pinnacullata
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 24506
- Sejak
- 24 Okt 2007
- Pesan
- 13.034
- Nilai reaksi
- 224
- Poin
- 63
> >
> > * jangan pernah mencintai karena uang. Anda tak tahu
> kapan hari terakhir
> > anda atau kapan mereka meninggalkan anda.
> >
> >
> >
> > Catatan: ini adalah kisah nyata
> >
> > * Hari terakhir sebelum Natal , aku terburu-buru ke
> supermarket untuk
> > membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk
> dibeli. Ketika melihat
> > orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan
> waktu selamanya, sedang
> > masih banyak tempat yang harus kutuju" "
> Natal benar2 semakin menjengkelkan
> > dari tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring,
> tidur, dan hanya terjaga
> > setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan
> menuju bagian mainan, dan di
> > sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah
> sesudahnya semua
> > anak akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan yang
> mahal..
> >
> >
> > * Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak
> laki2 berusia sekitar 5
> > tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut
> boneka itu dan
> > terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa
> boneka itu. Anak itu
> > mendekati seorang perempuan tua di dekatnya:
> 'Nenek, apakah engkau yakin aku
> > tidak punya cukup uang?' Perempuan tua itu
> menjawab: 'Kau tahu bahwa kau
> > tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini,
> sayang.' Kemudian
> > Perempuan itu meminta anak itu menunggu di sana
> sekitar 5 menit sementara
> > ia berkeliling ke tempat lain. Perempuan itu pergi
> dengan cepat. Anak
> > laki2 itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.
> >
> >
> > * Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada
> siapa dia ingin
> > memberikan boneka itu.'Ini adalah boneka yang
> paling disayangi adik
> > perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal
> ini. Ia yakin Santa
> > Claus akan membawa boneka ini untuknya' Aku
> menjawab mungkin Santa Claus
> > akan membawa boneka untuk adiknya, dan supaya ia
> jangan khawatir. Tapi
> > anak laki2 itu menjawab dengan sedih 'Tidak, Santa
> Claus tidak dapat
> > membawa boneka ini ke tempat dimana adikku berada saat
> ini. Aku harus
> > memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat
> memberikan kepadanya
> > ketika mama sampai di sana .' Mata anak laki2 itu
> begitu sedih ketika
> > mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan.
> >
> >
> >
> > Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap
> Tuhan, maka kukira mama
> > dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada
> adikku.' Jantungku seakan
> > terhenti.
> >
> >
> > * Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku
> minta papa untuk memberitahu
> > mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk
> menunggu hingga aku
> > pulang dari supermarket. ' Kemudian ia menunjukkan
> fotonya yang sedang
> > tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama
> membawa foto ini supaya
> > tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak
> meninggalkan aku
> > tapi papa berkata mama harus pergi bersama
> adikku.' Kemudian ia memandang
> > dengan sedih ke boneka itu dengan diam.
> >
> >
> > * Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil
> beberapa catatan dan
> > berkata kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita
> periksa lagi, kalau2 uangmu
> > cukup?' 'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku
> cukup.' Kutambahkan uangku pada
> > uangnya tanpa setahunya dan kami mulai menghitung.
> Ternyata cukup untuk
> > boneka itu, dan malah sisa. Anak itu berseru:
> 'Terima Kasih Tuhan karena
> > memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan
> menambahkan: 'Kemarin
> > sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk
> memastikan bahwa aku memiliki
> > cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa
> memberikannya
> > kepada adikku. DIA mendengarkan aku. Aku juga ingin
> uangku cukup untuk
> > membeli mawar putih buat mama, tapi aku tidak berani
> memohon terlalu banyak
> > kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku cukup untuk membeli
> boneka dan mawar
> > putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar
> putih'
> >
> >
> > * Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku
> berlalu dengan
> > keretaku.. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati
> yang sepenuhnya
> > berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat
> menghapus anak itu dari
> > pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di koran lokal 2
> hari yang lalu, yang
> > menyatakan seorang pria mengendarai truk dalam kondisi
> mabuk dan menghantam
> > sebuah mobil yang berisi seorang wanita muda dan
> seorang gadis kecil. Gadis
> > kecil itu meninggal seketika, dan ibunya dalam kondisi
> kritis. Keluarganya
> > harus memutuskan apakah harus mencabut alat penunjang
> kehidupan, karena
> > wanita itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma.
> Apakah mereka
> > keluarga dari anak laki2 ini?
> >
> >
> > * 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu,
> kubaca di koran bahwa
> > wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat
> menghentikan diriku dan pergi
> > membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah
> duka tempat jenasah
> > dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2 untuk
> memberikan
> > penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu
> di sana , dalam peti
> > matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik
> dengan foto anak
> > laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya.
> Kutinggalkan tempat itu
> > dengan menangis, merasa hidupku telah berubah
> selamanya. Cinta yang
> > dimiliki anak laki2 itu kepada ibu dan adiknya, sampai
> saat ini masih sulit
> > untuk dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria
> mabuk mengambil
> > semuanya dari anak itu.
> > * jangan pernah mencintai karena uang. Anda tak tahu
> kapan hari terakhir
> > anda atau kapan mereka meninggalkan anda.
> >
> >
> >
> > Catatan: ini adalah kisah nyata
> >
> > * Hari terakhir sebelum Natal , aku terburu-buru ke
> supermarket untuk
> > membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk
> dibeli. Ketika melihat
> > orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan
> waktu selamanya, sedang
> > masih banyak tempat yang harus kutuju" "
> Natal benar2 semakin menjengkelkan
> > dari tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring,
> tidur, dan hanya terjaga
> > setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan
> menuju bagian mainan, dan di
> > sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah
> sesudahnya semua
> > anak akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan yang
> mahal..
> >
> >
> > * Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak
> laki2 berusia sekitar 5
> > tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut
> boneka itu dan
> > terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa
> boneka itu. Anak itu
> > mendekati seorang perempuan tua di dekatnya:
> 'Nenek, apakah engkau yakin aku
> > tidak punya cukup uang?' Perempuan tua itu
> menjawab: 'Kau tahu bahwa kau
> > tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini,
> sayang.' Kemudian
> > Perempuan itu meminta anak itu menunggu di sana
> sekitar 5 menit sementara
> > ia berkeliling ke tempat lain. Perempuan itu pergi
> dengan cepat. Anak
> > laki2 itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.
> >
> >
> > * Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada
> siapa dia ingin
> > memberikan boneka itu.'Ini adalah boneka yang
> paling disayangi adik
> > perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal
> ini. Ia yakin Santa
> > Claus akan membawa boneka ini untuknya' Aku
> menjawab mungkin Santa Claus
> > akan membawa boneka untuk adiknya, dan supaya ia
> jangan khawatir. Tapi
> > anak laki2 itu menjawab dengan sedih 'Tidak, Santa
> Claus tidak dapat
> > membawa boneka ini ke tempat dimana adikku berada saat
> ini. Aku harus
> > memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat
> memberikan kepadanya
> > ketika mama sampai di sana .' Mata anak laki2 itu
> begitu sedih ketika
> > mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan.
> >
> >
> >
> > Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap
> Tuhan, maka kukira mama
> > dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada
> adikku.' Jantungku seakan
> > terhenti.
> >
> >
> > * Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku
> minta papa untuk memberitahu
> > mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk
> menunggu hingga aku
> > pulang dari supermarket. ' Kemudian ia menunjukkan
> fotonya yang sedang
> > tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama
> membawa foto ini supaya
> > tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak
> meninggalkan aku
> > tapi papa berkata mama harus pergi bersama
> adikku.' Kemudian ia memandang
> > dengan sedih ke boneka itu dengan diam.
> >
> >
> > * Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil
> beberapa catatan dan
> > berkata kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita
> periksa lagi, kalau2 uangmu
> > cukup?' 'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku
> cukup.' Kutambahkan uangku pada
> > uangnya tanpa setahunya dan kami mulai menghitung.
> Ternyata cukup untuk
> > boneka itu, dan malah sisa. Anak itu berseru:
> 'Terima Kasih Tuhan karena
> > memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan
> menambahkan: 'Kemarin
> > sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk
> memastikan bahwa aku memiliki
> > cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa
> memberikannya
> > kepada adikku. DIA mendengarkan aku. Aku juga ingin
> uangku cukup untuk
> > membeli mawar putih buat mama, tapi aku tidak berani
> memohon terlalu banyak
> > kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku cukup untuk membeli
> boneka dan mawar
> > putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar
> putih'
> >
> >
> > * Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku
> berlalu dengan
> > keretaku.. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati
> yang sepenuhnya
> > berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat
> menghapus anak itu dari
> > pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di koran lokal 2
> hari yang lalu, yang
> > menyatakan seorang pria mengendarai truk dalam kondisi
> mabuk dan menghantam
> > sebuah mobil yang berisi seorang wanita muda dan
> seorang gadis kecil. Gadis
> > kecil itu meninggal seketika, dan ibunya dalam kondisi
> kritis. Keluarganya
> > harus memutuskan apakah harus mencabut alat penunjang
> kehidupan, karena
> > wanita itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma.
> Apakah mereka
> > keluarga dari anak laki2 ini?
> >
> >
> > * 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu,
> kubaca di koran bahwa
> > wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat
> menghentikan diriku dan pergi
> > membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah
> duka tempat jenasah
> > dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2 untuk
> memberikan
> > penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu
> di sana , dalam peti
> > matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik
> dengan foto anak
> > laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya.
> Kutinggalkan tempat itu
> > dengan menangis, merasa hidupku telah berubah
> selamanya. Cinta yang
> > dimiliki anak laki2 itu kepada ibu dan adiknya, sampai
> saat ini masih sulit
> > untuk dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria
> mabuk mengambil
> > semuanya dari anak itu.