia.
Satu buku yang sangat terkenal, "Celestine's
Prophecy", juga bicara soal ini. Kita harus "penuh" dulu sebelum bisa
"memenuhi" orang lain. Cinta bukanlah
dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.

Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah,
seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena
kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar
biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan
saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan
fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini
barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di
luar sana yang bicara bahwa anak harusnya
menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau
fondasi. Dia adalah busur yang akan melesat sendiri
satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh
agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan
dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak
juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri
saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau
ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur.
Kalau tidak pun bukan urusan saya.

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa
yang saya ungkap barangkali terdengar egois.
Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara
soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan
"hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya" , seorang anak
yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa
menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam,
sesungguhnya kita tidak pernah
berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita
berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap
benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika
ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5
miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah,
sains berubah, segalanya berubah dan tidak
pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak
statis.

Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga
menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa
selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa?
Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri.
Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya
begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu
bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya
durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin
bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka
apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa
menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan
durian-sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima
kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya
ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya
dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan
apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang
saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaa
nnya.

Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa
yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya
mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang
menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak
suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan
Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup
dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan
ketidakadilan, dengan
kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas,
kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa
bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang
demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi
terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan
putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya.
Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep "kecuali".

Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang
dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya,
kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada
yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi
keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan
bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima
kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai
keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini
bukan "keutuhan keluarga" melainkan keutuhan hati dan jiwa
masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada
keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari
Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak
yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha
kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan
keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan "kemarin
sore". Kita semua tahu keputusan bercerai adalah
keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatian nya, dan
mari kita kembali urus diri masing-masing.

Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi
dari beberapa info yang kebetulan sampai ke
pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama.
Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat
sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem,
karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa
menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi.
Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk
berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan
sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang
sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun
yang saya katakan, pada akhirnya selalu
dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini
si penulis naskah. Itulah yang akhirnya
membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan
rasanya seperti servis sosial di mana kami
mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi
berbagi keben aran. Dengan info-info sepotong
yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa
merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka
mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan.
Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang
mau.

Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua
menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman.
Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah
saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak
pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi
dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan.
Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin
terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur
dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk "mengubur masa lalu".
Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu
karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai
dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk
mengepas "gambar realitas" ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal
yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari
alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka
menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut
menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak
memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh
saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan
alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau
privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.

Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang
menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama
yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang
yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun
dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah
bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu,
mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat
saya.
So, seriously, they don't have any concern for the truth. They have
concern on "stories". Lucu. Yang menjalani saja
santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika
dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah
dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua
berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar
selama ini.

Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada
penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti
saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya.

Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu.
Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya
menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang
dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen
adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah
cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.

Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi
dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima,
dan memaafkan. bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.

Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa
label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang
sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha
mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa
merasakan akibatnya.

Salam,

~ D ~
 
...................

bisa dibikinin kesimpulannya gak?
 
/swt/swt/swt ho oh gw kaga ngarti maksudnya nih
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.