• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

I Love you, Sayang....

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
Waktu Julia Robert yang pelacur cantik dan berhati mulia di Pretty Woman ditawari Richard Gere si milioner ganteng untuk dirumahkan di sebuah kondo, dengan pedih Julie menjawab.

"No.... aku memintah lebih...'

Dan Richard Gere berusaha meyakinkan pelacur idamannya itu dengan menjelaskan bahwa apa yang ditawarkannya, menjadikan Vivian (nama Julia di film tersebut) sebagai simpanan, membiayai hidupnya, sekolahnya (Vivian mau sekolah lagi) dan mencintainya adalah sebuah langkah besar yang pernah diambilnya.

"Aku tak pernah memperlakukanmu seperti pelacur...." kata si Gere.

Vivian semakin pedih. "You just did..." gumannya pelan setelah Gere berlalu. Dan kemudian terungkap lagi, bagaimana Vivian bersikeras bahwa menempatkannya di kondo dengan status simpanan, tidak ada bedanya dengan membookingnya di jalanan Hollywood.

"Hanya masalah geograpi!" tandas Vivian cerdas.

Bahwa kemudian lagi bagaimana Vivian menceritakan impiannya sebagai putri yang disekap di menara paling tinggi menunggu untuk diselamatkan pangeran idamannya. Namun tak pernah dalam impiannya tersebut sang pangeran menawarkannya sebuah kondo... hehehe... Lucu, getir, satir tapi cerdas.

Dan akhirnya dengan kebulatan hati yang luar biasa. Bayangkan dari pelacur jalanan bertarif hanya $10 untuk short time, alias sekali nembak, kemudian di bookin seminggu penuh dengan bayaran $1.500,- sampai akhirnya ditawarkan untuk dirumahkan dan dijadikan simpanan di sebuah apartment mewah di Hollywood, Vivian justru menolaknya.

Mungkin hanya ada dalam cerita, dongeng atau film khas Hollywood. Tapi yah itu, walau kemudian si Gere mengucapkan 'I love you sayang...' perlakukannya dianggap Vivian masih sama, masih menganggapnya pelacur, walau mungkin naik kelas, tidak lagi cari mangsa di jalanan, tapi sudah punya apartment sendiri.

Suatu pelajaran menarik disini. Bahwa kebulatan tekad, keyakinan yang besar, kemauan yang keras, walau kadang harus ditebus dengan melakukan pekerjaan paling hina, akhirnya berbuah manis saat Gere melamarnya dengan limosin ke tempat butut sang putri pelacur.

Siapa bilang dongeng?

Evita Peron, yang ketika masih pelacur lebih dikenal dengan nama Evita Duarte, akhirnya justru menjadi aset paling penting Peron dalam usahanya untuk menjadi orang nomor satu di Argentina. Evita dengan segala 'aib'nya justru menciptakan imej baru bagi Peron. Bahwa peron sosok yang mencintai dan pembela orang kecil. Dengan kalimat cerdas.

"Jika Peron tidak mencintai anda, rakyat Argentina. Bagaimana dia bisa mencintaiku!" sekali lagi Evita dengan positif tidak minder dengan status jeleknya di masa lampau. Bahkan Peron yang dengan tulus mencintainya akhirnya memenangkan kursi no I di negri itu adalah cerita seperti dongeng yang lain.

Dan Peron tidak melihat kepelacuran Evita saat mengucapkan, 'I love you sayang...' justru akhirnya Evita dipandang seperti Santa di negri itu

Soal pelacur, presiden Soekarno punya cerita sendiri yang sangat menggelitik untuk disibak.

Dalam buku 'Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' Soekarno menceritakan bahwa ternyata PNI memiliki 670 keanggotaan yang berprofesi sebagai pelacur, untuk wilayah Bandung saja. Bahwa wanita-wanita pelayan syawat itu ternyata lebih jago mengorek keterangan dari Belanda manapun daripada para anggota PNI yang jauh lebih 'terhormat'. Dan fakta ini jarang terangkat bahwa, kemerdekaan negri ini justru sangat dibantu oleh kupu-kupu malang (mereka memang malang) itu. Selain fakta mereka dilecehkan, diangap sampah masyarakat dan diperlakukan seperti penyakit menular sosial.

Kemudian suatu saat orang dalam Istana ngobrol dengan presiden Soekarno (saat beliau masih menjabat). Walau saat itu tahun 1965, Soekarno sedang dihujat.

"Maaf pak, ternyata Bapak masih dicintai rakyat Indonesia...."

"Apa yang kamu lihat? Sehingga kamu berkata begitu...."

"Maaf pak, kami ragu untuk bertindak. Karena di setiap kamar di lokalisasi pelacuran, ada foto Bapak presiden. Yang artinya bapak sangat dicintai mereka. Haruskah kami menyingkirkan foto itu Pak? untuk diletakkan di tempat yang lebih pantas?"

Dan, dengan tak terduga yang keluar dari mulut presiden ini adalah

"Jangan! biarkan tubuhku yang tua dan letih ini menikmati pemandangan indah yang ada disana...."

Sebuah jawaban tulus, tanpa kemunafikan, dari seorang pemimpin sejati, yang tidak berusaha melupakan
jasa-jasa 'mereka'.

Dan tak kurang ibu Dewi Soekarno pun ternyata mantan geisha yang kalo sini mungkin diletakkan di tempat paling rendah.

Tapi sang presiden, proklamator, pemimpin besar revolusi tak ragu untuk mengucapkan, 'I love you, sayang'
 
klo mo hebad..g harus jadi pelacur kan om??../heh /gawi
cz mungkin jaman skarang uda jau berbeda ma jaman dulu.../gawi
ulasan yg menarik../no1
 
klo mo hebad..g harus jadi pelacur kan om??../heh /gawi
cz mungkin jaman skarang uda jau berbeda ma jaman dulu.../gawi
ulasan yg menarik../no1

Walah..... bukan dong...
Hanya memperlihatkan sisi yang berbeda. Terkadang stempel yang diberikan pada sesuatu sudah sedemikian melekatnya, hingga tidak melihat kepada kemungkinan-kemungkinan yang ada di baliknya. Bahwa pelacur juga manusia. Mana ada orang yang dengan sukarela mau jadi pelacur? Kalau ada, mungkin sudah sakit jiwa. Hiper sex atau memang maniak...

Idenya memang konyol sih, seenaknya membandingkan Vivian dalam Pretty Woman, Evita Peron dengan Ibu Dewi Sukarno.... hahahaha.... terus terang, sewaktu ide nulis ini muncul, aku sendiri senyum-senyum.... entah setan mana yang membisikkan setiap kata, sampai sekarang aku masih bingung, kok bisa.... :D
 
hahaha hbt ko kk bisa nulis kaya di atas,
malah jadi bahan bacaan yg baik dan buat pelajaran klo melihat org jgn lah dr stempelnya saja, tapi lihat lah lebih dalam lagi, karena mungkin ada hal2 yang baik d balik itu....
 
hahaha hbt ko kk bisa nulis kaya di atas,
malah jadi bahan bacaan yg baik dan buat pelajaran klo melihat org jgn lah dr stempelnya saja, tapi lihat lah lebih dalam lagi, karena mungkin ada hal2 yang baik d balik itu....

Saya pernah coba mendayung beca. Beca di Sumatera Utara tahu sendiri, kan orangnya di samping kanan. Nah.... setengah mampus bro... sampe oleng... ternyata perlu keseimbangan tersendiri dalam mendayung beca.

Dari situ saya dapat pelajaran. Bahwa sekicil apapun seseorang itu. Ada ilmu dia yang tidak kita punya. Orang yang justru suka membesar-besarkan ilmu, biasanya mempunyai kekurangan yang sangat besar. Membesar-besarkan ilmu sering menjadi alasan psikologis untuk berlindung dari kebodohan.

Jadi.... sekali lagi, don't judge by it's cover kata si bule....:D
 
Nice story broow...
Memang kalo kita mencintai seseorang jgn lagi melihat masa lalu org tersebut....
 
nice post nich......
iwan fals juga prnh di tolong ma PSK makanya dy ciptain lagu buat mereka...
yang judulnya " Lonte "..............
 
nice post nich......
iwan fals juga prnh di tolong ma PSK makanya dy ciptain lagu buat mereka...
yang judulnya " Lonte "..............

Yup... judul lagunya; Lonteku....

Kemudian di lagu Kembang Pete juga tersirat kisah cinta Iwan Fals dengan psk, dari lirik; cinta kita cinta jalanan.... dsb

Terus, di lagu Gali Goli... lagi-lagi Iwan berkisah tentang anak pelacur yang 'bocah karbitan.... hidup dari belaian, ribuan bapak...'

seeep deh, bukan mendukung pelacuran, hanya yah... siapa sih yang mau secars sukarela melacurkan diri? kalau tidak ada alasan yang terpaksa yang membuat ornag harus kaya gitu...
 
Dunia memang gak adil, apa salahnya jadi pelacur?
memangnya pemerintah bisa menanggung biaya hidup mereka...
dipandang rendah oleh orang2 terhormat yang ternyata sering ke tempat pelacuran...
yang menyandang nama buruk justru mereka...
 
Dunia memang gak adil, apa salahnya jadi pelacur?
memangnya pemerintah bisa menanggung biaya hidup mereka...
dipandang rendah oleh orang2 terhormat yang ternyata sering ke tempat pelacuran...
yang menyandang nama buruk justru mereka...

yah gak sekstrim itu juga bro... jadi pelacur tetap kerjaan yang gak layak bagi kemanusiaan. banyak orang susah, banyak orang yang disakiti, lebih banyak lagi orang yang berdosa, tapi tidak semuanya harus melacurkan diri.

Menghormati pelacur... bukan berarti harus membenarkan mereka, juga berarti harus sampai mengikuti jejak mereka. Sekedar berbagi simpati, bahwa dalam sosok pelacur pun ada yang dinamakan nurani.... bila anda bisa memandangnya, anda bisa memandang dunia seperti apa adanya,... :)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.