• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Salafiyyun dalam Sorotan

asoybanget

IndoForum Beginner A
No. Urut
52516
Sejak
12 Sep 2008
Pesan
1.375
Nilai reaksi
47
Poin
48
Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, di tengah kaum muslimin muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya salafiyah atau salafiyun. Mereka menyatakan dirinya sebagai umat Islam yang paling ahlu sunah wal jama’ah, paling firqah najiyah, paling salafu sholih dan paling thaifah manshurah. Siapa bergabung dengan mereka, mereka anggap kelompok ahlu sunah wal jama’ah. Siapa tidak bergabung dengan mereka, mereka sebut sebagai ahlu bid’ah, ahlul ahwa’, hizbiyah, Khawarij, firqah dhalalah dan sebutan mengerikan lainnya. Sebenarnya, apa gerakan salafiyyun itu? Bagaimana aqidah dan manhaj mereka menurut Al Qur’an dan As Sunah ‘ala fahmi salafi sholih? Betulkah yang bergabung dengan mereka termasuk ahlu sunnah, dan yang tidak bergabung termasuk hizbiyah dan ahlu bid’ah? Benarkah segala klaim dan tudingan mereka?

Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak kita, manakala melihat kiprah gerakan salafiyyun di medan dakwah. Vonis-vonis keras kepada personal muslim atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka, dan pengkultusan kepada para syuyukh di kalangan mereka sehingga mereka tidak menerima bila syuyukh mereka dikritisi, benarkah ini cerminan interaksi sosial ala ahlu sunah terhadap ahlu bid’ah? Ataukah ada sesuatu yang salah?

1- Ta’ashub dan Taqlid buta
Bila diperhatikan, sebenarnya sikap ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sikap ini lahir dari sikap hizbiyyah mereka, yang mereka terima dari para syuyukh mereka sendiri. Betapa tidak, sejak awal belajar, seorang muslim yang bergabung dengan kelompok ini sudah didoktrin untuk menerima suatu dogma: bahwa kebenaran itu mempunyai tanda-tanda pengenal dan menara penerang, yang berwujud ajaran yang diterima dari kelompok mereka !!!

Itulah yang diajarkan para syuyukh mereka. Adalah syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari --- seorang syaikh panutan mereka yang mengakui dirinya sebagai syaikhu salafiyyin ketiga, setelah syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani dan Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah---, yang menyatakan ijma’ tentang kedudukan tiga syuyukh salafiyyun ini dengan mengatakan:

“Para ulama kami yang agung itu, mereka itulah bintang-bintang pemberi petunjuk dan meteor yang tinggi, barang siapa berpegang teguh dengan mentaati mereka; mereka itulah yang selamat??? Dan barang siapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat???? “ ---At Tahdziru Min Fitnati Takfir hal. 39---

Jika ini yang dikatakan oleh syaikh panutan mereka, lantas bagimana dengan para pengikut mereka? Statement ini perlu mendapat catatan:

Pertama. Ijma’ menurut para ulama adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahidin ---bukan para syuyukh salafiyyun--- setelah wafatnya Rasulullah, dalam suatu masa tertentu, atas suatu persoalan tertentu. Yang dimaksud dengan kesepakatan adalah tidak adanya pendapat yang menyelisihi, meski dari seorang ulama pun. Bila ada seorang ulama yang menyelisihi, maka namanya bukan ijma’.

Kedua. Pernyataan bahwa siapa yang bergabung dengan syaikh fulan dan membelanya benar atau salah berarti kelompok yang benar, dan siapa mengkritik (memusuhi?) dan tidak bergabung dengan syaikh fulan berarti kelompok yang salah dan sesat, merupakan sebuah hizbiyah, ta’ashub buta dan taqlid buta yang terlarang, sama sekali bukan sikap ahlu sunah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
”Barang siapa menjadikan seseorang selain Rasulullah; siapa mengikutinya dan sejalan dengannya (disebut) ia adalah seorang ahlu sunah, dan siapa yang menyelisihinya berarti adalah ahlu bid’ah dan firqah, sebagaimana terdapat pada kelompok pengikut para ulama ahlu kalam ---dan juga salafiyyun hari ini--- dan kelompok lainnya, maka ia termasuk ahlu bid’ah, dholal (sesat) dan tafaruq (pemecah belah persatuan umat Islam).” –Majmu’ Fatawa 3/216-

Subhanallah, pernyataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini telah menyingkap dengan telak, siapa sebenarnya gerakan salafiyyun ini. Alhamdulillah, kita tak perlu bersusah payah, syaikhul Islam sudah membongkarnya dengan sangat telak.

Imam Abdurahman Ibnu Jauzi mengatakan:
“Ketahuilah sesungguhnya mayoritas para ahlu bid’ah itu; dalam hati mereka ada ta’dzim (mengagungkan, mengkultuskan) seseorang ---syaikh dll--- mereka mengikuti perkataannya tanpa mentadaburi apa yang dikatakan, ini adalah sebuah kesesatan, karena melihat itu seharusnya kepada apa yang dikatakan, bukan kepada siapa yang mengatakan. Sebagaimana dikatakan oleh imam Ali kepada Harits bin Hauth. Harits mengatakan kepada Ali, “Apakah anda mengira bahwa kami mengira Thalhah dan Zubair berada di atas kebatilan?” Maka Ali menjawab, “Wahai Harits, engkau ini terkena talbis (kerancuan). Sesungguhnya kebenaran tidak diketahui dari orang-orangnya. Ketahuilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui pengikut kebenaran.” ---Talbisu Iblis hal. 101---

Sesungguhnya gerakan salafiyyun telah mendapat peringatan, kritikan dan nasehat dari para ulama, berkenaan dengan penyelisihan-penyelisihan mereka secara jelas terhadap aqidah ahlu sunah wal jama’ah. Namun mereka tetap berjalan dengan penyelewengan mereka, bahkan semakin keras dan menyerang kelompok-kelompok umat Islam di luar mereka.

2- Sekulerisme
Maka inilah yang terjadi, bagaimana sebuah kelompok yang menamakan dirinya salafiyyun, pengikut salafu sholih, namun menganut paham sekulerisme. Inilah pernyataan syaikh nomor kedua mereka, syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah:
“Saya meyakini bahwa slogan “berikan hak kaisar kepada kaisar, dan hak Tuhan kepada Tuhan“ adalah sebuah kalimat bijaksana yang sesuai dengan zaman kita sekarang ini.” ---Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 172---

Ya, tentu saja sangat sesuai dengan gerakan salafiyyun, namun jelas sangat bertentangan dan tidak sesuai dengan Islam. Semua ulama ahlu sunah wal jama’ah memahami bahwa Islam adalah agama dan negara. Islam tidak sekedar mengatur urusan ritual peribadahan semata, namun juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dan semua ulama juga telah bersepakat, bahwa sekulerisme merupakan sebuah paham kufur.

Tak heran bila gerakan salafiyyun ini gencar melarang berbicara urusan politik, tahkimu syari’ah, amar makruf kepada penguasa, apalagi urusan khilafah Islamiyah. Menurut mereka, orang-orang yang mengangkat tema-tema tahkimu syari’ah, amar makruf kepada penguasa atau khilafah adalah kelompok hizbiyyun, Khawarij, ahlu bid’ah, orang-orang yang haus kekuasaan, orang-orang yang tidak memperdulikan urusan dakwah tauhid. Padahal jelas, semua ulama telah ijma’ bahwa amar maruf dan menegakkan khilafah merupakan sebuah kewajiban kifayah. Fardhu kifayah bila tidak tuntas menjadi fardhu ‘ain. Adapun tuduhan tidak memperdulikan dakwah tauhid dan haus kekuasaan, tentunya sebuah tuduhan yang harus dibuktikan dengan bukti-bukti nyata, kalau tidak tentu sebuah tuduhan kosong.

Yang lebih mengherankan lagi, mereka menganggap pemerintahan sekuler sebagai pemerintahan Islam yang wajib ditaati oleh kaum muslimin. Maka semua orang yang paham tauhid tentu akan tertawa, ketika melihat kekonyolan mereka menganggap pemerintahan Nushairiyah Syiria, misalnya, sebagai pemerintahan Islam yang harus ditaati, dan mereka menghujat mujahidin Syiria yang berjihad melawan pemerintah Nushairiyah. Padahal, semua orang yang paham tauhid tentu paham bahwa ulama Islam telah ijma’ bahwa Nushairiyah adalah sekte kafir. Ya, kelucuan-kelucuan lainnya yang timbul dalam urusan ini tak bisa dipisahkan dari prinsip sekulerisme yang dianut oleh syuyukh mereka ini.

3- Menihilkan Jihad

Ta’thil (menihilkan) jihad, itulah salah satu salafiyyun yang mendakwakan dirinya sebagai kelompok paling ahlu sunah, atau bahkan satu-satunya ahlu sunah dan di luar kelompok mereka ahlu bid’ah dan hizbiyah semua. Padahal jelas, salah satu sifat utama thaifah manshurah adalah jihad fi sabilillah, berperang di jalan Allah Ta’ala untuk meninggikan kalimatullah. Bahkan asbabul wurud hadits tentang thaifah manshurah pun berasal dari adanya sebagian shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang menyatakan jihad sudah selesai.

Jihad merupakan sifat tak terlepaskan dari generasi salafu sholih, dan jihad akan senantiasa berlanjut sampai umat Islam bertempur melawan Dajjal. Para ulama juga telah ijma’ bahwa manakala musuh menduduki salah satu negeri Islam, jihad menjadi fardhu ‘ain. Negeri Islam pertama yang lepas ke tangan tentara salib adalah Andalus (Spanyol), tahun 1492 M, atau 510 tahun yang lalu. Sampai hari ini, Andalus tetap menjadi negara nasrani maka jihad membebaskannya fardhu ‘ain atas seluruh umat Islam yang mampu. Bahkan, negeri Palestina yang hanya beberapa ratus kilo meter dari pusat lahirnya gerakan Salafiyyun dan tempat lahir dan tinggalnya para syuyukh mereka, telah jatuh ke tangan Inggris sejak 1917 M, lalu ditegakkan negara Israel tahun 1948 M. Sampai saat ini, jihad untuk membebaskan Palestina belum tuntas, maka jihad untuk membebaskan Palestina menjadi fardhu ‘ain.

Namun begitu, simaklah fatwa syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, yang tinggal hanya beberapa ratus kilometer dari bumi Palestina:
“Silahkan anda meneliti ayat-ayat yang datang untuk melengkapi dan menjelaskan ayat yang memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan ---(QS. Al Anfal: 60-pent)---, maka anda akan menegtahui bahwa jihad yang paling utama hari ini ---saat kita dalam kelemahan seperti sekarang ini--- adalah menahan diri dari berjihad.” ---Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 204---

Ya, itulah fatwa syaikh kedua gerakan salafiyun. Maka mereka pun diam seribu bahasa, tidak peduli dengan nasib kaum muslimin Palestina yang setiap hari meregang nyawa di tangan peluru-peluru tentara zionis Israel. Mereka pun diam ketika dua juta umat Islam Iraq meregang nyawa akibat embargo ekonomi tentara salibis Internasional dan negara-negara Arab antek AS. Bahkan, anda mungkin akan terkejut membaca fatwa syaikh pertama mereka, fadhilatu syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani yang memfatwakan umat Islam Palestina untuk berhijrah. Ya, silahkan berhijrah dari Palestina, tidak usah berjihad, serahkan saja bumi Palestina kepada Israel. Inna lillahi wa Inna Ilaihi raji’un...
 
4- Cuek dengan perkembangan dunia sekitar, termasuk urusan umat Islam.

Syaikh Muhammad Syaqrah menyatakan:

“Termasuk fiqhul waqi’ (memahami realita yang ada) adalah engkau meninggalkan fiqhul waqi’ supaya fiqhul waqi’ menjadi sempurna dalam dirimu sehingga engkau menjadi orang yang paling tahu dan paham tentang fiqhul waqi’.” –Hiya As salafiyah hal. 148---

Tak usah membaca koran, majalah, mendengar radio, melihat TV. Tak usah peduli dengan segala apa yang terjadi dengan dunia sekitar anda. Tak usah peduli dengan nasib ratusan juta umat Islam di seluruh dunia, biarkan saja mereka, nanti anda akan menjadi orang yang paling paham dengan kondisi mereka. Diamnya anda, kesibukan anda dengan tarbiyah dan tasfiyah, kecuekan anda dengan jahiliyah modern hari ini, akan menjadikan anda orang yang paling paham dengan kondisi dunia modern. Anda cuek dan diam, sibuk dengan urusan anda, maka anda akan menjadi orang yang paling pintar, mengalahkan semua pengamat. Untuk pandai dan paham tentang dunia sekitar, tak perlu belajar dan mencari tahu, cukup tasfiyah dan tarbiyah, kun fayakun anda jadi orang paling pintar.

Sebuah prinsip yang sangat bagus dan menggiurkan. Ukhuwah imaniyah yang menuntut kita memperhatikan nasib seluruh saudara muslim di dunia, bisa dirontokkan dengan dua baris kalimat sakti syaikh Salafiyah. Bila demikian keadaannya, maka hendaklah kita mencamkan wasiat shahabat Umar bin Khatab radhiyallahu anhu:
“Ikatan Islam akan lepas satu persatu bila di kalangan umat Islam; timbul sebuah generasi yang tidak paham dengan jahiliyah.” ---Ibnu Qayyim, Al Fawaid hal. 143---

Tidak paham konspirasi salibis-zionis-musyrikin, tidak paham kondisi saudara-saudara muslim di berbagai belahan dunia yang sedang kesulitan, tidak paham sekulerisme, Khawarij, Murjiah, Jabariyah, Jahmiyah, bahkan tidak Ahlu Sunah wal Jama’ah. Ya, sudah, hancurlah Islam. Lepaslah ikatan Islam.

Inilah gambaran sekilas latar belakang pemikiran gerakan sesat Murjiah ekstrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan Salafiy atau Salafiyyah. Mereka menganggap penyelewengan mereka dari aqidah ahlu sunah wal jama’ah sebuah perkara remeh, padahal di sisi Allah Ta’ala sebuah perkara yang besar.

Tulisan super singkat ini belum membahas banyak hal tentang aqidah dan manhaj gerakan salafiyah. Insya Allah, di lain kesempatan berbagai masalah yang berkaitan dengan gerakan ini akan disorot. Yang jelas, kemungkinan besar akan ada pihak-pihak yang merasa keberatan dan tidak terima dengan tulisan ini. Maka, kepada saudara muslim siapapun dirinya, kami nasehatkan beberapa hal berikut ini:

- Mengembalikan seluruh perselisihan kepada Al Qur’an dan As Sunah sesuai pemahaman salafu sholih,
- Tidak ta’ashub buta dan taqlid buta kepada siapapun, seberapapun kebesaran jasanya dan ketinggian ilmunya karena tidak ada yang ma’shum selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

Wallahu a’lam bish shawab.
 
hmm....
ideologisnya merasa mereka yang paling benar......

wah, ini namanya sombong........

padahal Allah sangat membenci pada orang2 yang sombong walaupun sebesar sebiji zarah, tetap manusia tak boleh sombong.......

sombong itu selendangnya Allah dan Allah lah yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dsb, tentu bhs umumnya yang terhebat boleh sombong :D

dan kebenaran hanya milik Allah lalu menurunkan ajarannya kepada Rasulullah SAW
 
^
Setuju. Manusia tidak boleh sombong. Allah membencinya.

TS dapat sumber dari mana? hasul Co-Pas tulisan orang, apa nulis sendiri? Panjang sekali ... capek bacanya /wah
 
Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, di tengah kaum muslimin muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya salafiyah atau salafiyun. Mereka menyatakan dirinya sebagai umat Islam yang paling ahlu sunah wal jama’ah, paling firqah najiyah, paling salafu sholih dan paling thaifah manshurah. Siapa bergabung dengan mereka, mereka anggap kelompok ahlu sunah wal jama’ah. Siapa tidak bergabung dengan mereka, mereka sebut sebagai ahlu bid’ah, ahlul ahwa’, hizbiyah, Khawarij, firqah dhalalah dan sebutan mengerikan lainnya. Sebenarnya, apa gerakan salafiyyun itu? Bagaimana aqidah dan manhaj mereka menurut Al Qur’an dan As Sunah ‘ala fahmi salafi sholih? Betulkah yang bergabung dengan mereka termasuk ahlu sunnah, dan yang tidak bergabung termasuk hizbiyah dan ahlu bid’ah? Benarkah segala klaim dan tudingan mereka?

Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak kita, manakala melihat kiprah gerakan salafiyyun di medan dakwah. Vonis-vonis keras kepada personal muslim atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka, dan pengkultusan kepada para syuyukh di kalangan mereka sehingga mereka tidak menerima bila syuyukh mereka dikritisi, benarkah ini cerminan interaksi sosial ala ahlu sunah terhadap ahlu bid’ah? Ataukah ada sesuatu yang salah?
Karena saya sudah bosan untuk menanyakan sumber thread ini maka seterusnya saya tidak akan menanyakannya, :P

Ceritanya balas dendam nih karena Syaikh Nasarudin Al-Albani rahimahullah
(ulama salaf) TERNYATA tidak mendukung bom bunuh diri :D

1- Ta’ashub dan Taqlid buta
Bila diperhatikan, sebenarnya sikap ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sikap ini lahir dari sikap hizbiyyah mereka, yang mereka terima dari para syuyukh mereka sendiri. Betapa tidak, sejak awal belajar, seorang muslim yang bergabung dengan kelompok ini sudah didoktrin untuk menerima suatu dogma: bahwa kebenaran itu mempunyai tanda-tanda pengenal dan menara penerang, yang berwujud ajaran yang diterima dari kelompok mereka !!!

Itulah yang diajarkan para syuyukh mereka. Adalah syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari --- seorang syaikh panutan mereka yang mengakui dirinya sebagai syaikhu salafiyyin ketiga, setelah syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani dan Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah---, yang menyatakan ijma’ tentang kedudukan tiga syuyukh salafiyyun ini dengan mengatakan:

“Para ulama kami yang agung itu, mereka itulah bintang-bintang pemberi petunjuk dan meteor yang tinggi, barang siapa berpegang teguh dengan mentaati mereka; mereka itulah yang selamat??? Dan barang siapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat???? “ ---At Tahdziru Min Fitnati Takfir hal. 39---
:D:D:D
Siapakah yang fanatik dan mengekor secara membabi buta :P

Bahkan kami diberitahu tentang bukti/dasar para ulama salaf mengambil
fatwa-fatwa tersebut yaitu Al Qur'an & As-sunah (shahih) dan dipahami
sebagaimana para salafus shalih memahaminya.

Mengenai perkataan syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari, hal itu wajar-wajar
saja mengingat para guru (rahimahullah) tersebut menjadi teladan hidup
(walau sekarang sudah meninggal dunia) yang dijadikan tempat bertanya
dan meminta fatwa mengenai ISLAM.

Jika ini yang dikatakan oleh syaikh panutan mereka, lantas bagimana dengan para pengikut mereka? Statement ini perlu mendapat catatan:

Pertama. Ijma’ menurut para ulama adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahidin ---bukan para syuyukh salafiyyun--- setelah wafatnya Rasulullah, dalam suatu masa tertentu, atas suatu persoalan tertentu. Yang dimaksud dengan kesepakatan adalah tidak adanya pendapat yang menyelisihi, meski dari seorang ulama pun. Bila ada seorang ulama yang menyelisihi, maka namanya bukan ijma’.
Dan ulama-ulama Su' tidak masuk hitungan ;)

Kedua. Pernyataan bahwa siapa yang bergabung dengan syaikh fulan dan membelanya benar atau salah berarti kelompok yang benar, dan siapa mengkritik (memusuhi?) dan tidak bergabung dengan syaikh fulan berarti kelompok yang salah dan sesat, merupakan sebuah hizbiyah, ta’ashub buta dan taqlid buta yang terlarang, sama sekali bukan sikap ahlu sunah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
”Barang siapa menjadikan seseorang selain Rasulullah; siapa mengikutinya dan sejalan dengannya (disebut) ia adalah seorang ahlu sunah, dan siapa yang menyelisihinya berarti adalah ahlu bid’ah dan firqah, sebagaimana terdapat pada kelompok pengikut para ulama ahlu kalam ---dan juga salafiyyun hari ini--- (ini perkataan penulis kan:P) dan kelompok lainnya, maka ia termasuk ahlu bid’ah, dholal (sesat) dan tafaruq (pemecah belah persatuan umat Islam).” –Majmu’ Fatawa 3/216-

Subhanallah, pernyataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini telah menyingkap dengan telak, siapa sebenarnya gerakan salafiyyun ini. Alhamdulillah, kita tak perlu bersusah payah, syaikhul Islam sudah membongkarnya dengan sangat telak.

Imam Abdurahman Ibnu Jauzi mengatakan:
“Ketahuilah sesungguhnya mayoritas para ahlu bid’ah itu; dalam hati mereka ada ta’dzim (mengagungkan, mengkultuskan) seseorang ---syaikh dll--- mereka mengikuti perkataannya tanpa mentadaburi apa yang dikatakan, ini adalah sebuah kesesatan, karena melihat itu seharusnya kepada apa yang dikatakan, bukan kepada siapa yang mengatakan. Sebagaimana dikatakan oleh imam Ali kepada Harits bin Hauth. Harits mengatakan kepada Ali, “Apakah anda mengira bahwa kami mengira Thalhah dan Zubair berada di atas kebatilan?” Maka Ali menjawab, “Wahai Harits, engkau ini terkena talbis (kerancuan). Sesungguhnya kebenaran tidak diketahui dari orang-orangnya. Ketahuilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui pengikut kebenaran.” ---Talbisu Iblis hal. 101---

Sesungguhnya gerakan salafiyyun telah mendapat peringatan, kritikan dan nasehat dari para ulama, berkenaan dengan penyelisihan-penyelisihan mereka secara jelas terhadap aqidah ahlu sunah wal jama’ah. Namun mereka tetap berjalan dengan penyelewengan mereka, bahkan semakin keras dan menyerang kelompok-kelompok umat Islam di luar mereka.
Purple, bold :Hanya orang-orang berpikiran sempit yang mengikutinya.

Purle, italic: Dan kami pun berbuat demikian terhadap para syuyukh (guru)
kami.

2- Sekulerisme
Maka inilah yang terjadi, bagaimana sebuah kelompok yang menamakan dirinya salafiyyun, pengikut salafu sholih, namun menganut paham sekulerisme. Inilah pernyataan syaikh nomor kedua mereka, syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah:
“Saya meyakini bahwa slogan “berikan hak kaisar kepada kaisar, dan hak Tuhan kepada Tuhan“ adalah sebuah kalimat bijaksana yang sesuai dengan zaman kita sekarang ini.” ---Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 172---

Ya, tentu saja sangat sesuai dengan gerakan salafiyyun, namun jelas sangat bertentangan dan tidak sesuai dengan Islam. Semua ulama ahlu sunah wal jama’ah memahami bahwa Islam adalah agama dan negara. Islam tidak sekedar mengatur urusan ritual peribadahan semata, namun juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dan semua ulama juga telah bersepakat, bahwa sekulerisme merupakan sebuah paham kufur.

Tak heran bila gerakan salafiyyun ini gencar melarang berbicara urusan politik, tahkimu syari’ah, amar makruf kepada penguasa, apalagi urusan khilafah Islamiyah. Menurut mereka, orang-orang yang mengangkat tema-tema tahkimu syari’ah, amar makruf kepada penguasa atau khilafah adalah kelompok hizbiyyun, Khawarij, ahlu bid’ah, orang-orang yang haus kekuasaan, orang-orang yang tidak memperdulikan urusan dakwah tauhid. Padahal jelas, semua ulama telah ijma’ bahwa amar maruf dan menegakkan khilafah merupakan sebuah kewajiban kifayah. Fardhu kifayah bila tidak tuntas menjadi fardhu ‘ain. Adapun tuduhan tidak memperdulikan dakwah tauhid dan haus kekuasaan, tentunya sebuah tuduhan yang harus dibuktikan dengan bukti-bukti nyata, kalau tidak tentu sebuah tuduhan kosong.

Yang lebih mengherankan lagi, mereka menganggap pemerintahan sekuler sebagai pemerintahan Islam yang wajib ditaati oleh kaum muslimin. Maka semua orang yang paham tauhid tentu akan tertawa, ketika melihat kekonyolan mereka menganggap pemerintahan Nushairiyah Syiria, misalnya, sebagai pemerintahan Islam yang harus ditaati, dan mereka menghujat mujahidin Syiria yang berjihad melawan pemerintah Nushairiyah. Padahal, semua orang yang paham tauhid tentu paham bahwa ulama Islam telah ijma’ bahwa Nushairiyah adalah sekte kafir. Ya, kelucuan-kelucuan lainnya yang timbul dalam urusan ini tak bisa dipisahkan dari prinsip sekulerisme yang dianut oleh syuyukh mereka ini.
:D:D:D
Tiada seorangpun yang menelanjangi dirinya sendiri di hadapan manusia
KECUALI ORANG-ORANG BODOH :P

Mari kita lihat kembali perkataan syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah:
“Saya meyakini bahwa slogan “berikan hak kaisar kepada kaisar, dan hak Tuhan kepada Tuhan“ adalah sebuah kalimat bijaksana yang sesuai dengan zaman kita sekarang ini.” ---Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 172---

Bandingkan dengan perkataan penulis
Semua ulama ahlu sunah wal jama’ah memahami bahwa Islam adalah agama dan negara.

Pertanyaan:
Apakah sama arti HAK dengan MEMAHAMI:-/:-/:-/

Hanya orang bodohlah yang mengikuti perkataan penulis.

Akan tiba saatnya bagi saya memposting fatwa ulama salaf mengenai
Yang lebih mengherankan lagi, mereka menganggap pemerintahan sekuler sebagai pemerintahan Islam yang wajib ditaati oleh kaum muslimin.
Dan jangan heran:P

3- Menihilkan Jihad

Ta’thil (menihilkan) jihad, itulah salah satu salafiyyun yang mendakwakan dirinya sebagai kelompok paling ahlu sunah, atau bahkan satu-satunya ahlu sunah dan di luar kelompok mereka ahlu bid’ah dan hizbiyah semua. Padahal jelas, salah satu sifat utama thaifah manshurah adalah jihad fi sabilillah, berperang di jalan Allah Ta’ala untuk meninggikan kalimatullah. Bahkan asbabul wurud hadits tentang thaifah manshurah pun berasal dari adanya sebagian shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang menyatakan jihad sudah selesai.

Jihad merupakan sifat tak terlepaskan dari generasi salafu sholih, dan jihad akan senantiasa berlanjut sampai umat Islam bertempur melawan Dajjal. Para ulama juga telah ijma’ bahwa manakala musuh menduduki salah satu negeri Islam, jihad menjadi fardhu ‘ain. Negeri Islam pertama yang lepas ke tangan tentara salib adalah Andalus (Spanyol), tahun 1492 M, atau 510 tahun yang lalu. Sampai hari ini, Andalus tetap menjadi negara nasrani maka jihad membebaskannya fardhu ‘ain atas seluruh umat Islam yang mampu. Bahkan, negeri Palestina yang hanya beberapa ratus kilo meter dari pusat lahirnya gerakan Salafiyyun dan tempat lahir dan tinggalnya para syuyukh mereka, telah jatuh ke tangan Inggris sejak 1917 M, lalu ditegakkan negara Israel tahun 1948 M. Sampai saat ini, jihad untuk membebaskan Palestina belum tuntas, maka jihad untuk membebaskan Palestina menjadi fardhu ‘ain.

Namun begitu, simaklah fatwa syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, yang tinggal hanya beberapa ratus kilometer dari bumi Palestina:
“Silahkan anda meneliti ayat-ayat yang datang untuk melengkapi dan menjelaskan ayat yang memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan ---(QS. Al Anfal: 60-pent)---, maka anda akan mengetahui bahwa jihad yang paling utama hari ini ---saat kita dalam kelemahan seperti sekarang ini--- adalah menahan diri dari berjihad.” ---Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 204---

Ya, itulah fatwa syaikh kedua gerakan salafiyun. Maka mereka pun diam seribu bahasa, tidak peduli dengan nasib kaum muslimin Palestina yang setiap hari meregang nyawa di tangan peluru-peluru tentara zionis Israel. Mereka pun diam ketika dua juta umat Islam Iraq meregang nyawa akibat embargo ekonomi tentara salibis Internasional dan negara-negara Arab antek AS. Bahkan, anda mungkin akan terkejut membaca fatwa syaikh pertama mereka, fadhilatu syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani yang memfatwakan umat Islam Palestina untuk berhijrah. Ya, silahkan berhijrah dari Palestina, tidak usah berjihad, serahkan saja bumi Palestina kepada Israel. Inna lillahi wa Inna Ilaihi raji’un...
:D:D:D
Bahkan penulis pun tidak mengerti hakikat jihad...:>

4- Cuek dengan perkembangan dunia sekitar, termasuk urusan umat Islam.

Syaikh Muhammad Syaqrah menyatakan:

“Termasuk fiqhul waqi’ (memahami realita yang ada) adalah engkau meninggalkan fiqhul waqi’ supaya fiqhul waqi’ menjadi sempurna dalam dirimu sehingga engkau menjadi orang yang paling tahu dan paham tentang fiqhul waqi’.” –Hiya As salafiyah hal. 148---

Tak usah membaca koran, majalah, mendengar radio, melihat TV. Tak usah peduli dengan segala apa yang terjadi dengan dunia sekitar anda. Tak usah peduli dengan nasib ratusan juta umat Islam di seluruh dunia, biarkan saja mereka, nanti anda akan menjadi orang yang paling paham dengan kondisi mereka. Diamnya anda, kesibukan anda dengan tarbiyah dan tasfiyah, kecuekan anda dengan jahiliyah modern hari ini, akan menjadikan anda orang yang paling paham dengan kondisi dunia modern. Anda cuek dan diam, sibuk dengan urusan anda, maka anda akan menjadi orang yang paling pintar, mengalahkan semua pengamat. Untuk pandai dan paham tentang dunia sekitar, tak perlu belajar dan mencari tahu, cukup tasfiyah dan tarbiyah, kun fayakun anda jadi orang paling pintar.

Sebuah prinsip yang sangat bagus dan menggiurkan. Ukhuwah imaniyah yang menuntut kita memperhatikan nasib seluruh saudara muslim di dunia, bisa dirontokkan dengan dua baris kalimat sakti syaikh Salafiyah. Bila demikian keadaannya, maka hendaklah kita mencamkan wasiat shahabat Umar bin Khatab radhiyallahu anhu:
“Ikatan Islam akan lepas satu persatu bila di kalangan umat Islam; timbul sebuah generasi yang tidak paham dengan jahiliyah.” ---Ibnu Qayyim, Al Fawaid hal. 143---

Tidak paham konspirasi salibis-zionis-musyrikin, tidak paham kondisi saudara-saudara muslim di berbagai belahan dunia yang sedang kesulitan, tidak paham sekulerisme, Khawarij, Murjiah, Jabariyah, Jahmiyah, bahkan tidak Ahlu Sunah wal Jama’ah. Ya, sudah, hancurlah Islam. Lepaslah ikatan Islam.

Inilah gambaran sekilas latar belakang pemikiran gerakan sesat Murjiah ekstrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan Salafiy atau Salafiyyah. Mereka menganggap penyelewengan mereka dari aqidah ahlu sunah wal jama’ah sebuah perkara remeh, padahal di sisi Allah Ta’ala sebuah perkara yang besar.

Tulisan super singkat ini belum membahas banyak hal tentang aqidah dan manhaj gerakan salafiyah. Insya Allah, di lain kesempatan berbagai masalah yang berkaitan dengan gerakan ini akan disorot. Yang jelas, kemungkinan besar akan ada pihak-pihak yang merasa keberatan dan tidak terima dengan tulisan ini. Maka, kepada saudara muslim siapapun dirinya, kami nasehatkan beberapa hal berikut ini:

- Mengembalikan seluruh perselisihan kepada Al Qur’an dan As Sunah sesuai pemahaman salafu sholih,
- Tidak ta’ashub buta dan taqlid buta kepada siapapun, seberapapun kebesaran jasanya dan ketinggian ilmunya karena tidak ada yang ma’shum selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

Wallahu a’lam bish shawab.

perkataan Syaikh Muhammad Syaqrah :

“Termasuk fiqhul waqi’ (memahami realita yang ada) adalah engkau meninggalkan fiqhul waqi’ supaya fiqhul waqi’ menjadi sempurna dalam dirimu sehingga engkau menjadi orang yang paling tahu dan paham tentang fiqhul waqi’.” –Hiya As salafiyah hal. 148---

Telah dibantah oleh gurunya sendiri, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Kami telah mendengar dari beberapa orang berkata : "Tidak penting bagi kita mengetahui realita ini". Ucapan ini sebuah kekeliruan. Yang tepat/adil jika dikatakan : "Bagi setiap ilmu yang beragam itu harus ada beberapa orang yang membidangi dan menjadi ahlinya, mereka saling tolong menolong , bahu membahu secara benar dan jujur sesuai dengan tuntunan syariat, tanpa adanya pengkotak-kotakan (hizbiyyah) dan fanatisme. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan kebaikan/kepentingan ummat Islam dan menegakkan apa yang menjadi cita-cita setiap muslim, yaitu menerapkan syariat Allah di setiap belahan bumi yang tidak menjalankannya"

Apakah kemudian Syaikh Muhammad Syaqrah menjadi jatuh martabatnya:-/

Selanjutnya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:
Yang sangat perlu untuk diterangkan pada kesempatan ini, bahwa seorang alim terkadang keliru atau salah dalam menghukumi suatu perkara tertentu dari sekian banyak problematika waqi'iyyah. Hal semacam ini adalah suatu perkara yang terjadi dan akan terjadi, akan tetapi apakah kasus tersebut menjatuhkan martabat sang alim itu atau ini ?. Dan menjadikan orang yang menyelisihinya menyifatinya dengan kata-kata yang tidak sepatutnya dikatakan kepadanya. Seperti dikatakan padanya, ini adalah seorang ahli fiqh dalam masalah syariat dan bukan ahli dalam masalah realita ummat (Fiqhul Waqi'). Pembagian semacam ini akan menyelisihi tuntunan syariat sekaligus menyelisihi realita. Sebab dari ucapan mereka itu seakan-akan mengharuskan kepada para ulama al-Qur'an dan as-Sunnah untuk mengetahui dan menguasai bidang perekonomian, sosial kemasyarakatan politik, militer, cara penggunaan persenjataan mutakhir dan lain sebagainya.

Saya tidak mengira bahwa seorang yang berakal sehat akan tergambar atau terbayang padanya kemungkinan terkumpul/terpadunya seluruh ilmu dan pengetahuan tersebut dalam dada seseorang meskipun ia seorang alim yang sempurna.

[Disalin dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, dengan judul asli "Hukmu fiqhil Waqi' wa Ahammiyyatuhu". Diterjemahkan oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku "Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini" hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i]
Benarlah perkataan engkau, wahai syaikh...:-*
 
pemikiran nya sudah seperti itu ya sudah..
kan emang gw tau klo syekh al bani itu tidak mendukung bom syahid..
tapi mengapa dia berkata mendukung aksi bom syahid...mana bantahananya?
manusia bisa saja ada perubahan...

Didalam Shahih Mawarid Azh Zham’an oleh Syaikh al AlBany (dipublikasikan setelah beliau wafat), dia berkata pada bab kedua, halaman 119, setelah menjelaskan hadits populer Abu Ayyub, mengenai firman Alloh walaa tulqu bi aydiikum ilat-tahlukah, dia berkata :

“Dan ini adalah kisah populer yang menjadi bukti yang sekarang dikenal sebagai operasi bunuh diri dimana beberapa pemuda Islam pergi lakukan terhadap musuh-musuh Alloh, akan tetapi aksi ini diperbolehkan hanya pada kondisi tertentu dan mereka melakukan aksi ini untuk Alloh dan kemenangan agama Alloh, bukan untuk riya, reputasi, atau keberanian, atau depresi akan kehidupan”
Ketika ditanya mengenai aksi bom Syahid Syaikh al Albany menjawab:

Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu, itu adalah jihad untuk Alloh, akan tetapi kita harus mempertimbangkan aksi ini tidak bisa dilakukan secara individual tanpa di desain oleh seseorang yang menjadi ketua yang mempertimbangkan apakah itu menguntungkan Islam dan kaum muslimin, dan jika Amir memutuskan untuk kehilangan mujahid tadi lebih menguntungkandibandingkan unuk menahannya, terutama jika hal itu menyebabkan kerusakan musuh, kemudian pendapat Amir tersebut terjamin bahkan walaupun si mujahid tadi tidak senang dengan dengan hal itu, maka dia harus me.........

http://www.fatwa-online.com/audio/other/oth010/0040828_2.rm

tuh kenapa dia bisa berkata itu?katanya ada bantahanya yg sudah diterjemahkan..itu sih bukan bantahan tentang kenapa dia bisa berkata seperti itu.aneh

sudah jels pemikiran nt sepert itu... nt ga ngebantah beberapa thread gw,,cuman nge les aja....

dah gitu saklek
 
Pathetic

pemikiran nya sudah seperti itu ya sudah..
kan emang gw tau klo syekh al bani itu tidak mendukung bom syahid..
tapi mengapa dia berkata mendukung aksi bom syahid...mana bantahananya?
manusia bisa saja ada perubahan...



http://www.fatwa-online.com/audio/other/oth010/0040828_2.rm

tuh kenapa dia bisa berkata itu?katanya ada bantahanya yg sudah diterjemahkan..itu sih bukan bantahan tentang kenapa dia bisa berkata seperti itu.aneh
=)) =)) =))
Bahkan sumber anda mengelabui anda, :P
Sumber anda mengubah kata muharamah yang ubah (translate menjadi
diperbolehkan)

sudah jels pemikiran nt sepert itu... nt ga ngebantah beberapa thread gw,,cuman nge les aja....

dah gitu saklek
eheem...yang mana ya
bukannya terbalik, lihat status post terakhir dari thread-thread sesat anda
:))

bahkan anda tidak mengerti apa-apa yang telah saya bantah :D:D:D
 
bantah saja deh kenapa al bani bisa berkata seperti itu

Ya Allah telah kusampaikan..saksikan lah Ya Allah...

sadarkanlah orang2 yg sombong (merendahkan yg laind an menilak kebenaran)
sadarkan orang2 yg taklid buta..
 
Wink!!!

bantah saja deh kenapa al bani bisa berkata seperti itu

Ya Allah telah kusampaikan..saksikan lah Ya Allah...

sadarkanlah orang2 yg sombong (merendahkan yg laind an menilak kebenaran)
sadarkan orang2 yg taklid buta..
:D:D:D
hati yang panas tidaklah berguna :P

Kalau memang dalam Shahih Mawarid Azh Zham’an itu Syaikh Al-Albani rahimahullah MEMANG PERNAH BERKATA demikian maka
link audio yang anda kasih itu justru membantahnya...

oya...anda masih ada PR di threadnya simbah45 : Bom bunuh diri...
selamat mengerjakan ;)
 
siapa yg panas yah?
siapa yg dari kemaren kemaren sampe ngotot nge bela negara saudi yah?
heheehehehe
sudah ketahuan....
 
bantah saja deh kenapa al bani bisa berkata seperti itu

Ya Allah telah kusampaikan..saksikan lah Ya Allah...

sadarkanlah orang2 yg sombong (merendahkan yg laind an menilak kebenaran)
sadarkan orang2 yg taklid buta..
:D:D:D
sapa to yang panas,
Terlihat dari ketikan post anda banyak kesalahan ketikan...
Mungkin buru-buru ya;;);;):>
 
emang kenapa gitu salah ketikan, emang terbiasa mengetik cepat kok..
biasa aja kali..
cari cari celah aja nih..untuk mengelak ga mau kalah dalam argumentasi..
dah gitu jawabnya gak argumentatif..

klo nt di jakarta...gw mau ketemu nt....silahkan PM gw...bakal gw kasih no telepon gw...
atau klo ada teman orang yg mengaku salafi di jakarta silahkan PM no teleponya..

klo di jakarta sini orang yg mengaku salafi selalu mengelak klo di ajak diskusi...
bisa nya cuman ngejelek jelekin atau fitnah melalui media dan pada saat kajian di forum2 orang yg mengaku salafi...

klo gw bicara ama orang salafi malah marah2 terus pergi...dimaki maki khawarij lah...
pernah juga ada orang HTI lagsung dimaki2 Mutazilah di mesjid..

Demi Allah ini kejadian nyata
 
emang kenapa gitu salah ketikan, emang terbiasa mengetik cepat kok..
biasa aja kali..
cari cari celah aja nih..untuk mengelak ga mau kalah dalam argumentasi..
dah gitu jawabnya gak argumentatif..

klo nt di jakarta...gw mau ketemu nt....silahkan PM gw...bakal gw kasih no telepon gw...
atau klo ada teman orang yg mengaku salafi di jakarta silahkan PM no teleponya..

klo di jakarta sini orang yg mengaku salafi selalu mengelak klo di ajak diskusi...
bisa nya cuman ngejelek jelekin atau fitnah melalui media dan pada saat kajian di forum2 orang yg mengaku salafi...

klo gw bicara ama orang salafi malah marah2 terus pergi...dimaki maki khawarij lah...
pernah juga ada orang HTI lagsung dimaki2 Mutazilah di mesjid..

Demi Allah ini kejadian nyata
:D:D:D
Terbukti kan pengalaman pribadi :>

:D:D:D
Nyata kan siapa yang panas :>

:D:D:D
Cukup di media inipun sudah memadai :))
 
:D:D:D
Terbukti kan pengalaman pribadi :>

:D:D:D
Nyata kan siapa yang panas :>

:D:D:D
Cukup di media inipun sudah memadai :))

pintar aja mengelak dan tidak mengakui....:D

itu2 aja..
seperti salafi lain yg di forum ini, mengatakan jangan marah dong..
klo nt jangan panas..
hanya itu senjatanya
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.