yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan Institute for Transformation Studies (Intrans) menunjukkan, masyarakat cenderung memilih calon presiden yang merakyat. Dalam memilih calon presiden, atribut merakyat atau kedekatan dengan rakyat menjadi penentu utama. Hal ini berbeda dengan kecenderungan masyarakat dalam memilih calon wakil presiden.
Menurut hasil penelitian Intrans, dalam memilih calon wakil presiden, persepsi responden cukup ketat dalam melihat latar belakang profesi, pengalaman, dan rekam jejak kandidat. "Hal ini sangat dipengaruhi oleh referensi pasangan ideal dari responden, yakni pasangan Soekarno-Hatta," kata Direktur Eksekutif Intrans Saiful Haq, saat memaparkan hasil penelitian lembaganya di Jakarta, Minggu (4/7/2013).
Penelitian Intrans ini mengukur persepsi dan sikap pemilih terhadap asosiasi atribut kandidat capres dan cawapres 2014. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yang melibatkan 150 responden yang dibagi dalam 10 kelompok focus group discussion (FGD).
Menurut Saiful, dengan persepsi responden yang lebih memilih presiden yang merakyat, calon presiden yang dianggap paling memenuhi persyaratan adalah Joko Widodo (Jokowi). "Seluruh prasyarat ideal dimenangkan Jokowi sehingga diyakini, jika Jokowi maju dalam Pilpres 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden secara mutlak dan meyakinkan," katanya.
Dia mengatakan, minat dan sikap responden yang memenangkan Jokowi sebenarnya banyak dipengaruhi dengan atribut merakyat, bukan dari rekam jejak dan keputusan politik yang diambil Jokowi selama ini.
Persepsi responden, katanya, mengidentifikasikan Jokowi sebagai rakyat kebanyakan. "Dengan menggunakan bahasa ndeso sebagai atribut yang berarti merakyat," tambah Saiful.
Setelah Jokowi, calon yang dianggap merakyat secara berturut-turut adalah Jusuf Kalla, Megawati, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Surya Paloh, Dahlan Iskan, dan Gita Wirjawan.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan faktor lain yang diperhatikan responden dalam memilih capres, antara lain faktor keharmonisan rumah tangga dan rekam jejak.
Untuk keharmonisan rumah tangga, kandidat yang dianggap mampu mengkapitalisasi atribut keluarga cukup memengaruhi minat dan siap responden dalam menentukan pilihan. Adapun dalam hal atribut rekam jejak, kata Saiful, responden tidak hanya melihat kasus korupsi sebagai rekam jejak kandidatnya.
"Tapi juga kasus kriminal, bisnis, keluarga, pernyataan politik, keberpihakan terhadap kasis-kasus HAM," tutur Saiful.
Selain itu, menurut hasil penelitian, responden tidak lagi melihat latar belakang suku, juga tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara sipil dan militer, meskipun mayoritas lebih memilih pemimpin sipil ketimbang militer.
"Dalam skenario usia, responden lebih memilih pasangan muda-muda dan muda-tua daripada pasangan tua-tua dan tua-muda," kata Saiful.
Menurut hasil penelitian Intrans, dalam memilih calon wakil presiden, persepsi responden cukup ketat dalam melihat latar belakang profesi, pengalaman, dan rekam jejak kandidat. "Hal ini sangat dipengaruhi oleh referensi pasangan ideal dari responden, yakni pasangan Soekarno-Hatta," kata Direktur Eksekutif Intrans Saiful Haq, saat memaparkan hasil penelitian lembaganya di Jakarta, Minggu (4/7/2013).
Penelitian Intrans ini mengukur persepsi dan sikap pemilih terhadap asosiasi atribut kandidat capres dan cawapres 2014. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yang melibatkan 150 responden yang dibagi dalam 10 kelompok focus group discussion (FGD).
Menurut Saiful, dengan persepsi responden yang lebih memilih presiden yang merakyat, calon presiden yang dianggap paling memenuhi persyaratan adalah Joko Widodo (Jokowi). "Seluruh prasyarat ideal dimenangkan Jokowi sehingga diyakini, jika Jokowi maju dalam Pilpres 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden secara mutlak dan meyakinkan," katanya.
Dia mengatakan, minat dan sikap responden yang memenangkan Jokowi sebenarnya banyak dipengaruhi dengan atribut merakyat, bukan dari rekam jejak dan keputusan politik yang diambil Jokowi selama ini.
Persepsi responden, katanya, mengidentifikasikan Jokowi sebagai rakyat kebanyakan. "Dengan menggunakan bahasa ndeso sebagai atribut yang berarti merakyat," tambah Saiful.
Setelah Jokowi, calon yang dianggap merakyat secara berturut-turut adalah Jusuf Kalla, Megawati, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Surya Paloh, Dahlan Iskan, dan Gita Wirjawan.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan faktor lain yang diperhatikan responden dalam memilih capres, antara lain faktor keharmonisan rumah tangga dan rekam jejak.
Untuk keharmonisan rumah tangga, kandidat yang dianggap mampu mengkapitalisasi atribut keluarga cukup memengaruhi minat dan siap responden dalam menentukan pilihan. Adapun dalam hal atribut rekam jejak, kata Saiful, responden tidak hanya melihat kasus korupsi sebagai rekam jejak kandidatnya.
"Tapi juga kasus kriminal, bisnis, keluarga, pernyataan politik, keberpihakan terhadap kasis-kasus HAM," tutur Saiful.
Selain itu, menurut hasil penelitian, responden tidak lagi melihat latar belakang suku, juga tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara sipil dan militer, meskipun mayoritas lebih memilih pemimpin sipil ketimbang militer.
"Dalam skenario usia, responden lebih memilih pasangan muda-muda dan muda-tua daripada pasangan tua-tua dan tua-muda," kata Saiful.