Berita Analisis: Bagaimana Perang Dagang Perparah Situasi Laut China Selatan

Discussion in 'Gossip, Berita & Politik' started by politik, 10 Nov 2018.

  1. politik

    politik IndoForum Beginner D

    No. Urut:
    288509
    Joined:
    14 May 2018
    Messages:
    602
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gender:
    Male
    Perang dagang antara Amerika dan China dapat memperparah situasi di Laut China Selatan. Memang, perang dagang baru saja dimulai dan masih belum pasti apa yang menanti di depan, namun ekonomi China telah menderita. Jika situasi ini berlanjut, tidak mengherankan jika Beijing memilih untuk memainkan kartu nasionalisme dengan mengambil sikap yang lebih agresif dalam sengketa maritimnya. China yang nasionalis dan menderita akibat perang dagang, akan menjadi prospek berbahaya bagi Laut China Selatan.

    Oleh: Trinh Le (The Diplomat)

    Perdagangan dan lautan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjuangan untuk memenangkan supremasi global. Petualang Inggris Sir Walter Raleigh pernah menulis: “Siapa saja yang menguasai laut (akan) menguasai perdagangan; barangsiapa menguasai perdagangan dunia (niscaya akan) menguasai kekayaan dunia, dan pada akhirnya (menguasai) dunia itu sendiri.”

    Itu adalah ambisi Inggris Raya dengan Pax Britannica-nya pada abad ke-19, Amerika Serikat (AS) dengan Pax Americana-nya di abad ke-20, dan akan menjadi ambisi bagi China jika ingin membangun Pax Sinica-nya sendiri di abad ke-21.

    Karena itu, bukan kebetulan bahwa kampanye pembangunan pulau oleh China di Laut China Selatan dimulai di sekitar waktu yang sama ketika China menggeser Amerika Serikat sebagai negara perdagangan terbesar di dunia. Sementara itu, praktik perdagangan yang tidak adil dan agresi militer di Laut China Selatan adalah tuduhan utama yang dilayangkan Wakil Presiden AS Mike Pence terhadap China dalam pidato yang belum pernah terjadi sebelumnya pada awal Oktober.

    Dengan demikian, perang dagang yang semakin intensif—yang diprakarsai oleh Presiden AS Donald Trump—bukanlah perselisihan yang normal, tetapi pergeseran dari “koeksistensi damai ke dalam bentuk konfrontasi baru” antara dua kekuatan global.

    Memahami perang dagang dalam sudut pandang ini mau tidak mau memunculkan pertanyaan tentang bagaimana hal itu akan mempengaruhi perselisihan di Laut China Selatan.

    Dampak utamanya adalah ekonomi. Sebuah rezim otoriter seperti China terutama bergantung pada kinerja sosio-ekonomi untuk meraih legitimasi. Ketika negara ini mengalami kesulitan ekonomi, maka akan menggoda para pemimpin di Zhongnanhai untuk membangkitkan nasionalisme dengan tujuan mengalihkan ketidakpuasan publik (untuk contoh, lihatlah keputusan Argentina untuk memulai Perang Falklands pada tahun 1982).

    Memang, perang dagang baru saja dimulai dan masih belum pasti apa yang menanti di depan. Namun, ekonomi China telah menderita. Pada kuartal ketiga 2018, pertumbuhan PDB menurun menjadi 6,5 persen—terendah dalam satu dekade—dan bahkan bisa mencapai lima persen ketika menghadapi dampak penuh dari perlambatan perdagangan.

    Suasana pesimistis bahkan telah menjangkiti beberapa investor terbesar China. Morgan Stanley, Nomura Holdings, Jefferies Group, dan yang paling baru JPMorgan, semua telah mengurangi kepemilikan mereka di China karena takut akan skenario perang perdagangan besar-besaran. Jika situasi ini berlanjut, tidak mengherankan jika Beijing memilih untuk memainkan kartu nasionalisme dengan mengambil sikap yang lebih agresif dalam sengketa maritimnya.

    Ini menggoda, karena China memiliki kemampuan untuk melakukannya. Beijing telah menginvestasikan banyak hal untuk memperkuat kemampuan militernya, terutama kekuatan angkatan lautnya. Laporan tahun 2018 oleh Departemen Pertahanan AS mengungkapkan bahwa China sekarang memiliki “milisi maritim terbesar dan paling ahli di dunia.”

    Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share This Page


Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact Us untuk memulai.

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG