aerosmith
IndoForum Newbie B
- No. Urut
- 22019
- Sejak
- 13 Sep 2007
- Pesan
- 200
- Nilai reaksi
- 16
- Poin
- 18
BEIJING - Peneliti asal China yang juga wartawan The New York Times, Zhao Yan, pagi tadi menghirup udara bebas setelah ditahan otoritas Beijing selama sekitar tiga tahun. Zhao dianggap bersalah atas tuduhan kasus penipuan dan membocorkan rahasia negara.
"Dia dibebaskan pukul 8 pagi dari penjara Beijing. Dia dalam keadaan sehat dan sangat semangat. Namun, dia belum mau memberikan komentar," ujar Zhao Kun, adik perempuan Zhao Yan kepada AFP, Sabtu (15/9/2007).
Zhao ditahan pada 2004 setelah Times, tanpa izin pemerintah China, menurunkan laporan tentang rencana presiden Jiang Zemin untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua Komisi Pusat Militer.
Meski laporan tersebut tidak salah, otoritas Beijing menganggap hal tersebut melanggar hukum. Zhao dituduh menceritakan kepada surat kabar itu mengenai klaim-klaim persaingan antara Jiang dan penggantinya, Hu Jintao.
Times sendiri selalu membantah tuduhan China. Guan Anping, penasihat hukum Zhao mengaku belum tahu apakah kliennya akan dibatasi gerak-geriknya oleh Beijing.
Guan berharap pembebasan Zhao tidak menghalangi kebebasannya untuk kembali berprofesi sebagai wartawan dan peneliti. Kasus penangkapan Zhao sempat membuat sejumlah pemimpin dunia, terutama Amerika Serikat (AS) serta media internasional, mengecam tindakan Beijing.
Reporter Tanpa Batas, suatu kelompok yang bermarkas di Paris, Prancis, menentang larangan-larangan terhadap media yang dilakukan Negeri Tirai Bambu.
"Zhao hendaknya mendapatkan semua hak-haknya yang dipulihkan, termasuk hak untuk bekerja sebagai wartawan," kata lembaga ini.
Menurut lembaga ini, di China saat ini terdapat sekitar 35 wartawan dan 51 pekerja cyber yang masih meringkuk di balik jeruji besi. Mereka dianggap membangkang karena membeberkan informasi yang dianggap dapat menyudutkan posisi pemerintah.
Editor eksekutif The New York Times Bill Keller menyambut gembira pembebasan wartawannya. (sindosore)
SUMBER OKEZONE.COM
"Dia dibebaskan pukul 8 pagi dari penjara Beijing. Dia dalam keadaan sehat dan sangat semangat. Namun, dia belum mau memberikan komentar," ujar Zhao Kun, adik perempuan Zhao Yan kepada AFP, Sabtu (15/9/2007).
Zhao ditahan pada 2004 setelah Times, tanpa izin pemerintah China, menurunkan laporan tentang rencana presiden Jiang Zemin untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua Komisi Pusat Militer.
Meski laporan tersebut tidak salah, otoritas Beijing menganggap hal tersebut melanggar hukum. Zhao dituduh menceritakan kepada surat kabar itu mengenai klaim-klaim persaingan antara Jiang dan penggantinya, Hu Jintao.
Times sendiri selalu membantah tuduhan China. Guan Anping, penasihat hukum Zhao mengaku belum tahu apakah kliennya akan dibatasi gerak-geriknya oleh Beijing.
Guan berharap pembebasan Zhao tidak menghalangi kebebasannya untuk kembali berprofesi sebagai wartawan dan peneliti. Kasus penangkapan Zhao sempat membuat sejumlah pemimpin dunia, terutama Amerika Serikat (AS) serta media internasional, mengecam tindakan Beijing.
Reporter Tanpa Batas, suatu kelompok yang bermarkas di Paris, Prancis, menentang larangan-larangan terhadap media yang dilakukan Negeri Tirai Bambu.
"Zhao hendaknya mendapatkan semua hak-haknya yang dipulihkan, termasuk hak untuk bekerja sebagai wartawan," kata lembaga ini.
Menurut lembaga ini, di China saat ini terdapat sekitar 35 wartawan dan 51 pekerja cyber yang masih meringkuk di balik jeruji besi. Mereka dianggap membangkang karena membeberkan informasi yang dianggap dapat menyudutkan posisi pemerintah.
Editor eksekutif The New York Times Bill Keller menyambut gembira pembebasan wartawannya. (sindosore)
SUMBER OKEZONE.COM