• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Bab II Magrip

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
2687905981_28811eca71.jpg


Tak terasa matahari hampir tenggelam. Dengan enggan karena tetesan keringat yang mengkilatkan kulit, akhirnya kumpulan anak-anak kampur yang main batalion harus bubar, kalau tidak mau dijemput oleh orangtua atau kakak masing-masing.
.
Darbi beriringan dengan Anto.
.
"Kau ketakutan..." Darbi memulai, saat melihat nada cemas di raut sobatnya Anto.
.
"Kau juga. Jangan lari saat kita di sebelah Gudang Asap yah...." Gudang Asap adalah sebutan untuk rumah tua mengerikan yang ada sumur peninggalan jaman belanda-nya. Entah mengapa, dingin yang bertiup dari rumah itu aromanya agak menggigilkan tulang.
.
"Tidak... asal jangan kau saja" balas Darbi menantang.
.
"Aku berani...." Anto menegaskan diri, agar terlihat lebih berani.
.
"Kata orang disana banyak jin-nya...."
.
"Aku tak pernah ketemu Jin..."
.
"Jangan menantang. Bisa-bisa kita berdua ditangkap jin...Hiiiii"
.
Obrolan anak-anak.
.
Di depan tikungan jalan tikus. serangga malam mulai memainkan orkestra malam. jangkrik mungkin, dan beberapa jenis kumbang.
.
Agak jauh ke rumah. Rumah Darbi dan Anto hanya bersebrangan. Pagar rumah ANto bambu yang disolar hitam. Pagar rumah Darbi dari kawat duri yang sudah dirayapi tumbuhan liar 'halo-halo' karna bentuk bunyanya persis seperti corong toa di mesjid, yang disini disebut 'halo-hal0'. Bunganya sendiri berwarna ungu indah, hanya sayang tidak tahan lama, paling 2 hari, mengisut dan gugur.
.
Ah.... kedua mempercepat langkah, begitu sudah disamping Gudang Asap. Rumah itu dengan cerobong asapnya yang sudah tidak berfungsi lagi. Ada satu keluarga Cina tinggal di sana. Dengan jumlah yang cukup banyak. Yang lebih seram lagi, anjing mereka yang 3 ekor. Sangat galak. Dan seeprtinya alergi dengan laki-laki bersarung. Di kampung ini banyak laki-laki dewasa yang kalau sudah malam hanya sarungan saja kemana-mana. Lucu kalau melihat mereka kencing. Agak berjongkok, walau tidak seperti wanita kencing. Tapi membungkuk sedikit dengan manarik sarung ke atas.
.
Dan, dingin mulai menyapa.
.
"Tunggu Darbi...." Bisik Anto, seakan takut kedengaran jin di Gudang Asap.
.
"Jangan Takut.... kita adalah Khalifa... itu kata Ustad semalam..."
.
"Iya... aku tidak takut...."
.
"Tapi.... itu cahaya apa?...." Anto memalingkan wajahnya ke kiri, karea seperti ada kunang-kunang yang menari-nari indah...
.
"Jangan.... itu kunang-kunang.... jangan diganggu..."
.
Tapi terlambat. Kunang-kunang yang mendatangi keduanya. Pelan-pelan. Keduanya menghentikan langkah. Gerombolan serangga berlampu semakin banyak. Sangat gemerlap. Indah, tapi sedikit mengerikan. Karena, mereka toh tidak memiliki minyak atau lilin atau listrik yang bisa membuat mereka berlampu.
.
Aneh... kabut mulau tipis menyelimuti. Kunang-kunang sangat sendu saat mengerumuni dua anak kampung ini.
.
Anto menggigil. Darbi menggigit bibirnya. Keduanya saling cengkram tangan sekarang. Takut dan ada sensasi aneh lain yang sebenarnya mereka sendiri tak tahu apa.
.
Beberapa ekor kunang-kunang mulai menghampiri mereka. Di rambut, bahu, pipi, perut, dada dan tangan serta kaki. Tak berani bergerak, kunang-kunang adalah hulubalang jin Gudang Asap. Jangan sampai mereka marah dan melapor ke hulubalang. Ini hanya pemeriksaan rutin kalau ingin melewati Gudang Asap. Jadi tidak da yang perlu ditakutkan. Bayangkan saja seperti pemeriksaaan pada orang-orang yang mau terbang pakai pesawat. Tak apa-apa...
Keduanya memejamkan mata.
.
Takut berganti damai sekarang. Gerakan-gerakan seakan melambat. Ada suasana haru yang mistis dikulit mereka. Mau tertawa sangat gembira. Mungkin begini rasanya terbang. Dan... sudah saatnya membuka mata.
.
"Anto.... kita dimana?...."
.
"Darbi.... kita harus pulang...."
.
Anto mengabur... keinginan pulangnya mungkin.
.
"Jangan.... temani aku.... Jangan pulang sendiri. Bahaya bagi anak kecil seperti kita... Harus tetap bersama. Hayoooo..."
.
Anto menegas kembali. Dipegangnya tangan Darbi. Dan tak percaya.
 
Bab II - Magrip (lanjutan)

Tapi disini seperti siang. Seperti siang yang penuh kabut. Yang damai dan nyaman. Darbi menggenggam kuat tangan Anto. Entah mengapa, ini menakutkan.
.
"Dimana kita?" tanyanya perlahan. Sambil memutar-mutar leher beberapa kali mengamati sejumlah keanehan di sekelilingnya. Seakan tak mempercayai apa yang dia lihat. Tadi mereka di gudang asap. Ada kunang-kunang dan yang pasti Magrip. Kenapa sekarang siang...
.
"Kita di negri Bunian..." Anto tercekat lehernya sewaktu mengatakannya.
.
"Kau percaya hal seperti itu yah?"
.
"Iya...."
.
"Hu....."
.
"Coba kau lihat tanggul itu. Apakah disini ada pelabuhan?" Darbi mendekatkan mulutnya ke telinga Anto.
.
"Hihihihi.... geli..... yah kalau mau tahu mari kita periksa sama-sama"
.
Dan burung ruak-ruak berterbangan sewaktu kedua anak compang camping tersebut melewati jalan mereka. Kiri kanan adalah semak dan rawa. Jalan setapaknya licin. Ada beberapa gugusan telur keong emas berwarna oranye di sudut-sudut daun di rawa-rawa.
.
Kabut juga seakan-akan menyibak saat mereka semakin mendekati ujung. Apakah daratan ini berujung? Itu yang di benak mereka.
.
Tiba-tiba keduanya mencium aroma garam yang asin. Sangat basah. Dan mereka mengharapkan laut. Tiba-tiba mereka berpikir dengan laut. Padahal sadar sewaktu belajar di sekolah ibu guru selalu menyatakan tempat mereka berjarak ratusan km dari laut.
.
"Laut Darbi....."
.
"Kau merasakannya juga?" Darbi memandang Anto.
.
"Kau tidak yah?" tanya Anto.
.
"Aku hanya heran, bagaimana aku tahu ini bau laut?" Darbi memasang mode penyelidik on.
.
"Kata orang-orang desa, negri Bunian punya Sultan yang suka berdekatan dengan laut. Kita disini sekarang" Anto menjelaskan.
.
"Terus, apa lagi kata orang-orang"
.
"Kalau tidak salah, waktu di sini dan di dunia kita berbeda. Terus... aduh... Ibu Bapak pasti sedang mencari aku....." mengucapkan itu, Anto kelihatan menipis. Seperti ada nuansa transparan 25% sekarang di tubuhnya.
.
"Oh..... kau seperti kertas ubi..." teriak Darbi agak heran juga melihat perubahan Anto.
.
"Aku melihat mercusuar......" Anto kembali menegas sosoknya.
.
"Yah.... aku juga melihatnya. Mari kita ke sana... semoga ada penjaganya" kata Darbi mantab.
.
"Bagaimana kalau penjaganya suka memenggal kepala anak-anak?" Anto kembali cemas.
.
"Kau harus menyamar jadi bapak-bapak!" Darbi merengut.
.
"Oh gitu yah.... pak Darbi Abdullah Harahap...." goda Anto...
.
Plak.....
.
"Mau apa kau sebut-sebut nama bapakku...." Darbi naik darah rupanya.
.
Anto tak terima kepalanya dijitak seenaknya. Membalas jitakan Darbi dengan sangat bernafsu pula. "Iya... tapi jangan pakai jitak"
.
"Jangan bawa-bawa nama bapak....!!!!"
.
Keduanya bergulat sekarang. Sementara seorang kakek tua berwajah bijaksana dengan topi dari jerami yang dirajut usang geleng-geleng kepala memperhatikan keduanya. Sungguh pemandangan yang ganjil. Sudah 2000 tahun lebih tak ada anak-anak di jalan ini.
.
Apakah Dewa sedang berbaik hati, sehingga menurunkan masa depan hari ini? Dua anak sekaligus. Laki-laki, dengan kekuatan jasmani yang tidak diragukan lagi. Dalam hati si kakek berwajah bijaksana bersorak gembira. Tapi hatinya melarangnya untuk melerai perkelahian sengit ini. Dia ingin menyaksikan. Membiarkan alam yang mungkin memberikan pelajaran, sekaligus pembelajaran, bagi dua masa depan di depan mata ini.
.
Melihat dengan mata kepala sendiri. Mencermati kekuatan anak yang lebih tinggi. Tapi menyadari kegesitan luar biasa si anak yang lebih kecil. Keduanya seimbang. Hanya si tinggi lebih kuat. Tapi muslihat si kecil tak kalah menawan. Ada saat dia berhasil menjungkal si besar. Yang terbanting ke tanah seperti buah nangka jatuh.... gdebuk....
.
Dan si kakek jadi senyum senyum sendiri. Meniupkan kabut dari mulut dan hidungnya ketiba bernafas pelan. Semakin membuat suasana damai dan sejuk.
(bersambung)
 
@ atas
Bentar.... lagi diplonco nih.... jadi masih latihan ngasih warm, infract, kartu kuning, kartu merah, closed, merge.... huehuehue.... ntar dilanjutin.
 
wewkwkewkew
biasanya klo di plonco di suruh lari keliling lapangan
klo situ gmn di suruh muterein thread2 yawh ahahaha ^_^
 
Yah... inilah pelayanan masyarakat yang dialami para momod baru...
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.