• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Tokoh - Tokoh

T!T!~ch@/\/

IndoForum Banned
No. Urut
1035
Sejak
11 Mei 2006
Pesan
21.523
Nilai reaksi
1.324
Poin
113
Nah ini thread yang khusus d buat untuk memuat tokoh - tokoh yang ada d Indonesia, klo yang bermnat untuk menambahi silakan ya /heh

Kode:
Arijanto Jonosewojo dan Perjuangannya Mengangkat Pamor Obat Tradisional

Arijanto Jonosewojo termasuk dokter yang berani mendobrak kebiasaan. Di saat orang mencibir kekuatan obat tradisional, spesialis penyakit dalam itu justru berusaha membangun pamor pengobatan herbal. Dia semakin leluasa berkiprah ketika menjadi kepala Klinik Obat Tradisional Indonesia (OTI) RSU dr Soetomo.

---

Kabarnya Anda punya agenda khusus tentang pengobatan tradisional dalam waktu dekat?

Memang. Pada 10 hingga 12 Maret nanti, saya diundang WHO ke Yangoon, Myanmar, untuk menghadiri pertemuan pengobatan herbal seluruh Asia. Saya dan delegasi Indonesia lainnya akan presentasi perkembangan pengobatan tradisional negeri ini. Sebelumnya, 8 Maret, saya juga diminta mendampingi presiden ketika mengunjungi Kebun Tanaman Obat dan Tradisional Tawangmangu, Jawa Tengah.

Pandangan Anda tentang pengobatan tradisional sendiri?

Sebenarnya dunia pengobatan sudah menuju ke arah penggabungan antara model Barat dengan Timur. Dulu, Barat di anggap konvensional dan Timur nonkonvensional. Padahal, sebetulnya antara pengobatan Barat dan Timur itu selaras. Di Asia, tanaman herbal sudah berkembang pesat. Di Tiongkok, tanaman itu digunakan untuk obat, dan ternyata hasilnya baik. Begitu juga di India. Dalam perkembangannya, pengolahan tanaman herbal itu menggunakan teknologi ala Barat.

Kalau Anda tahu, saat ini obat herbal di Eropa sudah sangat maju. Jangan dikira bahan obat mereka melulu bahan kimia. Di Indonesia pun demikian. Selama ini kita menyebutnya sebagai jamu. Dan tidak tertutup kemungkinan bisa dijadikan brand Indonesia. Ke depan, kita akan berusaha mengangkat dan memasukkan jamu ke dalam pengobatan formal.

Obat herbal di Eropa bisa maju, bagaimana dengan jamu?

Muaranya adalah masalah kepercayaan. Saat ini pasar jamu kita diserbu obat herbal asing dari Tiongkok dan India. Kesan yang mereka berikan adalah modern. Di satu sisi, jamu identik dengan kalangan bawah. Inilah yang menjadi masalah. Padahal, jamu sangat berkhasiat dan merupakan warisan budaya bangsa. Tetapi, harus diakui bahwa kita masih butuh penelitian tentang cara pembuatan jamu.

Itu juga yang menyebabkan jamu kurang dilirik akademisi?


Betul. Aspek klinis jamu masih belum punya kepastian. Itu jelas membuat dokter tidak percaya 100 persen. Ini harus disadari karena jamu bukan berangkat dari penelitian, tetapi pengalaman. Dia ada dan dipercaya lewat tradisi nenek moyang yang turun menurun.

Minum beras kencur, misalnya, kita percaya tubuh bisa menjadi segar. Setelah diteliti, ternyata beras kencur mengandung zat untuk merangsang daya tahan tubuh. Inilah perlunya penelitian-penelitian terhadap jamu dan obat herbal.

Apakah itu yang akan dilakukan Poli Obat Tradisional Indonesia?

Kami bukan meneliti komposisi zat di dalam tanaman. Kami mencari khasiat klinis jamu tersebut dan berusaha menggabungkannya dengan pengobatan modern. Yang bertugas melakukan penelitian adalah orang farmasi.

Bisa cerita tentang poli obat tradisional?

Poli itu berdiri pada 19 Oktober 1999. Pada tahun-tahun itu krisis moneter sedang merajalela. Obat-obatan menjadi jarang. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Saat itulah direktur RSU dr Soetomo berinisiatif mengembangkan obat asli Indonesia. Akhirnya terbentuklah poli ini dan merupakan yang pertama di Indonesia.

Apakah tidak ada penolakan?

Memang sempat ada hambatan, terutama dari kalangan para dokter. Awalnya mereka tidak bisa menerima karena memang tidak terbiasa. Ada juga yang takut dibilang dokter dukun.

Waktu itu dibentuk tiga poli atas dasar SK direktur. Pertama poli olahraga, kedua menopause, dan ketiga poli OTI. Setelah OTI terbentuk, tidak ada satu pun yang mau jadi kepala. Akhirnya tugas ini saya ambil. Terpaksa rangkap jabatan Koordinator Pelayanan Medik di RSU dr Soetomo. Selama ini kami juga sudah melakukan penelitian tentang khasiat tanaman obat.

Mengapa penelitian tidak pernah dipublikasikan?

Ada kesepakatan internal bahwa kalau penelitian itu belum matang tidak boleh dipublikasikan. Kami khawatir hasilnya diambil orang. Misalnya, banyak sarjana kita sekolah di Malaysia. Mereka pulang karena mendapat gelar doktor. Dalam tugas akhir, mereka melakukan penelitian di sana. Nah, hasil penelitian itu diambil Malaysia.

Makanya, sekarang negara itu sangat maju dalam pengobatan herbal. Penelitian kita diambil, produknya dijual ke sini. Ini yang tidak kita diharapkan.

Apakah kita tidak bisa melakukan penelitian sendiri hingga tuntas?


Di Fakultas Farmasi Unair ini sudah biasa dilakukan. Di sana sudah diteliti kandungan berbagai tanaman herbal. Nyatanya memang banyak obat modern yang berbahan herbal. Contohnya, obat antivirus untuk HIV yang diproduksi di Amerika. Bahan dasarnya ternyata dari sambiloto. Karena persaingan bisnis, mereka tidak memberi tahu publik.

Contoh lain obat hepatitis. Bahan dasarnya ternyata temu lawak. Tetapi, temu lawak malah diklaim sebagai tanaman dari Korea Selatan. Padahal, pengobatan dari temu lawak berasal dari tradisi kita. Itulah yang kami sesalkan. Banyak penelitian kita tentang obat tradisional yang tidak dipatenkan, tapi malah dipateni.

Bagaimana solusinya agar kondisi itu tidak berlarut-larut?

Memang harus ada kerja sama, terutama antara sektor pertanian, farmasi, dan kedokteran. Selama ini, sektor pertanian merasa tidak dihargai oleh farmasi. Mereka lantas mengekspor produknya. Lalu, pihak farmasi merasa dokter tidak menghiraukan risetnya. Sudah susah-susah meneliti herbal alami, dokter tidak mau pakai.

Dokter juga enggan menggunakan obat herbal karena dosis dan cara pembuatannya tidak bisa dibuktikan secara medis. Dari situlah harus ada komunikasi. Mereka harus bersatu. Pemasarannya juga harus menarik dan obatnya wajib punya standar. Dunia kedokteran menyebutnya obat berstandar itu phitofarmaka. Artinya, obat itu sudah diteliti secara preklinik pada hewan dan klinik pada manusia.

Apakah obat herbal aman 100 persen?

Salah kalau menganggap obat herbal itu aman 100 persen. Kita harus tetap hati-hati. Sebab, kita tidak banyak tahu zat aktif apa yang terdapat dalam tanaman itu. Pemakaian obat herbal harus melalui pengawasan dari farmasi dan dokter. Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan, Red) juga harus rutin mengedarkan info tentang tanaman-tanaman berbahaya. Sebab, ternyata tidak semua tanaman layak pakai.

Hal yang sama berlaku pada obat modern. Contohnya begini, banyak orang merasa liver sakit. Apa sebabnya? Ternyata karena obat flu dibuat bebas dan menggunakannya secara sembarangan. Makanya, kita butuh pengawasan ekstra dalam pemakaian obat.

Pandangan Anda tentang masa depan obat herbal kita?

Saya optimistis saja. Sekarang banyak perusahaan farmasi yang memproduksi obat dari bahan herbal. Yang perlu kita kejar sekarang adalah penelitian tentang obat herbal agar jenis yang diproduksi bisa lebih banyak dan lebih murah.

Contohnya, kapsul dari biji mahoni untuk kencing manis produksi Malaysia dijual dengan harga Rp 450 ribu per 30 biji. Kalau kita produksi sendiri, pasti harganya jauh lebih murah. (ahmad ainur rohman/fat) '

Tentang Arijanto Jonosewojo

Lahir : Surabaya, 20 Agustus 1953

Istri: Eriana Soedarno

Anak: Ardhana Pranasatria

Hernanto Sasongko

Lia Kinasih Ayuningati

Cucu: Rama Pravanda

Kalila

Pendidikan


Formal : Kedokteran Umum FK Unair (lulus 1981) Spesialis Penyakit Dalam FK Unair (Tamat 1993)

Nonformal: Training of Trainer Pengobatan Tradisional Unair

Karir

- Kepala Puskesmas Margoyoso Kecamatan Talang Padang, Lampung Selatan (1982-1985)

- Direktur RSU Pringsewu, Lampung Selatan (1985-1987)

- Kepala Divisi Hematologi-Onkologi RSAL dr Ramelan (1994-1997)

- Kepala Klinik Obat Tradisional Indonesia (OTI) RSU dr Soetomo (1999-Sekarang)

- Ketua Ikatan Pengobat Tradisional Alternatif, Komplementer se Indonesia (2005-Sekarang)

- Kepala Poli Klinik Pengobatan Komplementer- Alternatif RSU dr Soetomo (2006-Sekarang)

- Ketua Program Studi D3 Pengobat Tradisional FK Unair (2008-Sekarang)
 
kalo ane sih demen sama cerpen2 orang ini :

Umar_kayam.jpg


Umar Kayam (Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932 - Jakarta, 16 Maret 2002) merupakan seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan berkebangsaan Indonesia.

Dia menjabat sebagai Guru Besar Sastra Universitas Gadjah Mada (1978-1997) juga pernah antara lain menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Radio, Televisi, Film Departemen Penerangan (1966-1969) serta Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972).

Ia juga pernah memerankan Presiden Soekarno, pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Umar Kayam wafat pada 16 Maret 2002 setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan seorang istri dan dua anak.




Your Thread is safe from PertamaX junker.

-IPC-
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.