Internasional Benarkah China Biang Kerok Bengkaknya Utang Zambia?

Discussion in 'Gossip, Berita & Politik' started by politik, 12 Oct 2018.

  1. politik

    politik IndoForum Beginner C

    No. Urut:
    288509
    Joined:
    14 May 2018
    Messages:
    743
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gender:
    Male
    Benarkah China adalah biang kerok dari bengkaknya utang Zambia? Ya, tetapi begitu juga Barat dengan kebijakan neoliberalnya. China disebut-sebut memanfaatkan “diplomasi jebakan utang” untuk mempengaruhi kebijakan nasional dan mengendalikan aset dan sumber daya strategis Zambia. Tapi sangat ironis bahwa China disalahkan oleh Barat karena melakukan apa yang telah dilakukan IMF selama beberapa dekade: memberikan pinjaman yang tidak berkelanjutan, melemahkan kapasitas negara tersebut, dan membuka ekonomi nasional untuk investor internasional (terutama dari negara-negara Barat).

    Oleh: Vito Laterza, Patience Mususa (Al Jazeera)

    Utang Zambia telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dan kekhawatiran atas kemungkinan krisis akhir-akhir ini telah menarik perhatian media Barat.

    Pada tanggal 3 September 2018, sebuah laporan oleh media intelijen bisnis asal Inggris, Africa Confidential, memperingatkan meningkatnya utang yang disebabkan oleh pinjaman China yang tidak berkelanjutan, dan mengklaim bahwa Zesco—perusahaan listrik nasional milik negara—telah berbicara tentang pengambilalihan oleh perusahaan China.

    Pemerintah Zambia menyanggah tuduhan tersebut, dan menyangkal adanya rencana untuk privatisasi Zesco.

    Tuduhan itu bertepatan dengan meningkatnya kekhawatiran Barat atas perluasan pinjaman China bagi negara-negara Afrika. Dua minggu setelah Inggris membekukan bantuannya untuk Zambia—menyusul investigasi terhadap korupsi berskala besar dalam program Social Cash Transfer yang didukung Inggris—negara pendonor lain (Irlandia, Finlandia dan Swedia) melakukan hal yang sama.

    Pada awal Agustus, 16 senator Amerika Serikat (AS), yang dipimpin oleh loyalis Trump David Perdue, mengirim surat kepada Menteri Keuangan dan Negara Bagian AS, untuk memperingatkan penggunaan “diplomasi jebakan utang” China untuk memajukan Inisiatif Belt and Road dan menciptakan tatanan dunia ekonomi yang berpusat di sekitar negara adikuasa Asia tersebut.

    Para senator menulis bahwa China memompa pinjaman besar untuk proyek infrastruktur di negara-negara di Afrika, Asia, dan Eropa, dengan tujuan eksplisit memanfaatkan utang untuk mempengaruhi kebijakan nasional dan mendapatkan kendali atas aset dan sumber daya strategis.

    Surat mereka menyatakan kekhawatiran atas peran Dana Moneter Internasional (IMF) di negara-negara penerima dana talangan yang berutang budi kepada China, dan menyerukan tindakan tegas untuk menghentikan proyek “hegemonik” China.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share This Page


Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact Us untuk memulai.

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG