Artama_kwok
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 3197
- Sejak
- 13 Jul 2006
- Pesan
- 7.693
- Nilai reaksi
- 252
- Poin
- 83
JAKARTA, KOMPAS.com - Empat mahasiswa asal Indonesia yang disiksa polisi Mesir selama empat hari masih trauma dengan kejadian tersebut. Selain luka fisik yang harus diderita, mereka juga masih merasa terancam untuk tetap melanjutkan kuliah di sana.
"Adik saya hingga kini takut mengangkat telepon dan berniat pindah rumah. Sedangkan dua mahasiswa tingkat pertama saking takutnya berencana pulang ke Indonesia," kata Roudhatul Firdaus, kakak Fathurrahman, salah satu korban penyiksaan tersebut seperti dilaporkan Antara Minggu (5/7).
Namun, Roudhotul menyayangkan sampai saat ini belum ada penanganan serius terhadap adiknya dan korban kekerasan tersebut. Bukti-bukti tindak penganiayaan seperti visum terhadap korban dari rumah sakit juga belum dilakukan.
"Sampai sekarang adik saya juga belum divisum karena takut di rumah sakit akan kembali berurusan dengan intelejen Mesir. Seharusnya, KBRI memfasilitsi visum terhadap korban karena akan berguna untuk membuktikan telah terjadi penganiayaan," ujarnya.
Padahal, ia mengatakan insiden itu telah meninggalkan trauma mendalam selain luka fisik akibat penganiayaan. Ia juga mengaku bisa merasakan trauma mendalam dari adiknya lewat pesan singkat terakhir dari Fathurrahman yang diterimanya. Sebelumnya, Fathurrahman juga mengingatkan kakaknya agar kasus ini tidak dibesar-besarkan karena takut teror dan ancaman dari polisi Mesir berlanjut.
Ia berharap pihak KBRI memberikan perlindungan dan pendampingan untuk mengurangi trauma dari para korban. Ia khawatir kejadian tersebut akan berdampak pada keberlanjutan studi mereka di Kairo.
Roudhatul meyakini bahwa empat mahasiswa tersebut, termasuk adiknya, adalah korban salah tangkap dari pihak kepolisian Mesir. Ia menyayangkan bahwa hingga kini belum ada pernyataan permohonan maaf dari polisi setempat terkait peristiwa penahanan dan penganiayaan tersebut.
Roudhatul juga sangat yakin bahwa adiknya tidak terlibat jaringan pergerakan radikal ataupun masuk ke jaringan teroris seperti Al Qaeda. Ia menjelaskan, Fathurrahman adalah mahasiswa dengan beasiswa penuh dari Universitas Al Azhar dan hanya mengikuti organisasi pelajar dari Riau dan perkumpulan orang Sumatera selama di Mesir.
"Apa yang dilakukan polisi Mesir tidak mencerminkan azas praduga tak bersalah. Deplu harus mendesak pemerintah Mesir untuk menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa penganiayaan ini," ujarnya.
"Adik saya hingga kini takut mengangkat telepon dan berniat pindah rumah. Sedangkan dua mahasiswa tingkat pertama saking takutnya berencana pulang ke Indonesia," kata Roudhatul Firdaus, kakak Fathurrahman, salah satu korban penyiksaan tersebut seperti dilaporkan Antara Minggu (5/7).
Namun, Roudhotul menyayangkan sampai saat ini belum ada penanganan serius terhadap adiknya dan korban kekerasan tersebut. Bukti-bukti tindak penganiayaan seperti visum terhadap korban dari rumah sakit juga belum dilakukan.
"Sampai sekarang adik saya juga belum divisum karena takut di rumah sakit akan kembali berurusan dengan intelejen Mesir. Seharusnya, KBRI memfasilitsi visum terhadap korban karena akan berguna untuk membuktikan telah terjadi penganiayaan," ujarnya.
Padahal, ia mengatakan insiden itu telah meninggalkan trauma mendalam selain luka fisik akibat penganiayaan. Ia juga mengaku bisa merasakan trauma mendalam dari adiknya lewat pesan singkat terakhir dari Fathurrahman yang diterimanya. Sebelumnya, Fathurrahman juga mengingatkan kakaknya agar kasus ini tidak dibesar-besarkan karena takut teror dan ancaman dari polisi Mesir berlanjut.
Ia berharap pihak KBRI memberikan perlindungan dan pendampingan untuk mengurangi trauma dari para korban. Ia khawatir kejadian tersebut akan berdampak pada keberlanjutan studi mereka di Kairo.
Roudhatul meyakini bahwa empat mahasiswa tersebut, termasuk adiknya, adalah korban salah tangkap dari pihak kepolisian Mesir. Ia menyayangkan bahwa hingga kini belum ada pernyataan permohonan maaf dari polisi setempat terkait peristiwa penahanan dan penganiayaan tersebut.
Roudhatul juga sangat yakin bahwa adiknya tidak terlibat jaringan pergerakan radikal ataupun masuk ke jaringan teroris seperti Al Qaeda. Ia menjelaskan, Fathurrahman adalah mahasiswa dengan beasiswa penuh dari Universitas Al Azhar dan hanya mengikuti organisasi pelajar dari Riau dan perkumpulan orang Sumatera selama di Mesir.
"Apa yang dilakukan polisi Mesir tidak mencerminkan azas praduga tak bersalah. Deplu harus mendesak pemerintah Mesir untuk menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa penganiayaan ini," ujarnya.