roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Tak terasa matahari hampir tenggelam. Dengan enggan karena tetesan keringat yang mengkilatkan kulit, akhirnya kumpulan anak-anak kampur yang main batalion harus bubar, kalau tidak mau dijemput oleh orangtua atau kakak masing-masing.
.
Darbi beriringan dengan Anto.
.
"Kau ketakutan..." Darbi memulai, saat melihat nada cemas di raut sobatnya Anto.
.
"Kau juga. Jangan lari saat kita di sebelah Gudang Asap yah...." Gudang Asap adalah sebutan untuk rumah tua mengerikan yang ada sumur peninggalan jaman belanda-nya. Entah mengapa, dingin yang bertiup dari rumah itu aromanya agak menggigilkan tulang.
.
"Tidak... asal jangan kau saja" balas Darbi menantang.
.
"Aku berani...." Anto menegaskan diri, agar terlihat lebih berani.
.
"Kata orang disana banyak jin-nya...."
.
"Aku tak pernah ketemu Jin..."
.
"Jangan menantang. Bisa-bisa kita berdua ditangkap jin...Hiiiii"
.
Obrolan anak-anak.
.
Di depan tikungan jalan tikus. serangga malam mulai memainkan orkestra malam. jangkrik mungkin, dan beberapa jenis kumbang.
.
Agak jauh ke rumah. Rumah Darbi dan Anto hanya bersebrangan. Pagar rumah ANto bambu yang disolar hitam. Pagar rumah Darbi dari kawat duri yang sudah dirayapi tumbuhan liar 'halo-halo' karna bentuk bunyanya persis seperti corong toa di mesjid, yang disini disebut 'halo-hal0'. Bunganya sendiri berwarna ungu indah, hanya sayang tidak tahan lama, paling 2 hari, mengisut dan gugur.
.
Ah.... kedua mempercepat langkah, begitu sudah disamping Gudang Asap. Rumah itu dengan cerobong asapnya yang sudah tidak berfungsi lagi. Ada satu keluarga Cina tinggal di sana. Dengan jumlah yang cukup banyak. Yang lebih seram lagi, anjing mereka yang 3 ekor. Sangat galak. Dan seeprtinya alergi dengan laki-laki bersarung. Di kampung ini banyak laki-laki dewasa yang kalau sudah malam hanya sarungan saja kemana-mana. Lucu kalau melihat mereka kencing. Agak berjongkok, walau tidak seperti wanita kencing. Tapi membungkuk sedikit dengan manarik sarung ke atas.
.
Dan, dingin mulai menyapa.
.
"Tunggu Darbi...." Bisik Anto, seakan takut kedengaran jin di Gudang Asap.
.
"Jangan Takut.... kita adalah Khalifa... itu kata Ustad semalam..."
.
"Iya... aku tidak takut...."
.
"Tapi.... itu cahaya apa?...." Anto memalingkan wajahnya ke kiri, karea seperti ada kunang-kunang yang menari-nari indah...
.
"Jangan.... itu kunang-kunang.... jangan diganggu..."
.
Tapi terlambat. Kunang-kunang yang mendatangi keduanya. Pelan-pelan. Keduanya menghentikan langkah. Gerombolan serangga berlampu semakin banyak. Sangat gemerlap. Indah, tapi sedikit mengerikan. Karena, mereka toh tidak memiliki minyak atau lilin atau listrik yang bisa membuat mereka berlampu.
.
Aneh... kabut mulau tipis menyelimuti. Kunang-kunang sangat sendu saat mengerumuni dua anak kampung ini.
.
Anto menggigil. Darbi menggigit bibirnya. Keduanya saling cengkram tangan sekarang. Takut dan ada sensasi aneh lain yang sebenarnya mereka sendiri tak tahu apa.
.
Beberapa ekor kunang-kunang mulai menghampiri mereka. Di rambut, bahu, pipi, perut, dada dan tangan serta kaki. Tak berani bergerak, kunang-kunang adalah hulubalang jin Gudang Asap. Jangan sampai mereka marah dan melapor ke hulubalang. Ini hanya pemeriksaan rutin kalau ingin melewati Gudang Asap. Jadi tidak da yang perlu ditakutkan. Bayangkan saja seperti pemeriksaaan pada orang-orang yang mau terbang pakai pesawat. Tak apa-apa...
Keduanya memejamkan mata.
.
Takut berganti damai sekarang. Gerakan-gerakan seakan melambat. Ada suasana haru yang mistis dikulit mereka. Mau tertawa sangat gembira. Mungkin begini rasanya terbang. Dan... sudah saatnya membuka mata.
.
"Anto.... kita dimana?...."
.
"Darbi.... kita harus pulang...."
.
Anto mengabur... keinginan pulangnya mungkin.
.
"Jangan.... temani aku.... Jangan pulang sendiri. Bahaya bagi anak kecil seperti kita... Harus tetap bersama. Hayoooo..."
.
Anto menegas kembali. Dipegangnya tangan Darbi. Dan tak percaya.