• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Artikel Dhamma

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
Threat ini dibuat supaya teman-teman yang memiliki naskah yang berbentuk artikel, agar kita arsip dengan baik di threat ini. Untuk sementara waktu, menunggu respon dari teman-teman semua. Threat ini kita biarkan dulu seperti ini.

Bila teman-teman merasa threat seperti ini bermanfaat bagi kemudahan kita untuk mencari naskah/artikel Dhamma, silahkan beri pendapat. Nanti kita tentukan apakah bisa di sticky atau tidak.

Karakteristik untuk jenis Artikel:
  • Karangan/naskah/tulisan harus mempunyai nuansa Buddha, dari aliran apa saja.
  • Tulisan berupa karangan - buah pikiran seseorang.
  • Bukan berupa cuplikan utuh dari kitab suci.
  • Cenderung bersifat terbuka, sebagai bahan bacaan yang tidak menimbulkan debat. Karena hanya berupa buah pikiran seseorang.
  • Isi artikel tidak menjelek-jelekkan aliran tertentu, bebas SARA, dan diusahakan tidak yang menimbulkan flame.

Mari kita kembangkan Forum Buddha. Berbagi buah pikiran, ide, dan pengetahuan membuat kita semakin tahu apa itu hidup dan bagaimana kira-kira bila dilihat dari sudut pandang Buddha Dhamma.

Sebagai contoh, artikel berikut (sorry kalau Repost :D):

2733248042_7465c50153.jpg


Saddha Vs Dogma
Willy Yanto Wijaya​

Beberapa waktu yang lalu, kita sempat dihebohkan oleh rumor “ring in red”, yaitu nomor panggilan handphone yang berwarna merah. SMS-SMS berantai pun dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Nusantara, ada yang mengatakan bahwa nomor merah itu adalah praktek guna-guna/ ilmu hitam yang dapat membunuh orang dalam sekejap; atau versi lain SMS adalah bahwa nomor merah itu adalah transfer radiasi kuat yang dapat membahayakan kesehatan/ membunuh orang (mungkin versi ini dibikin supaya terkesan lebih masuk akal dan ilmiah – untuk mempengaruhi orang-orang yang lebih berpendidikan).

Entah siapa orang pertama yang mengirim SMS tersebut. Tapi, dari fenomena ini kita dapat melihat bagaimana pola pikir sebagian besar penduduk Indonesia yang takhyul (suka mempercayai hal-hal yang aneh/ belum tentu benar) dan mudah termakan rumor/isu/ gosip. Ketika menerima SMS berantai tersebut, penulis sempat berkelakar bahwa akan ajaib sekali jika penulis bisa menerima “ring in red” tersebut, sebab layar handphone penulis adalah hitam-putih. Bagaimana mungkin bisa tiba-tiba layar handphone memendarkan warna merah? Itu adalah pelanggaran terhadap hukum fisika!

Bagi penulis, versi bahwa “ring in red” adalah praktek guna-guna/ilmu hitam kuranglah dapat diterima, karena tidak logis/ ilmiah. Kalaupun memang “ilmu hitam”, menurut Buddhisme tidaklah perlu ditakutkan apabila kita melatih sila, dan apalagi samadhi yang benar. Untuk versi bahwa “ring in red” adalah radiasi kuat yang dapat membunuh dalam sekejap, memang sepintas terdengar masuk akal. Namun teknologi radiasi dan transfer energi saat ini belum sejauh itu. Bahkan sepengetahuan penulis, teknologi transfer energi (contoh: men-charge handphone secara wireless (nirkabel)) saja pun masih baru dalam tahap riset (penelitian). Memang, radiasi handphone sebenarnya tidak baik untuk kesehatan, namun efek membunuh jangka pendek seperti itu (untuk saat ini) tidaklah realistis.

“Ring in Red” hanyalah salah satu hoax (kepalsuan) diantara banyaknya hoax yang beredar (terutama di internet). Kadang batas antara kebenaran dan kepalsuan memang sangat tipis. Istilahnya, kalau suatu kebohongan/kepalsuan terus diulang sampai 1000 kali, mungkin ia akan menjadi “kebenaran”.

Lalu, bagaimana kita bisa membedakan antara kepalsuan dengan kebenaran? Apakah kita boleh memiliki keyakinan terhadap suatu hal (terhadap sesuatu yang kita anggap “benar”)? Dalam ajaran Buddha, keyakinan (saddha) mestilah dilandaskan pada Ehipassiko (come and see – datang dan lihatlah (buktikan)). “See” disini selain berarti “melihat”, juga bermakna “mengerti”, “memahami” (dengan cara membuktikan). Ajaran Buddha tidak pernah mendorong kita untuk menerima “dogma” (suatu hal atau “kebenaran” yang mutlak harus diterima, tanpa boleh dipertanyakan/dilakukan pembuktian). Oleh sebab itu, ketika kita disodorkan pada suatu informasi/“kebenaran”, kita mesti mengujinya terlebih dulu.

Lalu bagaimana kita menguji suatu “kebenaran”? Dengan kata lain, bagaimana kita membedakan antara yang benar dengan yang tidak-benar? Menurut hemat penulis, ada dua aspek yang mesti selalu dijadikan pertimbangan ketika kita menguji suatu hal atau “kebenaran”. Aspek pertama adalah Aspek Pengetahuan. Aspek Pengetahuan yaitu landasan kita untuk menalar suatu “kebenaran” berdasarkan logika, akal sehat, dan sains. Penalaran ini dapat mencakup pembelajaran/ observasi kita terhadap lingkungan di sekeliling kita, pembelajaran kita terhadap pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami. Dengan menggunakan Aspek Pengetahuan ini saja, kita bakal mampu mem-filter (menyaring) hampir sebagian besar kepalsuan-kepalsuan yang ada, termasuk rumor “ring in red” yang sempat beredar di masyarakat. Memang, untuk memiliki akal sehat, logika, dan cara pikir ilmiah (berdasarkan sains), tentu dibutuhkan pembelajaran. Walaupun tidak mudah, namun buah dari pembelajaran ini adalah manis.

Apa aspek yang kedua? Menurut penulis, aspek kedua adalah Aspek Kebajikan. Aspek Kebajikan yaitu landasan kita untuk menyelami suatu hal/ “kebenaran” berdasarkan apakah ia membawa kebaikan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, juga makhluk lainnya. Kebaikan disini maksudnya adalah apakah jika suatu hal/“kebenaran” tersebut kita terima, yakini, dan laksanakan; akan membawakan kebahagiaan kepada kita dan yang lainnya? Ataukah justru ia membawakan ketidak-bahagiaan dan penderitaan? Inilah aspek kedua kita untuk menguji suatu “kebenaran”, yaitu Aspek Kebajikan. (Aspek ini selaras dengan ajaran Buddha di dalam Kalama Sutta).

Dengan begitu, “kebenaran” yang kita yakini, saddha kita, akan memiliki landasan “samma-ditthi” (pandangan yang benar), bukan sesuatu keyakinan yang dogmatis.

Lalu, bagaimana jika kita masih belum bisa yakin terhadap sesuatu hal walaupun sepertinya sesuatu hal tersebut telah memenuhi kedua aspek di atas? Just let it be! Dalam bahasa Jepang disebut “Sono mama shite kudasai”, biarkanlah apa adanya. Just keep it, simpan saja. Kita tidak perlu memutuskan apakah untuk mempercayainya atau tidak pada saat itu. Cukup kita simpan untuk sementara, tanpa memberinya label “benar” atau “salah”. Mungkin seiring waktu, seiring perkembangan kita, suatu saat kita akan dapat men-sense-nya, merasakannya secara langsung, dan melihat kebenaran maupun ketidak-benaran yang terkandung di dalamnya sebagaimana adanya.

Sama seperti ibarat seseorang menunjukkan kepalan tangannya dan bertanya apakah kita mempercayai/meyakini bahwa ada mutiara di dalam kepalan tangan tersebut? Kita menjadi ragu, kita terombang-ambing antara percaya atau tidak percaya, antara yakin atau tidak yakin. Mengapa? Karena kita tidak tahu, tidak tahu apakah ada mutiara di dalam kepalan tangannya. Karena tidak tahu, maka kita menjadi dilematis antara percaya atau tidak percaya, antara yakin atau tidak yakin. Namun, seketika ia membuka kepalan tangannya, dan kita melihat kenyataan yang ada apa adanya, segenap masalah percaya atau tidak percaya, yakin atau tidak yakin, yang tadi menghantui kita, seketika menjadi sirna.

Artikel ini pernah dimuat di Warta Karuna Mukti (WKM)
Edisi Asadha 2008.
 
SIKAP YANG TEPAT TERHADAP KRITIK​

Anda harus belajar bagaimana menjaga diri anda dari kritik yang tidak adil dan bagiamana mempergunakan kritik yang membangun. Anda haruslah melihat secara objektif terhadap kritik yang diberikan orang-orang lain kepada anda. Bila kritik terhadap anda itu benar, ada dasarnya dan diberikan dengan maksud baik, maka terimalah kritik itu dan pergunakanlah. Tetapi, bila kritik itu tidak benar dan tidak berdasar dan diberikan dengan maksud jahat, anda tidak harus menerima kritik jenis ini. Bila anda tahu bahwa sikap anda benar dan dihargai oleh orang-orang yang bijaksana dan berada, maka janganlah mempedulikan kritik yang tidak berdasar. Pengetahuan anda tentang kritik yang membangun dan yang merusak adalah penting.

"Tidak ada orang yang tidak bersalah didunia ini.” JANGAN HARAPKAN APA-APA DAN TIDAK ADA YANG AKAN MENGECEWAKAN ANDA

Anda dapat melindungi diri anda dari kekecewaan-kekecewaan dengan tidak mempunyai harapan-harapan yang berlebih-lebihan. Bila anda tidak mengharapkan apa-apa, maka tidak ada yang dapat mengecewakan anda. Jangan harapkan imbalan atas kebaikan yang anda telah perbuat. Berbuat baiklah demi perbuatan baik itu sendiri. Bila anda dapat menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun, maka anda tidak akan mengalami kekecewaan. Anda dapat menjadi orang besar! Kegembiraan yang timbul dalam pikiran anda karena kebaikan yang telah anda perbuat, itu sendiri adalah imbalan yang besar. Kegembiraan menciptakan kepuasan dalam hidup kita.

Mungkin anda adalah orang yang sifatnya baik dan anda tidak berbuat yang mencelakakan orang-orang lain. Tetapi anda disalahkan orang-orang lain sekalipun berbuat baik. Anda harus menghadapi kesukaran-kesukaran dan kekecewaan-kekecewaan sekalipun anda telah menolong orang-orang lain dan telah berbuat baik bagi orang-orang lain. Anda mungkin bertanya: “Bila kebaikan menimbulkan kebaikan dan kejahatan menimbulkan kejahatan , mengapa saya harus menderita bila saya benar-benar tidak bersalah? Mengapa saya harus mengalami begitu banyak kesulitan? Mengapa saya mendapatkan begitu banyak kekecewaan? Mengapa saya dipersalahkan oleh orang-orang lain sekalipun saya berbuat baik?” Jawaban yang sederhana ialah: bila anda berbuat perbuatan baik, anda harus menghadapi kekuatan-kekuatan jahat. Bila tidak, anda sedang menghadapi karma tidak baik dari masa lalu yang masak dizaman sekarang. Teruslah dengan kerja baik anda dan akhirnya anda bebas dari kesukaran-kesukaran yang seperti itu. Ingatlah, bahwa anda telah menciptakan kekecewaan-kekecewaan anda sendiri dan anda sendirilah yang dapat mengatasi kekecewaan-kekecewaan ini, dengan menyadari sifat dari karma (aksi dan reaksi) dan kondisi-kondisi dunia sebagaimana dijelaskan Sang Buddha.

"Bila anda dapat melindungi diri anda, anda dapat melindungi orang-orang lain.”
 
2713020843_a33006c53c.jpg


Toleransi

Posted 29-05-2008 at 09:38 PM by roughtorer
Berbagai keyakinan, kepercayaan dan agama yang berkembang dan eksis di dunia ini kebanyakan sudah melewati masa uji ribuan tahun. Dalam hal masalah teologi, agama selalu dikelompokkan menjadi dua, agama wahyu dan agama alamiah. Agama wahyu dapat diartikan sebagai agama yang turun dari Tuhan sedangkan agama alamiah biasanya disematkan bagi agama-agama yang berasal dari asia timur yang tumbuh dan berkembang apa adanya.

Dalam perkembangannya, kemudian muncul lagi pengelompokan pada paham yang theis dan paham yang atheis. Dalam hal ini, banyak pertentangan yang sudha terjadi dari sebuah agama yang tidak saja hanya menyelamatkan jutaan manusia, namun juga mau tidak mau kita harus menerima berapa galon darah segar yang harus tumpah hanya untuk membela agama. Dengan kata lain membela Tuhan.

Untuk itulah, sebuah wacana dilontarkan dengan ide tentang toleransi.

Seperti juga karakteristik manusia yang tidak ada yang sama antara satu dengan yang lain, bahkan pada kembar siam sekalipun, maka demikian juga dengan keyakinan manusia itu sendiri. Kayakinan diyakini sebagai sebuah proses religius manusia untuk berhubungan dengan penciptanya. Atau otoritas yang lebih besar dari padanya.

Toleransi tidak bisa dipaksakan menyatu dengan kebenaran. Adalah sia-sia mencari sebuah kebenaran yang bisa diterima oleh setiap orang. Sama sia-sianya mengharapkan semua manusia menjalankan vegetarian untuk kebaikan mereka sendiri. Sama dengan usaha untuk menghapus kemaksiatan. Karena pada kenyataann justru kemaksiatan ini muncul lebih awal dari agama/kepercayaan.

Biasanya dari sebuah tempat yang sangat kacau, sebuah agama muncul untuk mengkoreksi prilaku manusia. Untuk mengkoreksi prilaku umat manusia, yah.... bukan mengkoreksi sebuah ajaran agama.

Lalu, pada perkembangannya kemudian, kenyataannya di muka bumi ini sudah eksis bermacam-macam agama. Apabila setiap agama dengan atas nama iman mengklaim kebenarannya yang mutalk sendiri, bagaimana dengan agama lain?

Toleransi adalah cerminan dari pelaksanaan penghormatan pada hak-hak asasi manusia. Semua usaha untuk menjembatani konflik yang terjadi antar agama, patut dijadikan sebuah perbandingan yang mulia. Proses-proses sharing, berbagi, menjelaskan, mengerti, memahami dan memaklumkan sebuah ajaran yang berbeda tentu saja lebih menguntungkan, lebih baik dari pada membicarakannya dengan pisau teracung dan menumpahkan darah.

Namun dalam prakteknya, kadang toleransi yang berlebihan justru menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Gejala ke sini sebenarnya jamak adanya. Namun terkadang kita tidak melihatnya, karena kita menuntut terus akan toleransi.

Masalah agama adalah sebuah masalah yang sangat sensitif.

Terlalu semangat menjalankan toleransi, bisa terpleset dengan mencampur adukkan beberapa ajaran agama. Dan karena agama bukan milik satu atau dua orang atau sekelompok orang. Mencampur adukkan dua ajaran agama atau lebih menjadi satu harus dapat dipertanggung jawabkan pada seluruh umat beragama yang agamanya dicomot.

Semoga gejala ini tidak terjadi pada agama Buddha. kalaupun dalam perkembangannya terjadi sinkritisme, biarlah berlangsung secara evolusi, perubahan secara lambat, bukan revolusi. Revolusi pada ajaran agama, ujung-ujungnya justru akan menyengsarakan manusia sendiri.

Perkawinan dua kepercayaan baik itu agama atau filsafat tidak bisa dihindari. Dalam perkembangannya, sebuah agama justru dapat diterima bila melakukan toleransi dengan menyerap unsur-unsur lokal tempat dimana agama itu berkembang. Ini menciptakan karakteristik-karakteristik yang unik, misal; agama Buddha yang ada di Jawa, di Cina, Tibet, Thailand, Birma atau Srilangka.

Demikian juga dengan agama lain.

Sayangnya, proses asimilasi, penyerapan unsur-unsur lokal dalam penyebaran agama ini terkadang diartikan segelintik orang/kelompok dengan seenaknya menyatukan beberapa kepercayaan yang berbeda, dengan dasar universalitas.

Apa yang dimaksud dengan universal. Universal bisa berarti dapat diterima dimana saja. Semua agama besar yang menyebar di seluruh penjuru dunia dapat dikatakan sebagai agama yang universal. Agama Buddha, Kristen, Hindu, Islam dapat kita jadikan misal akan keuniversalan ini. Benar atau salah, baik atau buruk, faktanya ajaran-ajaran agama ini hampir bisa dijumpai di mana saja.

Kemudian juga menjadi sebuah hak asasi manusia untuk meyakini sebuah keyakinan. Namun apakah hak asasi manusia juga merusak sebuah keyakinan dengan mengkawinkannya sesukanya dengan ajaran yang satu dengan ajaran yang lain?

Berdikusi lintas agama adalah sebuah usaha untuk memelihara toleransi. Namun usaha untuk mencampur adukkan dua keyakinan yang berbeda adalah sebuah usaha yang sia-sia dan kemungkinan besar tidak dapat diterima umat-umat agama yang dicampur adukkan.

Maksudku begini. Bila ada satu orang yang mempunyai agama ganda, katakanlah dia Buddha dan juga dalam hal lain dia Kristen. Ini adalag sebuah hak asasi untuk menentukan sendiri keyakinannya.

Bedakan denga ini:

Ada sekelompok orang yang mengatas namakan diri mereka sebagai bagian dari agama Buddha namun pada prakteknya justru mencampur adukkan ajaran agama Buddha (misal) dengan ajaran Islam (misal), Kristen (misal) dan Hindu (misal). Apakah ini juga bentuk dari sebuah toleransi? bentuk dari sebuah pelaksanaan hak asasi manusia?

Hak asasi manusia dilakukan tanpa mengganggu hak asasi manusia yang lain. Hak asasi untuk beragama tidak dilakukan dengan merusak agama orang lain.

Agama Buddha sebagai agama yang cukup tua. Sampai sejauh ini, sampai setua ini tidak mengalami masalah yang berarti kok, dalam bertoleransi. Lalu, mengapa harus dikawinkan/disama-samakan dengan agama lain? Apakah ini langkah yang tepat? atau ini sebuah kesesatan? atau ini sebuah hal yang biasa saja?

Manusia memang suka dibohongi dengan iming-iming persamaan. Manusia pada dasarnya sulit menerima sebuah perbedaan. Maka dari kondisi ini keluar istilah 'semua agama pasa dasarnya sama'. Karena manusia lebih gampang memahami yang sama dari pada memahami yang berbeda.

Saya beda dengan anda, baik secara individu maupun secara keyakinan. Bukan berarti saya harus sama dengan anda baru kita bisa berteman kan? Juga tidak harus agama saya dikawinkan dengan agama anda, baru kita bisa berteman. Juga tak harus kita seiman baru bisa bermaaf-maafan.

Saya percaya kepada Buddha, anda percaya kepada Tuhan. Sejauh kita bisa saling bekerja sama, saling bantu dan saling percaya, mengapa Buddha saya harus diTuhan kan? Mengapa pula Tuhan anda harus diBuddha kan?

Apapun agamanya minumnya Sosro.... akhirnya teh botol yang untung.
 
sebaiknya memang kita hidup untuk kebaikan apapun agamanya
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.