magnum
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 1320
- Sejak
- 27 Mei 2006
- Pesan
- 14.143
- Nilai reaksi
- 417
- Poin
- 83
Jelmaan Buddha Hidup Muncul dengan Tubuh Pelangi
Sarira yang ditinggalkan kultivator setelah mencapai kesempurnaan dan fenomena gaib tentang jelmaan pelangi Buddha hidup dalam ajaran Buddha dari Tibet maupun fenomena gaib lainnya, terus tersebar di kalangan rakyat, meski ada yang pernah menyaksikannya sendiri.
Baru-baru ini di situs net tersebar kabar bahwa seorang mantan sekretaris Tibet menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses penjelmaan Buddha hidup, sehingga banyak peristiwa terkait satu persatu tersingkap, setelah puluhan tahun publik yang hampa akan keyakinan, mulai kembali mencermati, membuka memori yang sudah lama terbelenggu, dan mulai mencari keyakinan terhadap Buddha.
Fenomena yang disebut “jelmaan pelangi” ini, menjadi suatu pemandangan gaib. Menjelang penjelmaan pelangi, tubuh yang bermeditasi terus menerus memancarkan cahaya, dan saat memancarkan cahaya tubuh terus mengecil, dari pengecilan lalu berangsur-angsur lenyap, dan terakhir hanya tersisa kuku jari tangan dan rambut, di saat jasmaninya memancarkan cahaya dan mengecil, di atas ubun-ubun muncul sehamparan gulungan cahaya merah. Dan ini adalah taraf tertinggi setelah meninggal yang dicari kultivator “Fashen pelangi”. Bagi yang kurang sempurna, di mana dalam proses memancarkan cahaya, jasmaninya tidak akan menyusut lagi setelah mengecil dalam taraf tertentu, dan kerangka yang tersisa menjadi keras seperti besi ini sangat mirip dengan fenomena penyusutan tubuh manusia.
Pada 1952 silam di Tibet, terbetik kabar adanya jelmaan pelangi pendeta Lama Nan Langjie, ketika itu, sekretaris untuk daerah otonom Tibet, China komunis yakni Zhang Guohua menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang ajaib ini, konon katanya Zhang Guohua mengetahui dari seorang Buddha hidup tua mengatakan bahwa pagi keesokannya dia meninggalkan Tibet. Buddha hidup itu duduk di tengah balai besar, sesaat tidak mengerti mengapa Ia (Budha hidup) tidak menyambut kedatangan tamunya. Lalu, bersama dengan bawahannya Zhang berdiri di sana sambil mengamati sang Buddha hidup. Ia melihat biksu lainya juga sudah berkumpul, lalu duduk mengelilingi sang Buddha hidup. Sang Buddha hidup membumbung dari tempat duduknya, kemudian tampak sepotong awan merah melayang, dan tidak meninggalkan bekas apa pun.
Dalam Mazhab Tao di Tiongkok, terdapat legenda “menutup mata naik ke langit” (meninggal dunia), namun fenomena jenazah menjadi pelangi dan aktinik dalam kehidupan nyata, merupakan hal yang dapat dilakukan biksu agung dalam kultivasi Mizhong saat ini.
Menurut catatan legenda ketika Banmadengde mencapai kesempurnaan pada 1883 lampau, ia berpesan pada murid-muridnya kalau selama 7 hari tidak boleh membuka tirai, dan selama 7 hari itu ratusan muridnya menyaksikan dalam tirai tersebut terus menerus memancarkan cahaya, dan 7 hari kemudian di atas tempat duduk, tampak yang tersisa hanya 10 kuku jari kaki dan 10 kuku jari tangan serta rambut.
Pada 1883 lampau, di Kuil Min Zhu Lin ada 14 orang yang tubuhnya memelangi (menjadi pelangi) ketika meninggal dunia. Salah satu murid yang bernama Rang Rike, di mana setelah memelangi hanya meninggalkan sepotong kuku jari tangan, dan hingga sekarang disimpan di dalam Kuil Duokang.
Kultivator ajaran Zhang yang mengalami penindasan dalam revolusi kebudayaan
Setelah rezim China komunis masuk ke Tibet, mereka melakukan penindasan terhadap ajaran Buddha bangsa Tibet, di antaranya banyak Buddha hidup dan Lama (pendeta agama Lama Tibet) mencapai kesempurnaan dalam pergolakan ketika itu.
Konon katanya, ada seorang biksu tua, saat revolusi kebudayaan ia diseret dari penjara dan diganyang oleh tentara merah, karena sudah uzur hingga tak mampu berjalan lagi, kemudian tentara merah mengikatnya di atas punggung kuda, sang biksu tua tampak tenang, sepanjang jalan mengumandangkan “lagu peninggalan” sebelum mencapai kesempurnaan, ketika tiba di tempat tujuan, orang-orang mendapati sang biksu tua sudah mencapai kesempurnaan di atas punggung kuda dengan tenang.
Buddha hidup Ah Lie dari Kuil Ling Long, Desa Ka shi, Kabupaten Lu Chui, Provinsi Sichuan, sejak kecil sudah menjadi biksu. Saat revolusi kebudayaan, ia dipaksa pindah dari kuil dan menetap di desa, meski kondisinya gawat ketika itu, namun tak pernah kembali ke kehidupan duniawi, siang hari ikut kerja bersama dengan orang-orang sekampung, dan malamnya berkultivasi Fa sendiri. Pada 1997 mencapai kesempurnaan, dalam usia 78 tahun, 7 hari setelah mencapai kesempurnaan, jasmaninya menyusut sekitar 1/3, dan ketika dikremasi muncul pelangi di angkasa, belakangan ditemukan 300 lebih butiran Sarira. Dan hal ini disaksikan oleh Buddha hidup Chigenima dan ratusan orang lainnya.
Songran Chongma, penduduk Xin Long, sepanjang hidupnya berkultivasi Mi fa, pada 1976 ketika berusia 80 tahun lebih mencapai kesempurnan di Kuil Danzhengram (1923-1980), lahir di Kabupaten Gongjue, Tibet, suatu hari di usia 57 tahun ia memberitahu muridnya mengatakan bahwa hidup dan matinya sudah bebas tak terikat, dan berpesan tidak perlu membacakan ayat-ayat suci setelah meninggal nanti. Seusai berkata ia pun mencapai kesempurnaan, jenazahnya di letakkan di dalam sebuah pot tembaga, 7 hari kemudian jasadnya menyusut 26 cm, dan ketika itu disaksikan oleh ribuan orang. Dan peristiwa ini pernah dimuat dalam agama Buddha Tibet.
Pada tahun yang sama, biksu Yadam dari Desa Riqu, Distrik Jiaju, Kabupaten Gongdang meningal dunia, tinggi badannya yang semula di atas 1.70 meter, 7 hari kemudian menyusut hingga 26 cm, dan jasadnya kini diletakkan di dalam sebuah pot tembaga.
Setelah kultivator mencapai kesempurnaan, muncul sarira yang berwana warni.
Pada tahun 1983, di mana setelah Buddha hidup Suerdon mencapai kesempurnaan di kuil Nian Long, Kabupaten Sida, tubuhnya juga menyusut hingga setinggi lengan, dan setelah dikremasi tampak Sarira yang beraneka warna.
Buddha hidup Aca di Kuil Yike, Kabupaten Daofu, berwibawa dan dihormati khalayak umum, mencapai kesempurnaan ketika berusia 60 tahun lebih tahun 1990, sebelum mencapai kesempurnaan ia mengenakan jubah Dharma, kedua tanganya merapat, sepasang kakinya bersilang, duduk bermeditasi dan meninggal dengan tenang. Beberapa hari kemudian jasadnya menyusut, mahkota 5 Buddha di atas kepalanya sudah jatuh di atas pundaknya, dan ketika dikremasi, di angkasa muncul pelangi yang beraneka warna, dan mengeluarkan berbagai suara. Peristiwa ini disaksikan sendiri oleh biksu Luowu dan lainnya.
Lama Aradonchi penduduk Wengda, Kabupaten Seda. Sejak kecil menganut agama Buddha, mencapai kesempurnaan pada 7 Maret 1992 silam, 7 hari kemudian, jasadnya menyusut 1 zhou (1 siku), ketika itu disaksikan sendiri oleh biksu Luosang Qupeng, Jiayang Luozhu dan lainnya, dan saat dikremasi, tampak pelangi-pelangi bertaburan di angkasa, menyalakan sejumlah besar sarira yang berwarna warni, yang sebagian besar didominasi warna putih.
Buddha hidup Cairi, penduduk kabupaten Seda, Provinsi Sichuan, kepala biara kuil Jiao-e, semasa hidupnya memiliki keajaiban yang kebal terhadap petir dan kegaiban lainnya, mencapai kesempurnaan pada tahun 1995, dalam usia 61 tahun, 3 hari kemudian jasadnya menyusut setinggi 1 siku, ketika itu bangsa Han dan kerabat yang datang melayat diluar dugaan menjadikan jenazah itu sebagai patung Buddha.
Buddha hidup Luozhu wang bo, penduduk kabupaten Seda, provinsi Sichuan, adalah seorang kepala biara Kuil Luoruo, semasa hidupnya pernah bertemu dengan hal-hal gaib. Pada Oktober dalam almanak Tibet tahun 1996 mencapai kesempurnaan di Kuil Luoruo, Kabupaten Seda dalam usia 70 tahun lebih, ketika mencapai kesempurnaan sepasang tangannya bersilangan di dada, 7 hari kemudian jasadnya menyusut seperti wujud anak-anak, dan sebelum dikremasi sendinya tetap lentur, bisa dengan mudahnya mengambil alu (suatu pentungan dari kayu untuk memukul manik-manik) dari tangannya. Ketika dikremasi matanya menyembul dari bara api, lalu tampak beberapa sarira, peristiwa ini diceritakan oleh Buddha hidup Dunke.
Selain itu, Buddha hidup Su lang Dunzhu juga menceritakan, bahwa ketika gurunya wafat, di tempat meditasinya terus terdengar suara ganjil dan cahaya yang berkilauan, kerasnya suara, boleh dikata menggetarkan langit dan bumi, dan terakhir hanya meninggalkan sarira yang berharga.
Baik kultivator Mijiao dari mazhab apa pun, setelah mencapai taraf yang tinggi dalam kultivasi Mi Fa, di mana saat menjelang ajal, akan tampak fenomena menjadi pelangi. Jasmaninya bisa menjelma menjadi segaris pelangi, lalu terbang ke langit, masuk ke dalam istana yang tak terhingga. Fashen pelangi adalah tubuh kultivator dalam kultivasi Mizhong yang tubuhnya akan terus memancarkan cahaya setelah meninggal dunia, di tengah cahaya tersebut tubuhnya akan terus menyusut hingga lenyap, terakhir hanya meninggalkan kuku-kuku jari dan rambut. Bagi yang belum mencapai kesempurnaan itu, jasmaninya akan menyusut sampai pada taraf tertentu, dan tubuh yang tertinggal akan menjadi keras laksana baja.
Kultivator tidak heran jika orang awam tidak percaya
Di mata orang awam kedengarannya memang sulit dipahami, namun bagi kultivator, tidak sulit untuk memahaminya. Melalui kultivasi sepanjang tahun, di dalam tubuh kultivator telah terhimpun energi yang maha besar, di saat menghadapi kematian, energi ini mengubah jasmani menjadi cahaya awal pembentukan fisik, rupa fisik melarut dalam cahaya, kemudian lenyap sama sekali.
Karena cara kultivasi yang berbeda, maka proses menjadi pelangi-nya kultivator juga akan muncul fenomena yang tidak sama. Ada 2 fenomena yang agak umum, yaitu :
Pertama, saat menjelang ajal, kultivator minta tempat tersendiri, dan jangan menyentuh jasadnya setelah 7 hari kematiannya. Di dalam kamar akan dipenuhi dengan cahaya seperti pelangi yang unik. Di hari ke-8, orang-orang membuka kamarnya, tampak jasad sang kultivator sudah lenyap, hanya meninggalkan rambut dan kuku. Fenomena lainnya juga ingin menyendiri, mengizinkan murid yang diwariskanya sendiri berada di sisi, lalu kultivator meditasi seperti biasa, tubuhnya mengalami pembakaran sendiri, dan segaris pelangi lalu meluncur ke langit.
Manusia terus menyelidiki kitab Buddha dalam pengetahuannya sendiri, kitab Buddha berkaitan dengan ilmu pengetahuan sosial, antropologi, biologi, fisika, astronomi, psikologi dan sejumlah besar bidang ilmu pengetahuan, adalah sebuah bidang yang menyingkap misteri kehidupan. Juga merupakan sebuah bidang yang dapat membenturkan api peradaban yang baru, sekaligus sebuah proyek yang membuat zaman-nya kejayaan teknologi.
Sarira yang ditinggalkan kultivator setelah mencapai kesempurnaan dan fenomena gaib tentang jelmaan pelangi Buddha hidup dalam ajaran Buddha dari Tibet maupun fenomena gaib lainnya, terus tersebar di kalangan rakyat, meski ada yang pernah menyaksikannya sendiri.
Baru-baru ini di situs net tersebar kabar bahwa seorang mantan sekretaris Tibet menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses penjelmaan Buddha hidup, sehingga banyak peristiwa terkait satu persatu tersingkap, setelah puluhan tahun publik yang hampa akan keyakinan, mulai kembali mencermati, membuka memori yang sudah lama terbelenggu, dan mulai mencari keyakinan terhadap Buddha.
Fenomena yang disebut “jelmaan pelangi” ini, menjadi suatu pemandangan gaib. Menjelang penjelmaan pelangi, tubuh yang bermeditasi terus menerus memancarkan cahaya, dan saat memancarkan cahaya tubuh terus mengecil, dari pengecilan lalu berangsur-angsur lenyap, dan terakhir hanya tersisa kuku jari tangan dan rambut, di saat jasmaninya memancarkan cahaya dan mengecil, di atas ubun-ubun muncul sehamparan gulungan cahaya merah. Dan ini adalah taraf tertinggi setelah meninggal yang dicari kultivator “Fashen pelangi”. Bagi yang kurang sempurna, di mana dalam proses memancarkan cahaya, jasmaninya tidak akan menyusut lagi setelah mengecil dalam taraf tertentu, dan kerangka yang tersisa menjadi keras seperti besi ini sangat mirip dengan fenomena penyusutan tubuh manusia.
Pada 1952 silam di Tibet, terbetik kabar adanya jelmaan pelangi pendeta Lama Nan Langjie, ketika itu, sekretaris untuk daerah otonom Tibet, China komunis yakni Zhang Guohua menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang ajaib ini, konon katanya Zhang Guohua mengetahui dari seorang Buddha hidup tua mengatakan bahwa pagi keesokannya dia meninggalkan Tibet. Buddha hidup itu duduk di tengah balai besar, sesaat tidak mengerti mengapa Ia (Budha hidup) tidak menyambut kedatangan tamunya. Lalu, bersama dengan bawahannya Zhang berdiri di sana sambil mengamati sang Buddha hidup. Ia melihat biksu lainya juga sudah berkumpul, lalu duduk mengelilingi sang Buddha hidup. Sang Buddha hidup membumbung dari tempat duduknya, kemudian tampak sepotong awan merah melayang, dan tidak meninggalkan bekas apa pun.
Dalam Mazhab Tao di Tiongkok, terdapat legenda “menutup mata naik ke langit” (meninggal dunia), namun fenomena jenazah menjadi pelangi dan aktinik dalam kehidupan nyata, merupakan hal yang dapat dilakukan biksu agung dalam kultivasi Mizhong saat ini.
Menurut catatan legenda ketika Banmadengde mencapai kesempurnaan pada 1883 lampau, ia berpesan pada murid-muridnya kalau selama 7 hari tidak boleh membuka tirai, dan selama 7 hari itu ratusan muridnya menyaksikan dalam tirai tersebut terus menerus memancarkan cahaya, dan 7 hari kemudian di atas tempat duduk, tampak yang tersisa hanya 10 kuku jari kaki dan 10 kuku jari tangan serta rambut.
Pada 1883 lampau, di Kuil Min Zhu Lin ada 14 orang yang tubuhnya memelangi (menjadi pelangi) ketika meninggal dunia. Salah satu murid yang bernama Rang Rike, di mana setelah memelangi hanya meninggalkan sepotong kuku jari tangan, dan hingga sekarang disimpan di dalam Kuil Duokang.
Kultivator ajaran Zhang yang mengalami penindasan dalam revolusi kebudayaan
Setelah rezim China komunis masuk ke Tibet, mereka melakukan penindasan terhadap ajaran Buddha bangsa Tibet, di antaranya banyak Buddha hidup dan Lama (pendeta agama Lama Tibet) mencapai kesempurnaan dalam pergolakan ketika itu.
Konon katanya, ada seorang biksu tua, saat revolusi kebudayaan ia diseret dari penjara dan diganyang oleh tentara merah, karena sudah uzur hingga tak mampu berjalan lagi, kemudian tentara merah mengikatnya di atas punggung kuda, sang biksu tua tampak tenang, sepanjang jalan mengumandangkan “lagu peninggalan” sebelum mencapai kesempurnaan, ketika tiba di tempat tujuan, orang-orang mendapati sang biksu tua sudah mencapai kesempurnaan di atas punggung kuda dengan tenang.
Buddha hidup Ah Lie dari Kuil Ling Long, Desa Ka shi, Kabupaten Lu Chui, Provinsi Sichuan, sejak kecil sudah menjadi biksu. Saat revolusi kebudayaan, ia dipaksa pindah dari kuil dan menetap di desa, meski kondisinya gawat ketika itu, namun tak pernah kembali ke kehidupan duniawi, siang hari ikut kerja bersama dengan orang-orang sekampung, dan malamnya berkultivasi Fa sendiri. Pada 1997 mencapai kesempurnaan, dalam usia 78 tahun, 7 hari setelah mencapai kesempurnaan, jasmaninya menyusut sekitar 1/3, dan ketika dikremasi muncul pelangi di angkasa, belakangan ditemukan 300 lebih butiran Sarira. Dan hal ini disaksikan oleh Buddha hidup Chigenima dan ratusan orang lainnya.
Songran Chongma, penduduk Xin Long, sepanjang hidupnya berkultivasi Mi fa, pada 1976 ketika berusia 80 tahun lebih mencapai kesempurnan di Kuil Danzhengram (1923-1980), lahir di Kabupaten Gongjue, Tibet, suatu hari di usia 57 tahun ia memberitahu muridnya mengatakan bahwa hidup dan matinya sudah bebas tak terikat, dan berpesan tidak perlu membacakan ayat-ayat suci setelah meninggal nanti. Seusai berkata ia pun mencapai kesempurnaan, jenazahnya di letakkan di dalam sebuah pot tembaga, 7 hari kemudian jasadnya menyusut 26 cm, dan ketika itu disaksikan oleh ribuan orang. Dan peristiwa ini pernah dimuat dalam agama Buddha Tibet.
Pada tahun yang sama, biksu Yadam dari Desa Riqu, Distrik Jiaju, Kabupaten Gongdang meningal dunia, tinggi badannya yang semula di atas 1.70 meter, 7 hari kemudian menyusut hingga 26 cm, dan jasadnya kini diletakkan di dalam sebuah pot tembaga.
Setelah kultivator mencapai kesempurnaan, muncul sarira yang berwana warni.
Pada tahun 1983, di mana setelah Buddha hidup Suerdon mencapai kesempurnaan di kuil Nian Long, Kabupaten Sida, tubuhnya juga menyusut hingga setinggi lengan, dan setelah dikremasi tampak Sarira yang beraneka warna.
Buddha hidup Aca di Kuil Yike, Kabupaten Daofu, berwibawa dan dihormati khalayak umum, mencapai kesempurnaan ketika berusia 60 tahun lebih tahun 1990, sebelum mencapai kesempurnaan ia mengenakan jubah Dharma, kedua tanganya merapat, sepasang kakinya bersilang, duduk bermeditasi dan meninggal dengan tenang. Beberapa hari kemudian jasadnya menyusut, mahkota 5 Buddha di atas kepalanya sudah jatuh di atas pundaknya, dan ketika dikremasi, di angkasa muncul pelangi yang beraneka warna, dan mengeluarkan berbagai suara. Peristiwa ini disaksikan sendiri oleh biksu Luowu dan lainnya.
Lama Aradonchi penduduk Wengda, Kabupaten Seda. Sejak kecil menganut agama Buddha, mencapai kesempurnaan pada 7 Maret 1992 silam, 7 hari kemudian, jasadnya menyusut 1 zhou (1 siku), ketika itu disaksikan sendiri oleh biksu Luosang Qupeng, Jiayang Luozhu dan lainnya, dan saat dikremasi, tampak pelangi-pelangi bertaburan di angkasa, menyalakan sejumlah besar sarira yang berwarna warni, yang sebagian besar didominasi warna putih.
Buddha hidup Cairi, penduduk kabupaten Seda, Provinsi Sichuan, kepala biara kuil Jiao-e, semasa hidupnya memiliki keajaiban yang kebal terhadap petir dan kegaiban lainnya, mencapai kesempurnaan pada tahun 1995, dalam usia 61 tahun, 3 hari kemudian jasadnya menyusut setinggi 1 siku, ketika itu bangsa Han dan kerabat yang datang melayat diluar dugaan menjadikan jenazah itu sebagai patung Buddha.
Buddha hidup Luozhu wang bo, penduduk kabupaten Seda, provinsi Sichuan, adalah seorang kepala biara Kuil Luoruo, semasa hidupnya pernah bertemu dengan hal-hal gaib. Pada Oktober dalam almanak Tibet tahun 1996 mencapai kesempurnaan di Kuil Luoruo, Kabupaten Seda dalam usia 70 tahun lebih, ketika mencapai kesempurnaan sepasang tangannya bersilangan di dada, 7 hari kemudian jasadnya menyusut seperti wujud anak-anak, dan sebelum dikremasi sendinya tetap lentur, bisa dengan mudahnya mengambil alu (suatu pentungan dari kayu untuk memukul manik-manik) dari tangannya. Ketika dikremasi matanya menyembul dari bara api, lalu tampak beberapa sarira, peristiwa ini diceritakan oleh Buddha hidup Dunke.
Selain itu, Buddha hidup Su lang Dunzhu juga menceritakan, bahwa ketika gurunya wafat, di tempat meditasinya terus terdengar suara ganjil dan cahaya yang berkilauan, kerasnya suara, boleh dikata menggetarkan langit dan bumi, dan terakhir hanya meninggalkan sarira yang berharga.
Baik kultivator Mijiao dari mazhab apa pun, setelah mencapai taraf yang tinggi dalam kultivasi Mi Fa, di mana saat menjelang ajal, akan tampak fenomena menjadi pelangi. Jasmaninya bisa menjelma menjadi segaris pelangi, lalu terbang ke langit, masuk ke dalam istana yang tak terhingga. Fashen pelangi adalah tubuh kultivator dalam kultivasi Mizhong yang tubuhnya akan terus memancarkan cahaya setelah meninggal dunia, di tengah cahaya tersebut tubuhnya akan terus menyusut hingga lenyap, terakhir hanya meninggalkan kuku-kuku jari dan rambut. Bagi yang belum mencapai kesempurnaan itu, jasmaninya akan menyusut sampai pada taraf tertentu, dan tubuh yang tertinggal akan menjadi keras laksana baja.
Kultivator tidak heran jika orang awam tidak percaya
Di mata orang awam kedengarannya memang sulit dipahami, namun bagi kultivator, tidak sulit untuk memahaminya. Melalui kultivasi sepanjang tahun, di dalam tubuh kultivator telah terhimpun energi yang maha besar, di saat menghadapi kematian, energi ini mengubah jasmani menjadi cahaya awal pembentukan fisik, rupa fisik melarut dalam cahaya, kemudian lenyap sama sekali.
Karena cara kultivasi yang berbeda, maka proses menjadi pelangi-nya kultivator juga akan muncul fenomena yang tidak sama. Ada 2 fenomena yang agak umum, yaitu :
Pertama, saat menjelang ajal, kultivator minta tempat tersendiri, dan jangan menyentuh jasadnya setelah 7 hari kematiannya. Di dalam kamar akan dipenuhi dengan cahaya seperti pelangi yang unik. Di hari ke-8, orang-orang membuka kamarnya, tampak jasad sang kultivator sudah lenyap, hanya meninggalkan rambut dan kuku. Fenomena lainnya juga ingin menyendiri, mengizinkan murid yang diwariskanya sendiri berada di sisi, lalu kultivator meditasi seperti biasa, tubuhnya mengalami pembakaran sendiri, dan segaris pelangi lalu meluncur ke langit.
Manusia terus menyelidiki kitab Buddha dalam pengetahuannya sendiri, kitab Buddha berkaitan dengan ilmu pengetahuan sosial, antropologi, biologi, fisika, astronomi, psikologi dan sejumlah besar bidang ilmu pengetahuan, adalah sebuah bidang yang menyingkap misteri kehidupan. Juga merupakan sebuah bidang yang dapat membenturkan api peradaban yang baru, sekaligus sebuah proyek yang membuat zaman-nya kejayaan teknologi.
/hmm masak tuh jelmaan budha beneran /hmm