• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mengkritisi pro-kontra “Mozart Effect” .

T!T!~ch@/\/

IndoForum Banned
No. Urut
1035
Sejak
11 Mei 2006
Pesan
21.523
Nilai reaksi
1.324
Poin
113
Istilah “Mozart Effect” yakni suatu anggapan yang menjadi trend meluas di kalangan masyarakat masa kini yang seolah sedemikian memastikan, bahwa kanak-kanak akan tumbuh berkembang memiliki IQ yang lebih tinggi apabila sejak masa dini atau bahkan sejak masih dalam kandungan sering diperdengarkan musik klasik.
“Mozart Effect” yang dipercaya sebagai manifestasi dari khasiat tersembunyi “musical powers” bagi manusia dalam tulisan kritis terkini beberapa media jurnal ilmiah on-line AS seperti Scientific American kembali disorot sisi bobot ilmiah maupun pro-kontra di kalangan ilmuwan yang masih terjadi, khususnya diantara para ahli bidang neurosains maupun ilmu psikologi kajian perkembangan kanak.

Apabila menelaah kilas balik ke masa lalu, sesungguhnya semua semula berawal dari publikasi tulisan ringkas berjudul “Musical and Spatial Task Performance” dalam jurnal ilmiah Nature (vol 365, terbitan tahun 1993) hasil suatu riset eksperimen Franches Rauscher dkk, ahli neuroscientist dari Universitas Wisconsin di Oshkosh, AS yang menyertakan 36 mahasiswa untuk melaksanakan serangkaian test kemampuan analitis spasial salah satunya yakni; pengujian menebak / mencocokkan bentuk akhir sepotong kertas yang terlebih dahulu mengalami proses lipatan berulang kali yang lalu dipotong sebelum dibeberkan. Sebelum test dimulai Peneliti terlebih dahulu memberi waktu 10 menit untuk jeda penenangan diri dan melakukan pembagian 3 kelompok, yakni sekelompok yang berdiam diri hening tanpa alunan musik, kelompok yang mendengarkan musik jenis relaksasi instrumental genre new-age dan sekelompok yang mendengarkan lagu klasik gubahan komponis kenamaan Mozart “Sonata for Two Pianos in D Major”.
Hasil test kelompok kanak-kanak yang diperdengarkan musik Mozart ternyata menunjukkan pencapaian nilai yang unggul cukup mencolok dibanding nilai kelompok lainnya, yakni dalam satuan 8 - 9 IQ spatial points.
Tak berapa lama sesudahnya dan terus berlangsung hingga kini di negeri AS berlangsung bagaikan efek gelundungan bola salju menjadi marak istilah “Mozart Effect” yang seolah sedemikian memastikan, bahwa kalangan kanak-kanak akan berkembang memiliki IQ yang lebih tinggi apabila sejak masa dini ---bahkan sejak masih dalam kandungan--- apabila sering diperdengarkan musik klasik, khususnya sonata karya sang komponis kelahiran Austria : Wolfgang Amadeus Mozart.
Di negeri AS publikasi eksperimen dipercaya sebagai kajian ilmiah yang meyakinkan serta “bernilai jual” tinggi, hingga banyak kalangan yang kemudian membisniskan a.l; mulai dari jualan CD musik klasik hingga layanin kesehatan berupa paket pelatihan relaksasi Ibu hamil dengan perlengkapan pengantar dengan musik relaksasi model lagu klasik pada fasilitas klinik ibu hamil dan tumbuh-kembang anak : “day care center”.

Kalangan ilmuwan kolega Rauscher pun ada yang bersikap skeptis atas kesimpulan eksperimen. Walau meragukan temuan sesederhana itu namun sebagian ahli yang memang telah meneliti lebih lanjut mengakui adanya kemungkinan karakteristik khas komposisi Mozart memang memiliki kualitas ritme yang selaras dengan ritme otak ketika tengah bekerja hingga dipandang memberi efek positif dalam peningkatan fungsi intelegensia.
Pada tahun 1998 di AS Gubernur negara bagian Georgia bahkan sampai-sampai membagikan CD musik klasik bagi setiap Ibu yang baru melahirkan bayi, sebaliknya maka Kementerian Ristek Jerman ---negara asal kelahiran komponis klasik top terpandang Beethoven--- setelah melakukan kajian review inter-disiplin keilmuan pada awal tahun ini secara resmi menyatakan tidak terdapat bukti ilmiah yang menyakinkan adanya kaitan langsung yang positif dari fenomena “Mozart Effect”.
Dr. Rauscher sendiri layaknya sosok ilmuwan sesungguhnya tidak bermaksud untuk benar-benar mengeksploitasi “Mozart Effect” apalagi demi kepentingan komersialisasi massal, walau ia pun memaklumi bahwa eksperimen karyanya secara tidak sengaja seakan menjadi secuplik pembenaran anggapan “musical powers” yang bermanfaat bagi umat manusia yang dipercaya meluas oleh berbagai khalayak ramai; betapa alunan musik dapat memberikan pengaruh meringankan stress ataupun mood yang menggembirakan bagi orang, termasuk pula dalam proses kehamilan sang ibu maupun kelahiran serta tumbuh kembang sang bayi. Rauscher sendiri lebih cenderung menerapkan penggunaan musik pada proses tumbuh-kembang kanak lewat cara pengenalan musik dan permainan dengan instrumen alat musik langsung bagi kalangan kanak-kanak.

Lantas bagaimana dengan fakta yang tidak kalah masih membuat penasaran ? Kalangan dunia Islam satu dekade yang silam amat terpesona atas kemampuan kanak tahun kelahiran tahun 1990 yang berasal dari kota Qom, Iran yang pada usia 5 tahun secara sempurna bisa melakukan hafalan Al-Quran lengkap dengan tafsiran dan lagu bacaan yang pas. Para majelis ahli pengkajian Al-Quran Iran pun telah menguji kemampuan sang anak dan sepenuhnya mengakui kebolehannya. Sang anak memang memiliki kedua orang tua yang berkeahlian menghafal kitab suci Al-Quran (Hafiz Quran).
Dikabarkan bahwa selama dalam kandungan sang Ibu maka sang Ayah acap kali melantunkan ayat-ayat Al-Quran hingga khatam di hadapan kandungan sang Ibu. Khatam disana alias berarti tamat disini. Pro disana bisa jadi kontra disini; pro dan kontra wajar bisa terjadi disana-sini terjadi, termasuk dalam kajian ilmiah yang belum tuntas selesai.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.