Satsujin
IndoForum Newbie E
- No. Urut
- 71769
- Sejak
- 30 Mei 2009
- Pesan
- 32
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 6
Nila sedang duduk di atas toilet duduk di salah satu bilik di WC Putri SMPnya. Tangannya yang memegangku bergetar. Dia menahan nangis. Dan wajahnya tampak menyedihkan saat ini. Muka dan mata yang memerah, bibir bawahnya digigit, dan tangannya yang masih bergetar hebat. Kenapa dia tidak menangis saja? Kupikir siapapun wajar saja akan menangis jika diperlakukan seperti itu!
Tadi Nila menyusul temannya ke WC putri. Teman yang tidak terima ditertawakan oleh Nila saat ia jatuh itu. Nila meminta maap padanya. Tapi temannya itu malah mencaci makinya di depan teman-teman Nila yang lain. Seolah-olah Nila sudah melakukan hal yang amat jahat saja. Dan yang makin membuatku geram adalah Nila diam saja. Dia diam saja saat dihina-hina oleh temannya itu. UGH! Andai aku bisa menyuarakan pendapatku, kamu pasti sudah kubela Nila.
“Nila itu makin menyebalkan saja! Kamu tidak lihat dia tadi menertawakanku saat aku terjatuh. Memangnya dia tahu rasa sakit saat terjatuh? Memangnya dia tahu kalau lompat jauh itu sulit? Memangnya dia tahu semua itu, kalau dia tidak pernah ikut pelajaran olahraga seumur hidupnya?”
Nila diam saja saat dia mendengar kata- kata yang diucapkan oleh salah seorang temannya (entah siapa) dari balik bilik WC. Pantaslah Nila setengah mati menahan tangisnya. Sebabnya, temannya yang bahkan berbicara dengan suara kecil saja terdengar dari sini. Lalu, seseorang yang lain menyahut “Aku sih tidak masalah dengan hal itu. Yang membuat kita jadi makin jengkel dengannya adalah, makin hari, guru-guru makin tidak tanggung- tanggung memberikan nilai padanya. Kau lihat nilai matematikanya saat kenaikan kelas dua kemarin? Nilainya 9,8. Sungguh jengkel aku. Padahal aku yang berusaha sangat keras saja harus cukup puas dengan nilai 8,6. dia yang hanya berpangku tangan saja dapat 9,8. Dongkol!”
Lalu, teman yang satunya lagi menimpali
“Sejak kelas tiga ini pun dia jadi bertambah aneh. Jadi sok ramah. Semua disenyumin... suaranya dimanis-maniskan.. menyebalkan! Cepat-cepat mati sajalah!!”
Hening sesaat. Lalu aku melihat Nila. Dia... menangis tanpa suara.
Asin... Udara terasa asin di tebing yang selalu dihantam ombak laut ini. Sudah satu jam-an Nila duduk dan memandangi laut dalam bisu. Benar-benar bisu seribu bahasa. Memang dia sudah tidak menangis lagi. Tapi ini jauh lebih menyedihkan dari pada saat dia menangis tanpa suara di bilik WC itu. Tatapan matanya kosong. Entah apa yang dipikirkannya. Teman Nila itu jahat. Sampai mendoakan agar Nila cepat mati itu jahat sekali. Tiba-tiba Nila bangkit dan mengarahkanku ke arah laut. JEPRET! Tanpa menunggu positif filmku keluarpun aku sudah tahu kalau hasilnya buruk. Tidak fokus. Cuma asal jepret saja. Saat positif filmku keluar dan mulai tampak gambarnya, Nila menghela napas dan berkata “’penangkapan waktu’ gagal...”
Lalu Nila duduk kembali dan membisu lagi. Handphone Nila berbunyi terus dari tadi. Tapi dibiarkannya saja. Tentu orang tuanya khawatir. Nila langsung pergi ke tebing ini setelah waktu pulang sekolah tanpa pulang ke rumahnya dahulu. Dia seolah-olah menjadi malas untuk melakukan apa saja. Mana senyum dan optimisme yang terpancar dimatanya saat dia menceritakan tentang ‘menangkap waktu’? hilang semua. Saat ini yang kupandangi hanyalah seorang gadis menyedihkan dengan tatapan mata yang kosong, wajah berantakan, dan tidak ada gairah hidup. Sedih... sedih sekali rasanya melihat Nila dengan keadaan seperti ini. Padahal belum genap seminggu Nila jadi majikanku, tapi aku sudah sesayang ini padanya.
Kresek...!
Suara apa itu? Dari arah semak-semak dibelakang Nila. Nila juga mendengarnya sebab dia langsung menoleh ke arah semak- semak tersebut. Semak itu bergemerisik kian hebat saja.
“Siapa itu?!” Tanya Nila lantang.
Lalu, tiba-tiba semak itu berhenti bergetar...
“Siapa itu?!!” Ulang Nila.
“Coba tebak?” ujar suara dari dalam semak itu balik bertanya.
“Hei aku tidak main-main!!” Suara Nila terdengar jauh lebih seperti orang ketakutan dari pada orang yang sedang mengancam.
“Sayangnya saat ini aku sedang main-main” jawab suara dari dalam semak-semak itu dengan enteng.
Dan detik kemudian, muncul seorang gadis yang usianya lebih tua daripada Nila. Dia memakai kaos warna hijau dan celana jeans biru dongker. Ransel yang dikenakannya terlihat berat. Dan dia sedang memegang kamera digital di tangan kanannya.
“Jangan ketakutan begitu ah! Aku bukan kanibal kok..” katanya sembarangan sambil berjalan ke arah Nila dan akhirnya duduk di sebelahnya.
Nila sepertinya terlalu terkejut sehingga tidak mengatakan apa-apa.
“Hei..hei... Lihat ini.” Kata Gadis itu seraya memperlihatkan gambar yang tampak pada kamera digitalnya.
Tadi Nila menyusul temannya ke WC putri. Teman yang tidak terima ditertawakan oleh Nila saat ia jatuh itu. Nila meminta maap padanya. Tapi temannya itu malah mencaci makinya di depan teman-teman Nila yang lain. Seolah-olah Nila sudah melakukan hal yang amat jahat saja. Dan yang makin membuatku geram adalah Nila diam saja. Dia diam saja saat dihina-hina oleh temannya itu. UGH! Andai aku bisa menyuarakan pendapatku, kamu pasti sudah kubela Nila.
“Nila itu makin menyebalkan saja! Kamu tidak lihat dia tadi menertawakanku saat aku terjatuh. Memangnya dia tahu rasa sakit saat terjatuh? Memangnya dia tahu kalau lompat jauh itu sulit? Memangnya dia tahu semua itu, kalau dia tidak pernah ikut pelajaran olahraga seumur hidupnya?”
Nila diam saja saat dia mendengar kata- kata yang diucapkan oleh salah seorang temannya (entah siapa) dari balik bilik WC. Pantaslah Nila setengah mati menahan tangisnya. Sebabnya, temannya yang bahkan berbicara dengan suara kecil saja terdengar dari sini. Lalu, seseorang yang lain menyahut “Aku sih tidak masalah dengan hal itu. Yang membuat kita jadi makin jengkel dengannya adalah, makin hari, guru-guru makin tidak tanggung- tanggung memberikan nilai padanya. Kau lihat nilai matematikanya saat kenaikan kelas dua kemarin? Nilainya 9,8. Sungguh jengkel aku. Padahal aku yang berusaha sangat keras saja harus cukup puas dengan nilai 8,6. dia yang hanya berpangku tangan saja dapat 9,8. Dongkol!”
Lalu, teman yang satunya lagi menimpali
“Sejak kelas tiga ini pun dia jadi bertambah aneh. Jadi sok ramah. Semua disenyumin... suaranya dimanis-maniskan.. menyebalkan! Cepat-cepat mati sajalah!!”
Hening sesaat. Lalu aku melihat Nila. Dia... menangis tanpa suara.
Asin... Udara terasa asin di tebing yang selalu dihantam ombak laut ini. Sudah satu jam-an Nila duduk dan memandangi laut dalam bisu. Benar-benar bisu seribu bahasa. Memang dia sudah tidak menangis lagi. Tapi ini jauh lebih menyedihkan dari pada saat dia menangis tanpa suara di bilik WC itu. Tatapan matanya kosong. Entah apa yang dipikirkannya. Teman Nila itu jahat. Sampai mendoakan agar Nila cepat mati itu jahat sekali. Tiba-tiba Nila bangkit dan mengarahkanku ke arah laut. JEPRET! Tanpa menunggu positif filmku keluarpun aku sudah tahu kalau hasilnya buruk. Tidak fokus. Cuma asal jepret saja. Saat positif filmku keluar dan mulai tampak gambarnya, Nila menghela napas dan berkata “’penangkapan waktu’ gagal...”
Lalu Nila duduk kembali dan membisu lagi. Handphone Nila berbunyi terus dari tadi. Tapi dibiarkannya saja. Tentu orang tuanya khawatir. Nila langsung pergi ke tebing ini setelah waktu pulang sekolah tanpa pulang ke rumahnya dahulu. Dia seolah-olah menjadi malas untuk melakukan apa saja. Mana senyum dan optimisme yang terpancar dimatanya saat dia menceritakan tentang ‘menangkap waktu’? hilang semua. Saat ini yang kupandangi hanyalah seorang gadis menyedihkan dengan tatapan mata yang kosong, wajah berantakan, dan tidak ada gairah hidup. Sedih... sedih sekali rasanya melihat Nila dengan keadaan seperti ini. Padahal belum genap seminggu Nila jadi majikanku, tapi aku sudah sesayang ini padanya.
Kresek...!
Suara apa itu? Dari arah semak-semak dibelakang Nila. Nila juga mendengarnya sebab dia langsung menoleh ke arah semak- semak tersebut. Semak itu bergemerisik kian hebat saja.
“Siapa itu?!” Tanya Nila lantang.
Lalu, tiba-tiba semak itu berhenti bergetar...
“Siapa itu?!!” Ulang Nila.
“Coba tebak?” ujar suara dari dalam semak itu balik bertanya.
“Hei aku tidak main-main!!” Suara Nila terdengar jauh lebih seperti orang ketakutan dari pada orang yang sedang mengancam.
“Sayangnya saat ini aku sedang main-main” jawab suara dari dalam semak-semak itu dengan enteng.
Dan detik kemudian, muncul seorang gadis yang usianya lebih tua daripada Nila. Dia memakai kaos warna hijau dan celana jeans biru dongker. Ransel yang dikenakannya terlihat berat. Dan dia sedang memegang kamera digital di tangan kanannya.
“Jangan ketakutan begitu ah! Aku bukan kanibal kok..” katanya sembarangan sambil berjalan ke arah Nila dan akhirnya duduk di sebelahnya.
Nila sepertinya terlalu terkejut sehingga tidak mengatakan apa-apa.
“Hei..hei... Lihat ini.” Kata Gadis itu seraya memperlihatkan gambar yang tampak pada kamera digitalnya.