Politik Amerika Serikat Kalah dari Iran di Irak

Discussion in 'Gossip, Berita & Politik' started by politik, 15 Sep 2018.

  1. politik

    politik IndoForum Beginner C

    No. Urut:
    288509
    Joined:
    14 May 2018
    Messages:
    748
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gender:
    Male
    Amerika Serikat (AS) telah kalah dari Iran di Irak, setelah pemilihan umum yang dilaksanakan di Iran pada tanggal 12 Mei lalu berhasil membentuk pemerintahan pro-Iran. AS pun berjanji akan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan terhadap fasilitas AS di Irak. Tetapi apakah AS masih memiliki kekuatan di daerah itu?

    Oleh: Yochanan Visser (Arutz Sheva)

    Lebih dari dua minggu setelah pemerintahan Trump mengumumkan akan mempertahankan kekuatannya saat ini, yang terdiri antara 7.000 hingga 9.000 tentara Amerika Serikat (AS) di Irak, dan mengirim Brett McGurk—utusan presiden untuk koalisi global melawan ISIS—ke Baghdad guna mencegah pengambilalihan Iran atas negara tersebut, menjadi semakin jelas bahwa AS kehilangan Irak.

    Pada Kamis (13/9), faksi politik pro-Iran akhirnya mencapai kesepakatan tentang pembentukan pemerintahan baru, empat bulan setelah pemilihan parlemen pada tanggal 12 Mei.

    Pembentukan pemerintah Irak yang baru, mengakhiri harapan Trump untuk mendapatkan masa jabatan kedua dari sekutunya, Perdana Menteri Haider al-Abadi, yang Partai Dawa atau ‘Koalisi Kemenangan’-nya berada di urutan ketiga dalam pemilihan parlemen.

    Al-Abadi—seorang politikus pragmatis yang mempertahankan hubungan baik dengan Iran dan AS—disalahkan atas krisis kemanusiaan yang parah di Irak selatan, di mana Iran tiba-tiba memutus aliran listrik awal musim panas ini dan memperparah kekurangan air, di mana lebih dari 60 ribu orang keracunan ketika mereka minum air yang terkontaminasi.

    Sebagai akibat dari krisis kemanusiaan ini, ribuan warga Irak di kota Irak selatan terbesar, Basra, turun ke jalan dan membakar konsulat Iran, tetapi juga mengecam al-Abadi yang mengunjungi kota itu awal pekan ini.

    Setidaknya 15 orang tewas dalam demonstrasi kekerasan yang menyebar ke bagian lain Irak, termasuk ibu kota Baghdad.

    Pembentukan pemerintah pro-Iran baru datang setelah Muqtada al-Sadr—ulama Syiah kontroversial yang secara mengejutkan memenangkan Pemilu tanggal 12 Mei—dan Hadi al-Amiri, seorang ekstremis Syiah yang mempertahankan hubungan dekat dengan rezim Islam Iran, gagal mendaftarkan koalisi mereka sendiri di sesi pertama parlemen Irak yang baru.

    Kedua pemimpin Irak tersebut kemudian memutuskan untuk melanjutkan negosiasi dan mengadakan beberapa pertemuan di kediaman al-Sadr di kota Najaf.

    “Kami telah mencapai pemahaman awal dengan Al-Sadr, dan bekerja untuk mengubahnya menjadi perjanjian di bawah payung Marjiyaa (ulama Syiah tertinggi di Irak),” kata Arab, mengutip seorang pejabat al-Fatah.

    Baca Sumber

Share This Page


Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact Us untuk memulai.

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG