shelinda
IndoForum Newbie A
- No. Urut
- 2587
- Sejak
- 26 Jun 2006
- Pesan
- 387
- Nilai reaksi
- 28
- Poin
- 28
Jaman sekarang, dengan kebudayaan yang serba instant, kita menginginkan segalanya segera terjadi... sekarang! Makanan siap saji, membayar tagihan online, mengirim email dan meninggalkan surat-menyurat lewat pos, semuanya karena kita tidak suka menunggu.
Namun sayangnya, kebutuhan untuk serba cepat itu sering menjadi bagian dalam kehidupan spiritual kita juga. Kita ingin membaca Alkitab cukup dengan 5 menit, kita ingin Tuhan menjawab doa-doa kita secepat mesin ATM mengeluarkan uang, dan membeli serial video tentang trik-trik mudah menuju sukses. Kita ingin mencapai setiap level kedewasan Kristen tanpa harus melalui proses perjalanan iman yang seringkali menyakitkan dan tidak mudah. Intinya di sini adalah, dalam pola pikir kita yang tidak sabar, kecepatan tinggi selalu benar dan penundaan selalu salah.
Tapi bukan Tuhan namanya kalau Dia tidak berhasil mengubah pemikiran kita sampai pola pikir kita menjadi benar. Kehidupan lebih sering berbicara tentang proses daripada hasil. Pada saat-saat penundaan, jika kita membiarkan Tuhan tetap memimpin, saat-saat itu bisa menjadi masa dimana kita paling banyak berbuah, karena di masa itu kita menanti, bertumbuh, dan berubah. Maria dan Marta harus menunggu selama 3 hari untuk jawaban doa mereka: saudara yang paling mereka sayangi, Lazarus, harus meninggal sebelum Tuhan memanifestasikan kemuliaanNya lewat mukjizat kuasa kebangkitan. Abraham dan Sara harus menunggu sampai mereka berusia lanjut sebelum mempunyai anak yang Tuhan telah janjikan kepada mereka bertahun-tahun sebelumnya. Murid-muridNya diminta menunggu datangnya Roh Kudus di kamar loteng sebelum melanjutkan pelayanan mereka, dan waktu itu mereka sama sekali tidak mengerti tentang apa artinya semua itu. Saya bisa memberikan contoh lain, tapi saya yakin anda mengerti intinya.
Dalam masa penantian itulah waktunya Tuhan untuk mengerjakan buah-buah Roh dalam diri kita: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kelemahlembutan, keramahan, kesetiaan, dan pengendalian diri (Galatia 5:22-23). Tuhan meminta kita untuk bertumbuh dan mekar dimana kita ditanamkan sampai waktu pemenuhanNya untuk kita tiba. Apakah anda tahu bahwa butuh waktu 5 sampai 7 tahun bagi pohon cherry manis untuk berbuah? Apakah anda tahu bahwa Grand Canyon sebagaimana kita lihat sekarang dengan segala kemegahannya membutuhkan jutaan tahun erosi untuk menjadikannya seperti itu? Apakah anda tahu bahwa Yesus, anak Allah, belum memulai pelayananNya secara resmi sampai berusia sekitar 30 tahun?
Waktu Tuhan mungkin terasa sangat lambat bagi kita, namun waktuNya selalu sempurna. Hal-hal yang baik tidak terjadi begitu saja dalam semalam. Mereka harus ditanam, diairi, diberi pupuk, dirawat, dan diawasi dengan tepat, baru kemudian mereka dapat dipanen. Alkitab mengatakan pada kita, “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” (Habakuk 2:3). Dan dalam Galatia 6:9, Paulus mengatakan, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”.
Bisakah kita menunggu saat yang dijanjikan itu sampai tujuannya tergenapi? Bisakah kita bersabar sampai saat yang tepat itu untuk melihat pemenuhan tujuan-tujuan kita? Apakah kita mau menyerahkan timeline kita untuk terlaksananya rencana Tuhan yang jauh lebih baik? Jika kita menaati Tuhan dan mengikuti jalanNya, kita akan mendapatkan berkat yang akan datang. Kita mungkin masih belum bisa melihatnya sekarang, kita mungkin masih belum melihatnya seminggu dari sekarang. Namun dalam roh kita tahu bahwa yang terbaik dariNya sedang datang, jika kita mengijinkan Tuhan membentuk kita dan menggunakan kita sesuai dengan rencanaNya dan jadwalNya.
Namun sayangnya, kebutuhan untuk serba cepat itu sering menjadi bagian dalam kehidupan spiritual kita juga. Kita ingin membaca Alkitab cukup dengan 5 menit, kita ingin Tuhan menjawab doa-doa kita secepat mesin ATM mengeluarkan uang, dan membeli serial video tentang trik-trik mudah menuju sukses. Kita ingin mencapai setiap level kedewasan Kristen tanpa harus melalui proses perjalanan iman yang seringkali menyakitkan dan tidak mudah. Intinya di sini adalah, dalam pola pikir kita yang tidak sabar, kecepatan tinggi selalu benar dan penundaan selalu salah.
Tapi bukan Tuhan namanya kalau Dia tidak berhasil mengubah pemikiran kita sampai pola pikir kita menjadi benar. Kehidupan lebih sering berbicara tentang proses daripada hasil. Pada saat-saat penundaan, jika kita membiarkan Tuhan tetap memimpin, saat-saat itu bisa menjadi masa dimana kita paling banyak berbuah, karena di masa itu kita menanti, bertumbuh, dan berubah. Maria dan Marta harus menunggu selama 3 hari untuk jawaban doa mereka: saudara yang paling mereka sayangi, Lazarus, harus meninggal sebelum Tuhan memanifestasikan kemuliaanNya lewat mukjizat kuasa kebangkitan. Abraham dan Sara harus menunggu sampai mereka berusia lanjut sebelum mempunyai anak yang Tuhan telah janjikan kepada mereka bertahun-tahun sebelumnya. Murid-muridNya diminta menunggu datangnya Roh Kudus di kamar loteng sebelum melanjutkan pelayanan mereka, dan waktu itu mereka sama sekali tidak mengerti tentang apa artinya semua itu. Saya bisa memberikan contoh lain, tapi saya yakin anda mengerti intinya.
Dalam masa penantian itulah waktunya Tuhan untuk mengerjakan buah-buah Roh dalam diri kita: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kelemahlembutan, keramahan, kesetiaan, dan pengendalian diri (Galatia 5:22-23). Tuhan meminta kita untuk bertumbuh dan mekar dimana kita ditanamkan sampai waktu pemenuhanNya untuk kita tiba. Apakah anda tahu bahwa butuh waktu 5 sampai 7 tahun bagi pohon cherry manis untuk berbuah? Apakah anda tahu bahwa Grand Canyon sebagaimana kita lihat sekarang dengan segala kemegahannya membutuhkan jutaan tahun erosi untuk menjadikannya seperti itu? Apakah anda tahu bahwa Yesus, anak Allah, belum memulai pelayananNya secara resmi sampai berusia sekitar 30 tahun?
Waktu Tuhan mungkin terasa sangat lambat bagi kita, namun waktuNya selalu sempurna. Hal-hal yang baik tidak terjadi begitu saja dalam semalam. Mereka harus ditanam, diairi, diberi pupuk, dirawat, dan diawasi dengan tepat, baru kemudian mereka dapat dipanen. Alkitab mengatakan pada kita, “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” (Habakuk 2:3). Dan dalam Galatia 6:9, Paulus mengatakan, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”.
Bisakah kita menunggu saat yang dijanjikan itu sampai tujuannya tergenapi? Bisakah kita bersabar sampai saat yang tepat itu untuk melihat pemenuhan tujuan-tujuan kita? Apakah kita mau menyerahkan timeline kita untuk terlaksananya rencana Tuhan yang jauh lebih baik? Jika kita menaati Tuhan dan mengikuti jalanNya, kita akan mendapatkan berkat yang akan datang. Kita mungkin masih belum bisa melihatnya sekarang, kita mungkin masih belum melihatnya seminggu dari sekarang. Namun dalam roh kita tahu bahwa yang terbaik dariNya sedang datang, jika kita mengijinkan Tuhan membentuk kita dan menggunakan kita sesuai dengan rencanaNya dan jadwalNya.