yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Terdakwa Irjen Djoko Susilo mendapatkan keuntungan Rp300 juta setiap bulan dari tiga SPBU miliknya. Ketiga SPBU ini diduga adalah hasil pencucian uang Djoko yang terkait kasus korupsi simulator SIM di Korlantas Polri.
Hal itu diungkapkan saksi Erick Maliangkay, notaris pembelian sejumlah aset Djoko di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat 12 Juli 2013. "Hasil keuntungan dari semua SPBU, saya yang disuruh Pak Djoko mengambilnya ke Pak Harry Ikhlas (pengelola usaha SPBU milik Djoko)," kata Erick Maliangkay.
Mantan kepala Korlantas Polri ini memiliki usaha SPBU di tiga tempat. Di antaranya adalah SPBU di Jalan Anteri Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, di Ciawi, Bogor, Jawa Barat dan di Muara Kapuk, Jakarta Utara.
SPBU yang berlokasi di Kendal dengan nama PT Selota Mandala Bersama itu beroperasi sejak 2007. SPBU ini atas nama Herry Ikhlas yang merupakan pengelola usaha milik Djoko.
"Sejak 2007 sampai 2010, saya yang menjemput hasil keuntungan SPBU dari Pak Herry. Hasilnya diambil setiap bulan, terkadang sekali tiga bulan baru saya ambil. Setelah itu, uangnya saya antarkan ke Pak Djoko," ungkapnya.
Ia menambahkan, persentase hasil pembagian keuntungan SPBU itu adalah 80 persen dan 20 persen. Artinya 80 hasilnya untuk Djoko, sedangkan 20 persen dibagi untuk pengelola dan manajemen perusahaan.
Ia menambahkan, SPBU yang terletak di Ciawi, Bogor dibeli Djoko atas nama Lukman. Tempat usaha pengisian bahan bakar yang bernama PT Aster Usaha Jaya itu memiliki luas 4.000 meter persegi. Djoko membeli SPBU itu seharga Rp10 miliar.
"SPBU ini dibeli atas nama Agus Margo Santoso (komisaris). Dibayar dengan uang tunai yang dimasukkan ke dalam 8 kardus," katanya.
Menurut Erick, perjanjian bagi hasil keuntungan usaha pom bensin itu hanya sebatas lisan. "Setiap bulan, SPBU ini setor Rp100 juta," katanya.
Sementara itu, SPBU yang di Muara Kapuk memiliki luas 3.000 meter persegi, dibeli Djoko pada 2010 sebesar Rp11,5 miliar. "Kesepakatannya setiap bulan Pak Harry Ikhlas (pengelola) menyetor Rp145 juta," kata Erick.[/quote]